Karena Yang Didapatkan Istimewa, Jadi Perjuangannya Harus Luar Biasa

Juli 19, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar



Tahun 2014, menjadi tahun kelulusan bagi Alsa, Ifi, dan Fiqa. Ketiga sahabat itu sama-sama anak program IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan memiliki impiannya masing-masing. Alsa ingin mengambil program studi kedokteran, Ifi ingin mengambil teknik pertanian, sedangkan Fiqa ingin mengambil farmasi.

Berbagai jalur untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri sudah mereka lalui. Tapi takdir berkata lain. Mereka belum lolos. Kaget, kecewa, terpukul rasanya. Alhamdulillaah, beruntung mereka tidak larut dalam kesedihan, saling menguatkan, serta yakin pasti ada takdir terbaik yang sedang menanti mereka.

Banyak undangan dari berbagai universitas swasta dan juga luar negeri untuk mereka. Tetapi mereka lebih memilih untuk menuntaskan, melancarkan hafalan Al Qur’an mereka and trying to make such an improvement for their english ability di Kampung Inggris, Pare. Berbekal mimpi dan semangat yang sangat tinggi, disertai dukungan teman-teman, mereka bertekad mencoba PTN lagi tahun depan.

Satu tahun berlalu, Allah berkehendak lain. Hanya Ifi yang lolos seleksi pada waktu itu. Yang mengejutkannya, ia mendapatkan pilihan pertamanya yaitu Jurusan kedokteran UNPAD. Usut punya usut, Ifi sebenarnya lebih menginginkan Prodi Teknologi Pertanian tapi dia menaruhnya di pilihan kedua. Sedangkan Alsa dan Fiqa, sekali lagi, mereka gagal diterima di Perguruan Tinggi pilihannya.

Ini justru aneh, mereka tergolong anak yang pintar dan sangat rajin. “Ah, mungkin Allah ingin mennguji mereka” ujar kawan lain. Sempat Alsa dan Fiqa putus asa, sampai Ifi tak dapat menghubungi mereka dalam masa dua minggu. Yang pasti tidak ada dalam benak mereka untuk bunuh diri seperti orang-orang lain yang tak ber-Tuhan. Mereka punya prinsip untuk jangan sampai hafal Al Qur’an hanya sampai ke kerongkongan. Mereka teringat banyak orang yang mendapat cobaan lebih besar dari mereka.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ
مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. Al Baqoroh: 214)

Alhamdulillah, Allah berikan semangat lagi kepada Alsa dan Fiqa lewat ortu mereka, Ifi, dan teman-teman lainnya. Ifi membantu mereka belajar untuk mengikuti seleksi-seleksi mandiri PTN maupun PTS lainnya. Mereka juga mengoreksi diri mungkin ada yang Allah belum ridho dari mereka.

“Apakah sebenarnya kami tidak berniat memperjuangkan ini?”

“Apakah kami terlalu malas dan tidak bekerja keras?”

“Apakah kami terlalu malas untuk mencari informasi?”

“Apakah kami belum mengatur strategi terbaik kami?”

Pengumuman-pengumuman seleksi mandiri PTN dan PTS pun keluar. Alhamdulillah, Alsa memutuskan untuk mengambil prodi Tata Boga UPI dan Fiqa mengambil Teknik Fisika ITB. Seindah itu takdir mereka, dipersatukan di satu kota yang sama. Alsa memutuskan untuk banting setir ke jurusan IPS, baginya tak ada yang sia-sia meskipun setahun terakhir itu dia fokus dalam pelajaran IPA. 

Suatu hari di Bandung, Fiqa mengajak Alsa dan Ifi untuk berdiskusi. Dia merindukan sahabat-sahabat penyemangatnya karena dia sedang mengalami masa galau di dunia perkuliahannya.

Fiqa menceritakan keinginannya untuk pindah ke bidang agama pada dua sahabatnya itu. Banyak hal yang belum dia ketahui, sedang ikut kajian-kajian saja belum cukup. Alsa dan Ifi mendukung apapun keputusan Fiqa, asalkan itu positif dan mendapatkan izin orangtua.

Tahun pun berganti, satu semester dunia perkuliahan sudah mereka jalani.  Dan tiba saatnya Fiqa berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Fiqa berpamitan terutama pada Alsa dan Ifi “Maaf ya, kita ngga jadi se-kota lagi kuliahnya”.

3 tahun kemudian, 2019.

Alsa masih sibuk mendalami studi masternya dalam bidang yang sama di UPI, sedangkan Ifi masih sibuk dengan program internship di kampusnya, dan Fiqa masih dalam masa hectic sebagai mahasiswa akhir semester. Tiba-tiba, Alsa dan Ifi mendapatkan kabar baik dari Fiqa yang akan menikah dengan Rafiq anak master ICT IIUM lulusan S1 ITB. Ya teman mereka juga, seperti kisahnya Ayudiac “Teman tapi Menikah”.
∞∞∞∞∞
Kisah ini diambil dari kehidupan nyata yang ditambahkan sedikit perisa oleh penulis. Nama-nama tokoh maupun lokasi kejadiannya juga disamarkan demi menjaga privasi.
Jangan pernah kalian lepas sahabat yang selalu mengingatkanmu tentang Allah, dan selalu menyebut namamu dalam doanya J
∞∞∞∞∞
Semuanya,

Yang di kepalanya diisi berjuta kecamuk pikiran

Yang hatinya dipenuhi kerusuhan tak karuan

Yang tubuhnya mulai melemah

Yang fisiknya mulai terasa sakit

Yang energinya tinggal sepersekian persen

Yang sedang bingung, Perlu sandaran, perlu pegangan

Yang tak tau mau dibawa kemana arah hidupnya

Yang merasa kurang apresiasi

Yang merasa kurang diperhatikan

Yang merasa sedang berjuang sendirian

Yang kesabarannya senantiasa diuji

Yang perasaannya sedang dikecewakan

Yang ber-ekspektasi tinggi lalu dijatuhkan

Yang rindu pelukan ayah bunda-nya


Jangan lupa mengambil napas

Jangan lupa mengambil jeda

Boleh menangis, tapi diiringi dengan doa

Juga kuberitahu kau satu hal

Allah Tuhanmu, tidak akan pernah membiarkanmu berjuang sendirian


Kenapa kau diuji? Sebab kau mampu.

Penulis : Nida Rafiqa Izzati

Tahun 2014, menjadi tahun kelulusan bagi Alsa, Ifi, dan Fiqa. Ketiga sahabat itu sama-sama anak program IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) da...

0 Komentar: