Ketenangan Hati

Agustus 09, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar

source: onedayonejuz.org

Pada suatu hari, saya merasakan ada hal aneh di hari saya. Saya melakukan kegiatan yang sudah saya rencanakan seperti biasa, bangun tepat waktu -Alhamdulillah, sedikit olahraga, dan bermain dengan kawan-kawan se-asrama (ya, hari ini hari libur karena Public Holiday Chinese New Year dan juga di kampus saya, hari Jum'at memang hari libur). Setelah itu saya sarapan, lalu lanjut bermain sebentar, dan langsung bergegas menuju masjid untuk sholat Jum'at.

Setelah sholat Jum'at, seperti biasa Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di kampus saya mengadakan halaqah. Karena saya tidak berhalangan, jadi saya mengikuti kajian halaqah tersebut. Setelah kajian Halaqah tersebut selesai, kami melanjutkan aktivitas masing-masing, dan kebanyakan melanjutkan agendanya dengan makan siang bersama. Karena saya sudah makan pagi yang dirapel dengan makan siang, saya kembali ke kamar untuk menjalankan agenda saya sendiri.

Tetapi, saya merasakan ada yang aneh dari diri saya. Sayapun bertanya-tanya, apa yang salah dari diri saya? Apakah dari sikap buruk saya hari ini? Ataukah ada tanggung jawab yang belum saya laksanakan? Padahal, pagi hari tadi, saya sangat merasa segar dan nyaman, karena mungkin saya melakukan olahraga sehingga badan saya terasa fresh, dan merasa nyaman karena bisa berjumpa dan bermain dengan kawan-kawan.

Saya pun masih memikirkan hal ini hingga keluarga saya mengajak untuk video call. Ya, video call dengan keluarga saya bisa sedikit mengobati kerinduan saya dengan rumah dan keluarga saya. Kemudian saya melanjutkan kegiatan pada hari itu, saya mencoba menguatkan niat saya untuk mengerjakan tugas review tentang artikel -Memang hari libur lebih enak digunakan untuk berbaring tidur dan beristirahat, maka dari itu saya perlu menguatkan niat lagi. Disaat saya membaca artikel yang ingin saya review, tiba-tiba rasa aneh itu muncul kembali. Saya kembali memikirkan penyebab adanya rasa aneh itu. Untuk menghilangkan rasa aneh itu, saya mencoba untuk membuka YouTube, dan mungkin, karena petunjuk Allah, saya mendengar qira'ah Al-Qur'an surat Al-Kahfi yang dilantunkan oleh seorang Syaikh, yang memang ketika mendengar lantunannya bisa menyejukkan hati. Dan karena petunjuk Allah juga, saya langsung membuka terjemahan ayat dalam surat Al-Kahfi tersebut.

Di surat Al-Kahfi, terutama pada saat sampai ke ayat yang ke-7, yang artinya "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.", saya langsung merasa seperti tersentil, dan saya langsung menemukan bahwa yang salah dari diri saya adalah hilangnya Ketenangan Hati.

Mengapa saya bisa menyambungkan arti ayat tersebut dengan ketenangan hati? saya ingin menjelaskan hal ini dengan agak panjang, jadi harap bersabar. Begini, kita lihat dari makna hati itu sendiri. Hati dalam Bahasa Arab yaitu Qalbu, yaitu sesuatu yang berfluktuasi, yang bisa menjadi sangat senang dalam sekejap mata, dan menjadi sangat sedih dalam sekejap mata pula. Nah, fluktuasi ke rasa senang tersebut menjadikan diri kita merasa senang dan enerjik, sehingga kita merasa dunia ini milik kita sendiri dan kita bebas untuk melakukan apa saja, tetapi yang parah adalah ketika kita merasa sedih, dalam artian terkadang merasa tidak tenang, tidak tenteram, sehingga merasa ada yang tidak enak dan nyaman ketika melakukan hal apa saja. Rasa senang dan sedih itu, bisa diakibatkan karena kita terlalu fokus terhadap suatu hal yang semu, yaitu sesuatu yang dinamakan hal duniawi. Kita selalu fokus akan kegiatan dunia kita. Prestasi, kedudukan, kebahagiaan duniawi, dan lain sebagainya kita jadikan sebagai fokus utama kita saat hidup di dunia ini.

Padahal, pandangan tersebut merupakan pandangan yang betul-betul salah dan menyesatkan. Kita, hidup di dunia ini, hanyalah sementara, dan dunia ini hanyalah alat untuk kita mendapatkan kedudukan dan balasan yang tinggi di akhirat. Dunia hanyalah sementara dan akhirat adalah tempat tinggal kita yang sebenarnya, dimana kita akan tinggal selama-lamanya di sana. Mari kita buka surat Al-An'am ayat 32, yang artinya "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" Dalam ayat itu sudah dijelaskan secara crystal clear oleh Allah, bahwa sebenarnya tempat kita bukan di dunia ini, tetapi akhirat adalah sebenar-benarnya tempat tinggal.

Ketika kita terlalu fokus dengan dunia, rasa ketidak-tenanganpun muncul, karena memang begitulah sifat dari dunia, ia seperti tidak ada habisnya, seperti meminta kita untuk fokus lagi dan lagi kepadanya, padahal dunia ini akan berakhir juga dan perasaan senang itu adalah rasa senang yang semu, yang digembor-gembori oleh syaithan sehingga kita mengikuti hawa nafsu kita.
Rasa ketidak-tenangan itu sangat tidak nyaman, seperti orang yang sedang nyeri saat datang bulan, yang merasa selalu ada yang salah ketika melakukan sesuatu. Nah, bagaimana cara mengatasinya? Dengan mengingat Allah. Karena dengan mengingat Allah, hati kita menjadi tentram. Maksud dari mengingat Allah disini adalah mengalihkan fokus kita dari dunia, menuju kepada fokus akhirat, yang mana kita mengingat bahwa ada hari pembalasan yang menunggu kita, saat dimana seluruh perbuatan kita dinilai dan dibalas, sehingga kita bisa berhati-hati dalam tingkah laku. Juga arti mengingat Allah adalah, mengingat kebesarannya, sifat-sifatnya yang agung, mengingat 99 namanya yang mempunyai arti-arti yang sangat baik, dan Allah bersifat seperti 99 nama tersebut kepada seluruh manusia, yang kesimpulannya Allah mencintai kita dan menyayangi kita. Allah sangat menyayangi kita, Ia tidak ingin ada kesusahan pada diri kita, Ia yang menyelesaikan masalah kita dan Ia pula yang memberi kita rezeki. Sehingga, menambah kecintaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan membuat kita semakin rajin untuk mengingatnya dengan melakukan ibadah, dzikir, perbuatan yang bisa mengingatkan kita kepadanya. Memang sudah sunnatullah ketika kita mengingat Allah, hati kita menjadi tentram.

Maka, kalau ada dari pembaca tulisan ini yang merasakan hal seperti itu, cobalah untuk beristighfar, memohon ampunan terlebih dahulu, atas hal hal buruk yang telah kita lakukan, setelah itu cobalah untuk rutin berdzikir kepadanya. Mudah-mudahan, rasa ketidak-tenangan tersebut hilang dan digantikan dengan ketentraman dan kedamaian oleh Allah subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin.

Note : Saya sendiri terkadang masih suka berlaku buruk dan belum melakukan seperti apa yang saya telah coba sampaikan. Bila saya seperti itu, mohon diingatkan. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu mengingat Allah dan memfokuskan hidup kita di dunia untuk akhirat kita, serta saling mengingatkan kebaikan kepada sesama, Aamiin

Wallahu a'lam.


Penulis : Muzhaffar Ghifari Raihan

source: onedayonejuz.org Pada suatu hari, saya merasakan ada hal aneh di hari saya. Saya melakukan kegiatan yang sudah saya rencanakan ...

0 Komentar: