Bukan Kita Penjaga (Hafidz) Al-Qur'an, tapi Sejatinya Al - Quran yang Menjaga Kita

Agustus 02, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar



Suatu ketika di kurun awal 1700-an, tulis Allan D. Austin, seorang remaja asal daerah yang kini dikenal sebagai Gambia dan Senegal ditangkap paksa, diikat, lalu digelandang ke kapal tiang tinggi (kapal layar lintas samudera).

Sebagaimana profesi sebagian pelaut Inggris masa itu, menangkap manusia di pesisir pantai Afrika untuk kemudian menjualnya ke Amerika adalah sumber pendapatan yang menjanjikan. Bagi orang Barat 'The East is a Career' tulis Benjamin Disraeli. Bisa jadi westerners mabuk dengan wacana itu.

Mereka punya cara pandang yang aneh terhadap orang non-eropa (baca: non kulit putih). Sebutan-sebutan sub-human, jenis yang belum sempurna berevolusi, bangsa yang harus diajari peradaban, dsb. menghiasi jurnal-jurnal cendikiawan di London dan Paris. Karl Marx yang digadang-gadang pro persamaan itu pun tak kalah sadis, "Orang-orang itu gak mampu merepresentasi diri mereka sendiri, kita yang harus mengajarinya" lantangnya mengiyakan penjajahan.

Gelar mentereng mereka adalah orientalist. Selalu siap memasok dalil pembenaran untuk aksi-aksi kolonialisme. Edward Said, dalam bukunya Orientalism, menuduh mereka dengan sengit sebagai picik dan hanya mengabdi untuk kolonialis imperial, bukan untuk ilmu pengetahuan.

Sang remaja adalah anak seorang mufti. Di daerah asalnya jangankan anak mufti, anak orang awam saja biasa menjadi hafidz. Selain Al-Qur'an mereka juga menghafal kitab fiqh dasar mazhab Maliki semisal Risalah Abu Zaid al Qairawani. Mirip seperti anak pesantren kita mungkin yang menghafal kitab fiqh dasar mazhab Syafi'i, Matn Abu Syuja'.

Syahdan, tanpa tahu sebabnya anak berwajah terang, bermata besar, berjidat lebar, dengan dagu runcing ini mendapati dirinya sudah di Maryland Amerika, berstatus budak. Tapi memang dasar pembelajar, ia dengan cepat belajar bahasa setempat. Bahkan ia menulis kembali Al-Qur'an dari memorinya dalam beberapa eksemplar buku. Bukan cuma itu risalah fiqh juga.

Kagum dengan bujangnya, sang tuan jadi tertanya-tanya. Pasti ini bukan sembarang orang. Perlu diingat, bahkan di Amerika pada masa itu tak banyak orang yang bisa baca tulis, konon lagi melek literasi.

Entah bagaimana kabar tentang 'budak hitam' yang intelligence akhirnya sampai juga ke telinga King George II, raja Inggris. Ia bersama tuannya kemudian diminta datang jauh melintasi atlantik ke pusat imperialis dunia itu. Setelah bertemu raja, namanya segera melegenda, jadi buah bibir dimana-mana. Singkat cerita ia akhirnya kembali berstatus sebagai orang merdeka.

Suatu waktu pada 1734 M sebelum naik kapal untuk pulang ke kampung halaman,  pelukis  istana meminta kesediaan agar wajahnya bisa diabadikan di atas kanvas.
"Dalam pakaian daerah Anda" pinta si seniman.

"Bagaimana saya bisa punya pakaian daerah? Dulu saat kalian tangkap, saya tidak sempat pulang dulu untuk ambil baju! :)
Begini saja, saya kasih deskripsi rupa kostum daerah kami lalu kalian lukis dengan itu, bagaimana?"

"Tapi kami tidak mungkin melukis sesuatu yang tidak kami lihat."

Langsung dibalas sang pemuda shalih, "Lalu bagaimana dengan tuhan kalian yang saya lihat lukisannya dimana-mana, apakah kalian pernah melihatnya?"

Ups..Powerful isn't it?

Dia adalah Ayub Sulaiman, penjaga dan pemikul Alquran pemilik wajah terang, bermata besar, berjidat lebar, dengan dagu runcing.

Further reading sila baca Austin, Allan D.. African Muslim In Antebellum America. Transatlantic Stories And Spiritual Struggle. Routledge, London, 1997).
Said, Edward. Orientalism.

Penulis : Eko Hardikubowo

Suatu ketika di kurun awal 1700-an, tulis Allan D. Austin, seorang remaja asal daerah yang kini dikenal sebagai Gambia dan Senegal di...

0 Komentar: