Perempuan Independen, untuk Siapa?

Desember 06, 2019 Forum Tarbiyah 1 Komentar

sumber gambar : http://picpanzee.com/tag/wanitasholehahbidadarisurga


Ada banyak perempuan yang berlomba-lomba menjadi independen. Mereka kini telah berada dalam titik di mana ia merasa tak lagi membutuhkan siapapun dalam hidupnya. Tidak keluarga, tidak pasangan hidup, apalagi pandangan masyarakat. Ia merasa cukup dengan independensinya, toh ia bisa hidup bahagia dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Tanpa campur tangan wali atau seorang kekasih hati. 
Merasa bebas pergi ke mana saja dan kapan saja. Tanpa harus meminta izin atau memberitahu siapapun. Bebas bergaul dengan siapa saja tanpa batasan. Bebas mengeksplor banyak hal tanpa takut. Bebas menentukan apa saja yang berkaitan dengan dirinya.
Tendensi dan motivasi menjadi independen, bagi seorang perempuan bisa berupa banyak hal. Pembuktian diri, tidak ingin dianggap lemah, lelah dengan semua anggapan meremehkan bisa jadi adalah beberapa di antaranya. Its okay, Girls. Kamu berhak jadi independen. Kamu berhak jadi kuat. 
Namun titik ini, semakin lama akan menarikmu pada keadaan yang dipandang negatif oleh standar dan norma yang berlangsung di masyarakat. Kamu tidak ingin diatur oleh siklus hidup yang seolah hanya lahir-sekolah-kuliah-kerja-nikah. Kamu ingin bebas, mencari tahu banyak hal di luar sana. Tak lagi peduli pada apapun pendapat orang lain tentang dirimu.
Iya, aku tahu. Buat apa menjadikan orang lain sebagai standar untuk hidup kita sendiri? Untuk apa mencari-cari kebahagiaan dari pandangan dan pendapat orang banyak? Ya, mungkin tentang standar kebahagiaan dan pandangan orang lain ini kamu benar.
Meski begitu, tidak ada hal yang benar-benar bebas di dunia ini. Ada sebuah pepatah yang mengatakan, "semua hal boleh dilakukan dalam cinta dan perang." Dan kita juga tahu, ada berapa banyak tragedi yang terjadi akibat pembebasan dan pembenaran dari dua hal tadi.
Tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas tanpa batas. Aturan dan batasan ada, di antaranya adalah untuk menjaga kita agar tetap aman dan tidak tersesat lebih jauh. Dan Islam lebih dari sekadar identitas agama. Islam adalah pandangan dan cara hidup.
Pernah tahu konsep fitrah? Dalam Islam, setiap manusia diciptakan sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Mulai dari fitrah ketuhanan hingga fitrah yang mempengaruhi posisi dan tugas kita sebagai makhluk sosial.
Apa sih fitrah itu? Sederhananya, fitrah adalah sesuatu yang membuat kita selalu kembali pada-Nya. Merasa membutuhkan-Nya. Merasa kita memang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Seperti halnya juga fitrah manusia yang mencari sesuatu yang agung untuk dijadikan sandaran sebagaimana kisah Nabi Ibrahim a.s dalam Al-Quran.
Allah juga memberikan kita fitrah secara fisik. Perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan adalah salah satunya. Kemampuan berpikir logis atau mengutamakan perasaan juga termasuk di antaranya.
Pernah kepo nggak sih, kenapa Allah menciptakan cewek itu punya fisik yang nggak terlalu kuat? Atau kenapa para cowok lebih sering berpikir logis sehingga seringkali nggak peka? Kenapa setiap dari kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing?
Karena Allah ciptakan kita untuk saling menyempurnakan. Itulah kenapa manusia menjadi makhluk sosial. Kita saling membutuhkan satu sama lain.
Seperti itu pulalah Allah menciptakan kita berbeda-beda. Ada lelaki ada perempuan. Keduanya pun punya peran dan kewajiban yang berbeda. Para lelaki diberikan qawwam di atas perempuan dengan nafkah dan berbagai keutamaan. Sedangkan wanita punya peran menjaga peradaban. Bagaimana bisa? Karena keluarga adalah unit paling kecil dari sebuah negara, dari sebuah peradaban. Dan 'jantung'-nya keluarga adalah seorang ibu. Ibu yang mendidik dan mempersiapkan generasi selanjutnya.
Terinspirasi dari salah satu kata mutiara arab : "Ibu adalah sekolah pertama yang paling utama. Jika kau mempersiapkan seorang ibu dengan baik, maka kau telah menyiapkan generasi berkarakter mulia."
Jangan kira kalau mendidik generasi selanjutnya hanya menetap di rumah dan tidak meng-upgrade diri lagi setelahnya. Seakan-akan menikah dan menjadi seorang ibu adalah sebuah final stop yang mematikan kebebasan dan kebahagiaan seorang perempuan.
Tidak begitu. Kamu bisa tetap mengembangkan diri, menambah ilmu dan relasi sambil terus menjalankan peran sebagai seorang ibu. Sebuah generasi yang baik akan lahir dari para ibu yang berkualitas.
Islam menempatkan perempuan dalam posisi tertinggi, tidak hanya menjaga peradaban dan generasi namun juga memiliki kemuliaan yang tak tertandingi. Bahkan, Rasulullah s.a.w saat ditanya seorang sahabat, "Siapakah orang yang harus kumuliakan setelah Allah dan Rasul-nya, Ya Rasulullah?" Maka beliau menjawab, "Ibumu." hingga tiga kali. Tidak pernah ada dalam sejarah peradaban Islam seorang perempuan didiskriminasi sehingga memaksanya menjadi 'independen' dan melepaskan diri dari lembaga keluarga. Islam memberi tempat dan porsi yang amat luas bagi seorang perempuan untuk berperan menjaga peradaban.
Maka, dari sudut manakah kita harus cemburu pada segala 'keutamaan' milik kaum lelaki?
Mungkin, beberapa dari kita termotivasi menjadi independen agar tak lagi dipandang sebelah mata, agar tak lagi menggantungkan harap dan kebahagiaan semu pada orang yang tidak tepat, agar bisa tetap berdiri tegak meski disakiti berkali-kali. Sebuah rasa yang membuat kita ingin membuktikan bahwa kita, perempuan bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Its okay, Girls. Jadilah perempuan yang independen. Belajarlah setinggi mungkin, kejarlah impian-impian besar milikmu, mandirilah secara finansial untuk memenuhi kebutuhanmu. Tapi ingat, jangan lakukan semua hal itu hanya untuk menyaingi para lelaki. Mereka bahkan takkan peduli apa yang kamu lakukan untuk terus memperbaiki diri. Lantas, apa gunanya 'membuktikan diri' di depan mereka?
Jangan pula lakukan semua itu hanya untuk pembuktian diri. Jangan lakukan semua hal itu untuk menghindari peran pentingmu menjaga generasi. Kamu boleh jadi kuat, kamu boleh jadi independen. Tapi jangan sampai ambisi membuat dirimu melupakan fitrah seorang wanita yang sejatinya lembut, senang dimanja dan membutuhkan sandaran.
Jadilah perempuan independen untuk dirimu sendiri. Untuk mempersiapkan bekal mendidik generasi. Jadilah perempuan independen yang tidak menggantungkan kebahagiaan dan harapan pada sembarang orang. Gantungkan kebahagiaanmu pada Allah saja, yang tak akan mengecewakan atau mengkhianati semua jerih payahmu selama ini.
Duhai, perempuan independen, lekaslah kembali! Peran pentingmu telah menanti.

Penulis : Alya Adzkya

sumber gambar : http://picpanzee.com/tag/wanitasholehahbidadarisurga Ada banyak perempuan yang berlomba-lomba menjadi independe...

1 komentar:

  1. Wanita yang memahami, apa dan bagaimana harus berperan dengan bebas dalam memilih perannya, tanpa harus meminta untuk semua tahu apa yang sudah dilakukan.

    BalasHapus