Look Back into the History

September 20, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar

sources:islampos
“Look beyond the eyes can see”
and “See the world for what it could be”

“Janganlah menyerah dalam memecahkan satu situasi. Namun, lihatlah pada apa yg kau mampu
lakukan lebih” inilah gaya berfikir seorang pemimpin, Muhammad Al-Fatih.

Nama aslinya Sultan Mehmed II. Ia dididik oleh para ulama sejak kecil. Ayahnya, Murad II
adalah seorang Sultan Empayar Turki yang keenam dan sudah punya misi tersendiri yang ia
rancangkan untuk anak laki-lakinya.

Jauh sebelum Murad II naik menjadi sultan negara Turki, ia telah menaruh perhatian besar
pada pendidikan anak-anaknya dalam ilmu agama dan akhlak. Ia pilih ulama-ulama terkemuka yang
ahli dibidangnya untuk membimbing anak-anak nya sedini mungkin. Jangan salah sangka, ulama-
ulama dizaman kesultanan dan kekhalifahan Islam adalah ulama polymath. Tidak sedikit dari
mereka yang pengetahuannya tidak terbatas pada satu bidang saja. Namun, pandai di bidang agama,
hafal alquran, bahkan, ahli di bidang ilmu lainnya. Yang menarik perhatian saya adalah, ilmu yang
mampu dikuasai para ulama saat itu adalah ilmu-ilmu rumit science, history, dan sastra. Beberapa
diantaranya: astronomi, kimia, teknik perang, dan ilmu kedokteran yang mereka pelajari dari kitab-
kitab bahasa asing dan mampu meneliti bagaimana ilmu-ilmu ini diterapkan dimasa sebelum-
sebelumnya. Tak heran, taktik peperangan Islam dizaman itu sangatlah mengesankan. Dan, ulama-
ulama inilah yang menjadi guru privat anak sultan Murad II saat itu.

Ada yang mengajar hanya untuk beberapa jam dan ada ulama khusus yang membersamai
mereka ke mana pun anak itu pergi. Mengajarkan ia berfikir akan arti dunia ini, dan apa misi terbesar
dalam hidupnya. Memotivasinya dengan cerita hebat rasulullah, serta, menanamkan jiwa ksatria
muslim pada dirinya. Kebiasaan inilah yang membangkitkan semangat sultan Mehmed II agar selalu
melihat kedepan dan merasa butuh untuk melakukan sesuatu, dan mempelajari ilmu-ilmu baru.
Sehingga, setiap waktu yang ia habiskan sangatlah produktif. Ia lebih dewasa menghadapi suatu
situasi dibanding anak seumurannya. Ia berani mengungkapkan opini dan ide. Matanya selalu
melihat kedepan dan berfikir, “apa yang mampu ia lakukan selanjutnya?”
Waktu berjalan dan hubungan sang ayah dengan sang anak sangat baik. Sultan Murad II
kerap mengunjungi anak-anaknya untuk mendidiknya secara langsung dan bertukar fikiran untuk membentuk pandangan hidup yang jelas bagi mereka. Sekaligus menanamkan semangat pada
anak-anaknya untuk menjadi panglima penakluk Konstatinopel terbaik, sebagaimana yang telah
dikatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Sultan Murad II pun kerap memberi ujian menantang
untuk anaknya ini. Ilmu tak cukup maksimal jika tak dicoba di medan lapang. Diumur 8 tahun,
Mehmed II berhasil menghafal seluruh Al-Quran. Setelah baligh, ia tak pernah meninggalkan shalat
tahajjud dan shalat berjamaah awal waktu. Shalat rawatib pun sudah menjadi kebiasaan hingga tak
pernah lupa mengerjakannya. Seringkali Mehmed II kecil diajak bertempur di medan perang. Diumur 6 tahun, ia telah diangkat menjadi gubernur. Dan diumur 12, ia diuji menjadi sultan
pemimpin negara.

Rasanya belum stabil ketika ia memerintah Turki di umur yang sangat muda. Tiba-tiba,
pemerintahan menghadapi situasi mencekam ketika musuh mendengar kabar terlantiknya seorang
bocah menjadi pemimpin negara, dan hubungan Mehmed II dengan para prajurit dan pemimpin
istana pun saat itu belum terlalu intens baik dan sehat.
Pada dasarnya kepribadian Mehmed II sudah sangat bagus. Ia berani dan punya misi, dan ia
meneladani sifat Rasulullah. Gurunya juga sudah menjamin keahliannya. Walaupun ia berumur 12
tahun, ia mampu mengontrol diri: visinya besar dan fikirannya matang. Namun, skill eksternalnya
nampak belum terasah se-profesional mungkin. Maka, setelah 2 tahun menjabat sebagai sultan,
ia diturunkan dan digantikan lagi dengan ayahnya.

Kegagalan ini ia jadikan sebagai langkah awal yang besar untuk melompat tinggi sukses dalam
memimpin. Maka, selama beberapa tahun ia habiskan waktunya membangun jaringan, koneksi
dengan para prajurit, penasihat, jenderal dan masyarakat. Memahami cerita Umar bin Khottob yang
selalu melakukan errands berpatroli ke rumah-rumah disaat malam hari, ia pun terinspirasi dan
melakukan hal yang sama. In disguise, ia melihat keadaan rakyat dan bertukar pikiran dengan
mereka. Interaksi dengan lingkungan adalah target self improvement eksternal nya saat itu.
Betapa keren dan terstrukturnya hidup Mehmed II, didikan pada self internalnya sudah
diasah sejak dini, keberanian dan teladan Rasulullah dan kesatria islam lainnya pun ada dalam
dirinya. Sejarah, bahasa, dan sastra pun adalah sumber ilmu komunikasi dan informasi berfikirnya.
Digabungkan dengan kemauan kerasnya, dalam umur kurang dari 17 tahun, Mehmed dapat
menguasai bahasa musuh dan Persia. Pun, dengan dalih bahwa sebagai Muslim kita wajib mempelajari agama dengan maksimal, ia kuasai Bahasa Arab dengan fasih, bagaikan bahasa ibunya
yang ia cakap sehari-hari.

Di tahap selanjutnya pun ia pelajari hubungan eksternal, bagaimana bernegosiasi dan
meyakinkan orang-orang yang berpengaruh di lingkungannya. Hingga pada akhirnya ia diangkat menjadi Sultan tetap, di saat umurnya yang ke 19 tahun. Di umur 21 ia lancarkan project besarnya
menaklukkan Konstatinopel dan disitulah ia ingin melihat, seberapa dekat ia dengan hadits Rasulullah:

كنا عند عبدِ اللهِ بنِ عمرو بنِ العاصِ، وسُئِلَ أيُّ المدينتيْنِ تُفتحُ أولًا القسطنطينيةُ أو روميَّةُ؟ فدعا
عبدُ اللهِ بصندوقٍ له حِلَقٌ، قال: فأخرج منه كتابًا قال: فقال عبدُ اللهِ: بينما نحنُ حولَ رسولِ اللهِ
نكتبُ، إذ سُئِلَ رسولُ اللهِ: أىُّ المدينتيْنِ تُفتحُ أولًا القسطنطينيةُ أو روميَّةُ؟ فقال رسولُ اللهِ: مدينةُ
هرقلَ تُفتحُ أولًا: يعني قسطنطينيةَ
“Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Ash dan beliau ditanya tentang mana
kota yang dibuka terlebih dahulu, apakah Konstantinopel ataukah Romawi? Maka beliau
meminta untuk diambilkan sebuah kotak, lalu beliau mengeluarkan sebuah kitab lalu
berkata: ‘Berkata Abdullah bin Mas’ud: Tatkala kami bersama Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menulis, tiba-tiba beliau ditanya: Manakah kota yang
terlebih dahulu dibuka, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?’. Maka beliau
menjawab: ‘Yang dibuka terlebih dahulu adalah kota Heraklius’. YaituKonstantinopel“.

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ
“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah
yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“.

Kemenangannya di Konstatinopel disambut dengan banyak pujian dan rasa syukur
kepada Allah, itulah kemenangan yang telah dinanti-nantikan oleh umat Islam bertahun-tahun lamanya. Sekarang, kita akan lihat siapa yang mampu menjadi the next Ghazi
menaklukkan Roma.

Disarikan dari buku “Muhammad Al-Fatih 1453”


Penulis : Ursila Husnul Ridho

sources:islampos “Look beyond the eyes can see” and “See the world for what it could be” “Janganlah menyerah dalam memecahkan satu si...

0 Komentar: