Ramadhan Side #1: Tilawah atau Muroja’ah?

Juni 18, 2020 Forum Tarbiyah 0 Komentar



 

Hilmi keluar dari kamar sambil membawa mushaf biru kesayangannya.  Ramadhan hari kesepuluh, dan ia senang karena rumah sudah kembali ramai dengan kecerewetan Nida yang baru pulang liburan. Tambahkan kerusuhan Dzaki yang tiba-tiba menginap sejak semalam, rasa-rasanya ia akan menghabiskan lima hari terakhirnya di rumah dengan menyenangkan.

Omong-omong, di mana kedua tom and jerry itu sepagian ini? Hilmi melirik jam dinding di ruang tengah saat sudah sampai di lantai bawah. Sudah pukul 9  lewat. Waktunya mereka setoran pagi setelah tadarus sehabis subuh.

Harusnya ia bisa menemukan Nida tertidur masih dengan mukena lengkap di sudut mushola, atau Dzaki yang asik main game di sofa ruang tengah. Di mana mereka? Hilmi mulai mencari keduanya di sekeliling rumah. Bunda dan Ayah sudah pergi sehabis subuh untuk menemui rekan kerja Bunda di kota sebelah, hingga seluruh aktivitas rumah sampai ashar sudah dialihtugaskan kepadanya.

Mereka berdua jelas tidak ada di kamar, karena hanya ia yang naik ke lantai atas setelah selesai tadarus. Ia berjalan menuju taman belakang. Matanya menangkap dua pasang sandal yang berada di bawah tangga paviliun.

Alis Hilmi terangkat sebelah. Paviliun? Really? Mau apa kedua santri akhir Ruha itu setelah bebas dari pondok kemarin sore? Hilmi bergegas menuju paviliun yang menjadi perpustakaan serta berfungsi sebagai markas besar mereka jika para sepupu sedang berkumpul.

Tak ada suara terdengar dari depan pintu. Nggak mungkin juga lagi pada  asik baca, kan? Kalo Nida sih mungkin-mungkin aja. Tapi Dzaki? Biang kerok satu itu kan nggak suka baca. Hilmi perlahan membuka pintu dan menemukan pemandangan ajaib di sofa sudut.

Ujung bibirnya berkedut melihat posisi adik dan sepupunya itu. Nida dan Dzaki tampak serius menonton sesuatu di laptop, dengan earphone masing-masing satu di sebelah telinga keduanya.

“Nid! Gedein lagi volumenya. Masa musik latarnya lebih kenceng dari dialog? Nggak kedengeran lagi ngobrolin apaan.”

“Berisik! Emang begini file-nya. Udah paling gede ini suaranya. Dibilangin juga tadi pake speaker aja malah ngeyel. Lagian di rumah cuma ada Bang Mi ini. Paling kalo ketahuan, Bang Mi bakal nimbrung nonton,” omel Nida setelahnya.

“Lagi pada nonton apaan sih? Nggak ngajak-ngajak lagi.” Suara Hilmi membuat Nida dan Dzaki menyadari eksistensinya.

Keduanya hanya memasang cengiran tak bersalah. Hilmi sudah sampai di dekat mereka dan melihat apa yang sedang ditonton keduanya.

“Alif Lam Mim? Serius, kalian baru nonton?” tanya Hilmi tak percaya. Film genre action dengan tema konspirasi itu memang sedang hangat di kalangan anak-anak santri. Angkatan 7 bahkan membuat nobar di rumah Akhyar tak lama setelah mereka lulus.

“Biasa aja kali kagetnya, Bang. Iya kita baru pada tahu malah. Nggak usah disamain sama anak Sevareichen yang udah ‘melihat dunia luar’ sebulan lebih abis lulus,” sahut Dzaki sebal yang disambut tawa kecil Hilmi.

“Eh, udah pada dhuha, belom? Udah jam sembilan lewat ini. harusnya kita udah pada duduk rapi di mushola buat setoran—“

Perkataan Hilmi terhenti dengan gestur tangan Nida yang kembali asik menonton. “Tunggu, Bang. Nanggung. Limabelas menit lagi.”

Begitu saja lalu keduanya sibuk berkomentar tentang film yang ditonton. Nida memekik ngeri melihat adegan dalam film, sedangkan Dzaki mengomel karena menurutnya plot twist film itu sangat tak tertebak. Limabelas menit, dan keduanya mengakhiri tontonan dengan jeritan frustrasi penuh sebal.

What was happened? Itu siapa? Alif kenapaaa?”

“Apa-apaan nih! Itu bukan ending!”

“Dibilang open ending aja nggak bisa. Entah deh, memang bakal ada sekuelnya kali makanya akhirnya nge-gantung begitu,” ujar Hilmi menanggapi.

“Betewe, kalian nonton yang versi extended bukan?” tanya Hilmi lagi.

“Emang ada yang versi disensor?” Dzaki balik bertanya.

“Kalo kalian paham semua ceritanya Lam, berarti itu versi extended.”

Melihat tatapan penasaran bercampur dengan permohonan dari kedua mata di depannya, Hilmi tahu  kalau keduanya perlu menonton ulang film dengan plot menantang itu sekali lagi.

“Sekarang pada wudu dulu, sholat dhuha, terus setoran. Baru kita nonton ulang di lantai atas.”

Tak perlu diberitahu dua kali, keduanya sudah melesat pergi ke rumah utama. Hilmi menunggu Nida dan Dzaki bersiap sambil mengulang halaman yang akan ia baca. Sebelum jarum jam menunjukkan pukul sepuluh tepat, mereka sudah menyelesaikan agenda setoran ziyadah hari ini.

Dzaki bergegas ke kamarnya tanpa disuruh. Sedangkan Nida dan Hilmi menunggu Di balkon lantai dua yang menghadap ke taman belakang.

“Bang Mi tilawah mandiri juga, ya?” tanya Nida saat melihat abangnya itu sibuk memeriksa ulang tanda di mushaf kesayangannya.

“Hmm? Iya dek. Seenggaknya harus dapet tiga kali khatam selama puasa ini.”

Muroja’ah mandiri juga jalan?”

Hilmi mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Nida. “Lah, yang barusan disetorin kan termasuk muroja’ah mandiri?”

“Bukan itu maksud Nida. Abang punya target harian muroja’ah mandiri kan? Di luar yang disetorin tiap pagi?”

Hilmi hanya mengangguk menanggapi.

“Sebenernya buat penghafal Qur’an nih. Lebih penting muroja’ah atau tilawah sih? Kalo pas ramadhan begini, apalagi dengan tuntutan mutaba’ah di pondok, Nida ngerasa kayaknya tilawah itu ngeberatin deh. Bukannya kita lebih wajib mengulang hafalan ya?”

Hilmi membenarkan posisi duduknya lalu meletakkan mushaf di meja kopi di sudut balkon.

“Dua-duanya sama aja sebenernya. Sama-sama interaksi kita bareng Qur’an kan? Dan ya, dari segi urgensi muroja’ah lebih penting dari tilawah. Tapi bukan berarti kita bisa mengabaikan tilawah sama sekali. Tilawah itu tetap penting, toh sebelum mulai ngafal halaman baru kita pasti tetep baca dulu kan? Nggak langsung ngafalin gitu aja?”

 

“Kalau Muroja’ah berfungsi membantu kita fokus mengulang hafalan yang kita punya, tilawah bisa ngebantu kita untuk lebih familiar sama halaman-halaman yang belum kita hafal. Kalo buat yang udah khataman kayak abang, tilawah ngebantu banget buat muroja’ah mandiri dengan waktu yang terbatas. Karena nggak semua orang bisa baca 5 juz tiap hari dan khataman tiap minggu, tilawah membantu ngejaga hafalan Al-Quran walau nggak bener-bener ngebaca lewat hafalan.”

“Menurut abang, tilawah dan muroja’ah itu sama-sama penting sih. Jadi paling nggak kita harus punya target harian mandiri buat keduanya.”

Penjelasan panjang lebar Hilmi membuat Nida mengangguk mengerti. Adiknya itu tampak menuliskan sesuatu pada post it yang ada di mushafnya.

“Betewe, Nid. Tilawah kamu bulan ini udah sampai mana?”

Hilmi sudah bersiap sembunyi dengan menjadikan meja kopi sebagai tamengnya saat Dzaki datang dengan suara riang sambil membawa laptop.

“Jadi, apa bedanya yang versi extended sama yang di-cut Bang?”

Penulis: Annisa Alya Adzkya

  Hilmi keluar dari kamar sambil membawa mushaf biru kesayangannya.   Ramadhan hari kesepuluh, dan ia senang karena rumah sudah kembali rama...

0 Komentar: