Quarter Life Crisis, Does it really exist?

Juni 28, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar




Source: Inas’s Photo Album

Bagi kamu yang sekarang berumur antara 20 sampai menjelang 30 pasti pernah mendengar istilah Quarter Life Crisis, saya tidak tau mulai kapan istilah ini muncul dan menjadi bahasa beken bagi yang sedang mengalami fase krisis dalam hidupnya. Terutama kaum-kaum milenial zaman sekarang tapi fase ini agaknya pernah dialami sebagian orang yang masih bingung dengan arah tujuan hidup nya.

Sebenarnya istilah ini bukan suatu hukum alam yang pasti terjadi, kalau orang zaman dulu alias angkatan bapak dan ibu kita ditanya istilah Quarter Life Crisis pasti jawaban nya gak tau, terlebih kehidupan zaman dulu tidak serumit kehidupan zaman sekarang, yang mana zaman sekarang dihadapkan dengan pilihan yang banyak. Contoh sederhana, stasiun TV zaman dulu cuma ada TVRI satu-satunya, acaranya cuma itu-itu aja, bahan obrolan orang-orang akan sama karna yang ditonton pun sama. Kalau sekarang, dengan teknologi yang semakin canggih dan inovasi yang semakin meningkat, kreativitas seseorangpun juga semakin terasah.

Kita tidak bisa menghindari pilihan-pilihan yang tersedia dikehidupan ini, kalau makan aja ada pilihannya mau pakai sendok atau tangan, mau pergi ke kampus pilihannya ada pakai mobil, motor, atau jalan kaki, dll. Ada seribu satu cara untuk sampai ke tujuan kita, tapi tidak semua cara itu baik dan cocok untuk kita jalani.  Sebagai seorang muslim, ada banyak wasilah yang bisa kita lakukan untuk menentukan pilihan-pilihan hidup kita, salah satunya adalah tawakal, loh kok belom apa-apa udah berserah diri dulu? Eiitts, sabar dulu.. mari kita bahas pelan-pelan.
Kita sering terkecoh dengan konsep tawakkal, yang mana biasa kita dengar adalah berserah diri setelah segala ikhtiar dan usaha yang sudah kita lakukan. Saya tidak mengatakan konsep ini salah, tetapi ada hal yang harus diubah dalam konsep tersebut. Menurut saya berserah diri dimulai ketika ingin menentukan pilihan hidup kita, lagi-lagi diawali dengan bagusnya niat kita.

Manusia dianugerahi rasa kecewa, sedih, senang, marah dalam hidup nya oleh Allah. Ada yang kadar marahnya tinggi, sehingga ketika ngobrol santai aja nadanya seperti marah, ada yang kadar senang nya juga tinggi sampai-sampai sering dijuluki manusia yang gak pernah punya masalah, adapula yang kadar cengengnya tinggi sampai-sampai kalo ngeliat kakek-kakek ngemis dipinggir jalan aja air matanya sudah berderai.

Allah menciptakan rasa kecewa, sedih, senang, marah pada manusia sebenarnya ingin melihat apakah benar ketika kita diuji dengan perasaan-perasaan itu kita akan kembali kepada yang menciptakan rasa itu? Apakah benar pilihannya udah karena Allah?
Misal, kita merasa kecewa ketika karya tulis kita gak dipublish atau ditolak mentah-mentah sama penerbit, coba dicek lagi apakah kecewanya kita ini udah ikhlas untuk berbuat baik atau malah mengharapkan pujian orang lain?

Balik lagi ke konsep tawakkal, ketika kita berazam atau mengambil keputusan dengan pilihan-pilihan yang tersedia kita coba mulai dari pertanyaan ‘Apakah sudah karena Allah?’ ‘Apa sudah minta dan konsultasi dulu sama Allah? Apakah sudah berserah diri sama pilihan terbaik yang nanti Allah akan kasih?

{…..  فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ}
“…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (3:159)

Tawakkal juga merupakan ciri orang beriman, banyak ayat dalam al Quran yang mengaitkan sifat berserah diri dengan orang yang beriman, karna pada hakikatnya hidup seorang muslim sepenuhnya ada dalam genggaman sang Kholiq.

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus". (Surah Hud: 56)

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal (11). Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri (12)". (Surah Ibrahim : 11-12)

Pada hakikatnya, semua teori ini ga akan berlaku kalau kita belum pernah diuji. Contoh nya, dalam Al-quran disebutkan “Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat” kita tidak akan pernah bisa paham makna mencari pertolongan dengan sabar dan sholat sampai kita benar-benar diuji apakah ketika kita punya masalah kita bisa sabar sambil terus memperbaiki kualitas sholat kita? Bukankah betulnya sholat kita akan betul juga kehidupan kita?

Akhir kata, mengutip perkataan Fikri Suadu “Pengetahuan adalah panduan bagi keinginan-keinginan manusia. Tanpa pengetahuan, manusia akan dihancurkan oleh keinginan-keinginannya sendiri”. Setiap kali ingin memilih pastikan pilihan itu kita kembalikan lagi kepada yang Maha Mengetahui, saya yakin dengan izin Allah istilah Quarter Life Crisis tidak akan muncul dalam kamus kehidupan kita. Wallahu a’lam.

Penulis : Inas Syarifah

Source: Inas’s Photo Album Bagi kamu yang sekarang berumur antara 20 sampai menjelang 30 pasti pernah mendengar istilah Quarter Life...

0 Komentar: