Malam yg Bercerita di Jantung Kota

Februari 21, 2020 Forum Tarbiyah 0 Komentar


"Hai bapak penjual karpet" sapaku dari jendela flatku, dalam hati saja. Apa kau tak kedinginan dengan sehelai gamis dan syal yg melilit lehermu? Padahal udara nyaris membuat tubuhku menggigil, kau menunggu karpet2mu dibawa pulang lalu kau mengantongi uang untuk anak2mu yg menunggumu sejak tadi di rumah? Benar begitu? sini kubantu berteriak menawarkan daganganmu, karena sejak kemarin aku memperhatikanmu jarang sekali kau menawarkanya pada orang2 seperti halnya penjual di toko2 yg tak lelah meneriaki siapa saja yg melewati tokonya supaya mereka membeli apa yg si penjual tawarkan, ah aku paham seusiamu pak, harusnya kau duduk bersama anak cucumu dirumah, melihat mereka bermain,memijatmu,bercanda tawa dengan mereka.

Hai bapak penjual sandal, bagaimana daganganmu, sudah berkeliling kemana saja? Tapi kulihat sandal2mu masih menumpuk penuh diatas gerobak.

Ah aku lupa tak kusapa ibu yang menunggangi kuda, mengelilingi komplek mencari barang2 bekas,tapi aku ingin mengajukan mmm... entah cocok disebut sebuah pertanyaan atau sebuah pernyataan. Bu, hidup ini keras bukan?

Hai adek yg menawarkan sekotak tisu pada siapapun yg kau jumpai, kau marah jika yg kau paksa untuk membeli tisumu tak menghiraukanmu. Dik, siapa yg mengajarkanmu begitu?

Hai pak, yg setiap melintas depan rumahku kau menopang sebelah tubuhmu dengan tongkat dan menyeret-nyeret kakimu, lalu meminta2 berharap rasa kasihan dari orang2, padahal kemarin sore ditempat yang lain, kau berjalan gagah, kemana tongkat penopang itu?

Hai bapak pembawa tong sampah dan sapu, kau membersihkan teras2 toko yg nyatanya sudah bersih, lalu kau meminta upah pada si pemilik toko, jika mereka membayarmu dengan kepingan2 uang logam, kau pergi menyeret tong sampahmu dengan geram.

Ah siapa aku? Dapat hak dari mana sehingga aku bisa menghakimi mereka?bukankah aku si pengamat dari jendela rumah yg terbuka ketika malam saja?.

Penulis : Melinda Silviani

"Hai bapak penjual karpet" sapaku dari jendela flatku, dalam hati saja. Apa kau tak kedinginan dengan sehelai gamis dan syal yg...

0 Komentar: