Cinta Tumbuh Karena Sering Bertemu

Januari 10, 2020 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Saya percaya cinta tumbuh karna sering bertemu. Bukan, bukan cinta pada pandangan pertama. Kalimat "Cinta tumbuh karna sering bertemu" saya dapatkan dari guru SMA saya dulu. Entah kenapa saat itu kata-kata itu seperti tidak bisa lepas dari pikiran saya. Sampai sekarang pun juga. Dulu saya pikir kata-kata itu cuma berlaku untuk perasaan dengan lawan jenis. Nyata nya, kata-kata itu bisa ditafsirkan lebih luas lagi.

Persepsi “Cinta pada pandangan pertama” kayanya udah ga jaman lagi, alih-alih kata-kata ini bisa jadi salah. Kita sepakat kata Cinta dan Suka mempunyai makna yang berbeda. Menurut KBBI cinta diartikan (suka sekali; sayang benar) sedangkan suka diartikan (girang hati; senang hati). Perbedaan nya adalah definisi cinta selalu diartikan dengan sesuatu yang lebih dan jangka panjang.

Rasa yang tumbuh dari pandangan sering kita jumpai, contoh sederhana nya ketika melihat barang baru yang menarik di sebuah toko, langsung terpikat, tapi setelah melihat barang lain rasa ketertarikan pada barang pertama pindah ke barang kedua. Apakah rasa ini pantas dikatakan ‘cinta pada pandangan pertama’ atau ‘suka pada pandangan pertama’? Jawaban nya cukup dijawab dalam hati.

Melihat fenomena fan girling zaman sekarang yang masih suka bikin geleng-geleng kepala jadi cerita kenapa saya mau nulis ini. Mulai dari pertanyaan “Kenapa banyak anak sekarang yang cenderung hedon?” “Kenapa lagu anak zaman sekarang udah ga ‘sekanak-anak’ dulu?” atau “Kenapa trend hijab sekarang kayak gini dan gitu dan diikutin banyak orang?”

Jawaban nya se-simple “Yang dilihat ya itu”. Pernah dalam satu acara Talk tentang Bedah Film Ayat-ayat Cinta 2, yang pasti nya menghadirkan langsung Penulis nya yaitu Kang Abik, beliau pernah ditanya soal karakter tokoh Fahri yang sangat sempurna dalam novel tersebut, mengapa seolah-olah Fahri ini tidak ada cacat nya sama sekali, beliau menjawab “Kalau sosok Fahri ini ada nya pada saat zaman sahabat dulu, dia pasti jadi rangking ke seratus sekian” itu artinya sosok panutan seperti seorang Fahri ini begitu sedikit dizaman sekarang, kita lebih banyak diperlihatkan yang sebaliknya, maka sosok Fahri ini seolah-olah sangat sempurna padahal nyata nya jika dibanding sahabat zaman dahulu dia belum tentu dianggap sempurna. Sampai disini paham?

Faktor terbesar yang membuat rasa cinta tumbuh adalah seringnya perjumpaan. Sebetulnya sederhana, tidak banyak usaha yang dilakukan. Hanya tentang pembiasaan saja. Dulu sebelum memutuskan belajar ke negeri jiran ini saya ga pernah membayangkan akan suka dengan Nasi Lemak, mendengar nya saja sudah terbayang kalori nya banyak. Tapi lama kelamaan, karna tiap pagi yang dimakan itu ya mau gamau jadi bilang suka.

Kalau mendengar kisah sahabat-sahabat Rasul SAW pada jaman dahulu, mendengar keteguhan dan ke-istiqomahan mereka saat beribadah ya jangan heran, yang mereka lihat contoh nya langsung depan mata yaitu Baginda Rasulullah SAW. Pembiasaan itu bisa kok kita bangun sendiri, lagi-lagi ‘better said than done’ sih, tapi ya kodrat nya begitu, surga hanya milik orang-orang yang sabar.

Kalau mau kecintaan kita terhadap Al-Qur’an bertambah, maka kita harus sering-sering menjumpai surat cinta dari Allah ini setiap habis solat, lagi nunggu bus, lagi nunggu orderan makan, atau nunggu dosen datang. Kalau mau menumbuhkan rasa cinta pada satu mata kuliah ya harus sering-sering bergelut dengan buku-buku, berdiskusi yang berkaitan dengan mata kuliah itu, ataupun sering berkonsultasi dengan dosen pengajar mata kuliah itu. Bukan kah Allah lebih menyukai amalan yang kecil namun berterusan daripada amalan yang besar tapi terputus?

Maka mendefinisikan cinta bukan lagi soal sekejapan pandangan pertama, tapi soal menumbuhkan nya dengan banyak nya perjumpaan.

Penulis : Anonymus

Saya percaya cinta tumbuh karna sering bertemu. Bukan, bukan cinta pada pandangan pertama. Kalimat "Cinta tumbuh karna sering bertemu...

0 Komentar: