Pembelajar, Bukan Sekadar Pelajar

September 27, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar


Ada sebuah kisah menarik antara seorang guru dan murid-muridnya yang mana suatu saat, sang guru menyampaikan sebuah nasehat yang kurang lebih berbunyi: “Janganlah malas seperti orang Jepang!”. Tidak, guru ini bukannya salah ucap. Kita semua tidak bisa menafikkan betapa tinggi etos kerja, betapa cekatan dan betapa disiplinnya orang Jepang, menjadikan negaranya negara maju yang menjadi cermin kesuksesan bangsa-bangsa lain, bukan hanya di Asia tapi di seluruh dunia.
Maka jika kita melihat dimensi nilai yang terkandung dalam nasehat ini, bukan hanya sang guru sekadar meminta muridnya untuk tidak bermalas-malasan, tetapi juga agar memiliki standard yang tinggi dalam menjadikan sesuatu acuan keberhasilan! Kita boleh saja memiliki acuan tertentu dalam memenuhi tujuan duniawi, karena bagaimana pun kita tetap tidak boleh ‘kalah’ di dunia tanpa melupakan bahwa ada kehidupan yang lebih indah dan abadi. Dan sejatinya seorang muslim, maka suri tauladan dengan standard terbaik yang telah Allah jamin kepada kita melalui firman-Nya adalah Rasulullah saw.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab : 21 )
Dan pembahasan tentang rasa malas sudah dibahas dalam bab lain, ‘komplit’ dengan solusinya yang merupakan satu paket super-lengkap! Yaitu sebuah do’a yang insya Allah kita baca setiap pagi dan petang sebagai bagian dari al-Ma’tsurat.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya yang berjudul Mengapa Kita Kalah di Palestina? menuliskan bahwa bangsa Yahudi mampu bekerja selama 20 jam per hari. Beberapa tokoh dunia seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg mengaku menghabiskan waktu untuk tidur per harinya sekitar 7-8 jam, sedangkan tokoh lain seperti CEO Apple Tim Cook menghabiskan waktu hanya sekitar 3 jam untuk tidur. Terlepas dari berapa banyak waktu yang digunakan untuk beristirahat dan bekerja, poin yang kita dapat disini adalah bagaimana mengontrol diri sendiri dalam memanfaatkan waktu yang sudah Allah karuniakan kepada kita agar selalu produktif dan penuh berkah. Mengutip dari Ust. Adian Husaini yang dalam suatu kuliahnya juga pernah mengatakan bahwa yang menyebabkan kita kalah adalah bukan karena musuh yang hebat, melainkan karena diri kita sendirilah yang lemah.
Yang ingin saya bahas selanjutnya adalah sesuatu yang menarik mengenai kata ‘pembelajar’ dan ‘pelajar’. Jika kita tarik dari akar katanya maka akan muncul perbedaan yang mendasar. Kata ‘pelajar’ sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah anak sekolah, sedangkan ‘pembelajar’ adalah orang yang mempelajari. Maka, dapat kita pahami bahwa gelar pembelajar bersifat lebih abadi dan ‘adil’, sedangkan gelar pelajar hanya bisa didapat oleh orang-orang yang mampu mendaftarkan diri ke sebuah institusi pendidikan tertentu dan gelar tersebut kandas ketika telah menyelesaikanya studinya. Menjadi seorang pelajar yang juga merupakan pembelajar akan menjadi pilihan yang paling opsional bagi seorang muslim, karena sejatinya kehidupan itu sendiri salah satunya adalah pembelajaran tiada henti.
Terakhir yang paling penting dan akan sangat fatal jika dilupakan adalah pembelajaran mengenai adab. Imam Malik ra. pernah berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Adab tentang mempelajari ilmu, menghadiri majelis, menghormati guru, dan memanfaatkan ilmu itu tersebut. Islam sendiri sangat menekankan tentang bagaimana bersifat adil terhadap ilmu; menempatkan ilmu pada tempatnya. Dan contoh nyata yang telah Allah abadikan dalam Al-Qur’an untuk kita renungkan dan ambil hikmahnya adalah kisah Bani Israil.

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Jumu’ah : 5)
Semoga Allah senantiasa menjaga kita agar teguh menjadi pembelajar muslim yang beradab dan dimudahkan dalam menuntut ilmu. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Penulis : Annisa Shabrina

Ada sebuah kisah menarik antara seorang guru dan murid-muridnya yang mana suatu saat, sang guru menyampaikan sebuah nasehat yang kurang l...

0 Komentar: