Hikmah yang Hilang

Maret 24, 2020 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Source : Tribunnews.com



Halo apakabar teman teman semua? Ga kerasa udah hari ke-7 kita #dirumahaja, semoga keberkahan yang Allah SWT berikan setiap hari nya dapat selalu kita syukuri dan nikmati.

#dirumahaja bagi saya yang suka di rumah itu jadi surga dunia. Ngomong-ngomong soal hari ke-7, walaupun suka dirumah, layaknya manusia biasa pasti ada rasa jenuh menghampiri. Saya memutuskan ngobrol sama kakak saya yang ada di Jakarta. Saya ceritakan perasaan jenuh saya, dari obrolan itu saya dapatkan banyak hal. Salah satu nasehat nya “Harta yang hilang dari seorang muslim sekarang ini adalah hikmah” dia menambahi “Setiap hari yang ada di kepalaku adalah mencari-cari hikmah dibalik ini semua, karna kalo ga gitu kita akan mudah menyalahi keadaan dan jadi ga bersyukur”

Hal itu coba saya praktekkan, sampai saya buat list apa aja hikmah yang saya dapat dari #dirumahaja. Salah satu nya mengistirahatkan kaki saya yang baru saja terkilir 2 minggu lalu. Satu pekan sebelum libur saya tidak masuk kelas karna itu, satu minggu berlalu saya sudah bisa berjalan tapi belum seperti normal. Setelah berkonsultasi ke banyak orang, katanya kaki ini bisa benar-benar pulih jika diistirahatkan 1 bulan.

Disitu yang dipikiran saya cuma gimana ke kelas dengan keadaan tiap hari harus jalan dari mahallah ke kelas yang jarak nya ditempuh dalam 20 menit. Qadarullah, sehari setelah itu diumumkan ada libur 2 minggu. Saya gak tau lagi gimana cara bersyukurnya sama Allah. Momentnya pas. Alhamdulillah.

Setelah memikirkan banyak hikmah lain-nya tiba-tiba kejenuhan saya jadi hilang. Beliau juga bilang ditelfon “al-wajibat aktsar minal awqat” yang artinya kewajiban atau tugas-tugas kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita punya.

Justru moment #dirumahaja ini membuat kita berfikir, sebenarnya kita itu tidak sedang diberi waktu luang lebih, tapi kita sedang disadarkan betapa banyak tugas yang kita punya sampai waktu yang ada ga cukup untuk menyelesaikan itu semua.

Tugas yang paling kita lupa adalah mengingat mati atau mempersiapkan akhirat kita. Lagi scroll timeline di Instagram sampai ada yang buat poster isinya “Kemungkinan kita meninggal karena Corona satu persen, sedangkan kemungkinan kita meninggal setiap saat adalah seratus persen”

Dalam hadis dikatakan ''Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.'' (HR Ibnu Majah)

“Dan, barang siapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan didalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaanya (dengan tunduk)”. (HR. Ibnu Majah).

Sampai diakhir telfon kaka saya nyeletuk “Kalau misal nya kita sekarang meninggal karna wabah Corona ya berarti kita diitung syahid, tapi kalo kita meninggal karna stress atau jenuh karena mikirin gatau mau ngapain, nah itu perlu jadi peringatan buat kita”

Seminimal mungkin yang bisa kita lakukan sekarang adalah membiasakan mulut kita untuk berzikir kepada Allah. Dan zikir yang paling bagus adalah “La Ilaha illaAllah”. Pernah dalam satu kajian seorang Ustadz berkata, “Ketika kita mati, otak kita sudah tidak berfungsi, jadi yang menggerakkan mulut kita untuk mengucap kalimat La ilaha illaAllah adalah karna mulut kita yang terbiasa mengucap itu”.

“Whenever you are alone, remember Allah has sent the whole world away, so that it’s only you and Him”. -Mufti Menk

Semoga moment #dirumahaja ini ada banyak hikmah yang bisa kita ambil.

Wallahu a’lam bisshowab

Penulis: Inas Syarifah

Source : Tribunnews.com Halo apakabar teman teman semua? Ga kerasa udah hari ke-7 kita #dirumahaja, semoga keberkahan yang Allah SWT ...

0 Komentar: