Meneladani Cara Belajar Al-kindi*

Agustus 14, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi ialah ilmuwan pertama yang menjadi terkenal diantara Muslim lainnya di bidang filosofi dan seluruh cabangnya.

Baru selesai saya tuntaskan membaca tentang kehidupan Al-Kindi. Nama asli beliau adalah Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi. Terlahir dari suku yang terdapat di dataran timur tengah bernama Kindah. Kindah ialah suku yang cukup berpengaruh dalam bidang kebudayaan dan politik. Salah satu penyair yang cukup piawai di dunia arab yang datang sebelum islam ialah Imru Al-Qais, salah satu warga suku Kindah. Yang membawa peradaban kebahasaan arab maju saat itu lewat syair-syairnya. Karena peranannya, suku Kindah berkutat seputar bidang kebahasaan. Maka, suku Kindah menggagaskan bahasa arab sebagai bahasa yang digunakan di kawasan sekitar dataran timur tengah.

Al-Kindi hidup setelah masa khulafaur rasyidin. Artinya setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, pada masa tabi’in. Al-Kindi menjadi inspirasi bagi ilmuwan setelahnya untuk mengembangkan keilmuwan. Ia sendiri dalam hal pemikirannya merujuk ke para filsuf yunani. Diantaranya yang paling dikaguminya ialah Plato. Hal ini terbukti dari beberapa karya filosofisnya. Namun secara khusus diantara banyak filsuf yunani, Aritoteles menjadi inspirasinya dalam mengembangkan pemikirannya.

Manusia melihat dunia ini yang menghasilkan berbagai macam keilmuan melalui dua cara, melalui panca indera dan akal. Panca indera menghasilkan pengetahuan yang sifatnya dapat dicerna oleh indera yang dimiliki manusia. Sedangkan akal berujung pada pengetahuan yang logikalis dan berbau filsafat.

Al-Kindi membagi  pengetahuan menjadi umum dan pengetahuan detail. Kemudian memberi nilai lebih pada pengetahuan umum ketimbang pengetahuan detail. Menurutnya lebih berharga pengetahuan umum untuk memotivasi dan memahami permasalahan yang dihadapi sehari-hari.

Sebagai contoh,”Antara A dan B. Kalau bukan A, ya pasti B.”

Dalam praktik kehidupannya, ”Jika saya seorang santri pesantren tahfizh qur’an. Maka, pilihan saya hanya dua kemungkinan. Berjuang menghafal sampai hafizh atau keluar dari pesantren ini.”



Praktik lainnya yang saya dapatkan dari Abi (Dosen UNIDA sekaligus pimpinan pesantrenku), ”Saya mengemudi mobil. Kemungkinannya hanya dua. Menabrak atau ditabrak.”

Satu hal lagi yang menarik menurut saya dari Al-Kindi. Dalam berbagai disiplin ilmu yang saat ini kita enyam di bangku sekolah. Menurutnya setiap bidang membutuhkan metode belajar yang berbeda-beda. Seperti halnya, jangan mengharapkan kemungkinan dalam ilmu matematika karena isinya adalah kepastian nilai. Jangan mengharapkan cukup dengan pemahaman dalam ilmu biologi  karena isinya berupa nama-nama partikular yang harus dihafal. Jangan mengharapkan kesudahan dalam menghafal al-qur’an karena dalam menjaganya dibutuhkan waktu seumur hidup. Dan pendekatan yang berbeda lainnya pada bidang yang berbeda pula. Jadi jangan hanya menggunakan satu metode dalam mempelajari suatu hal. Melainkan memahami terlebih dahulu apa tujuan ilmu tersebut dan mengapa kita harus mempelajarinya.
Metode diatas memungkinkan kita menampung berbagai bidang ilmu dalam waktu yang bersamaan. Seandainya metode pendekatan diatas kita gunakan dalam menuntut ilmu atau menggapai asa. Maka, pencarian atas ilmu yang dikehendaki akan dipermudah. Sebaliknya, jika tidak dipatuhi, kita akan kehilangan tujuan dari pencarian ilmu.

Nama Al-Kindi memang tidak semasyhur tokoh lain seperti Avicenna, Averroes, Al-Biruni, dsb. Namun pemikirannya dan segala karyanya turut serta memajukan keilmuan dalam peradaban Islam. Dan yang perlu diingat dan dijadikan motivasi adalah bahwa Al-Kindi hidup pada masa dimana teknologi belum lagi terlihat pucuk hidungnya. Bahkan untuk memahami karya-karya guru pemikirannya, ia seringkali harus mencari tahu arti dari sebuah tulisan dengan bahasa asing. Pemuda masa kini bisa dengan mudahnya menemukan banyak buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa yang mereka mengerti. Sungguh Al-Kindi tidak seberuntung kita yang hidup saat ini. Maka pesan saya adalah, dengan segala kelebihan dan kecanggihan teknologi yang kita miliki, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin.

أوصيكم و إياي نفسي 

Penulis : Rahmat Akbar

Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi ialah ilmuwan pertama yang menjadi terkenal diantara Muslim lainnya di bidang filosofi dan ...

0 Komentar: