Muhasabah Kita Bersama

Juni 06, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar

sumber: twitter.com/muslimculture


Sesungguhnya bulan Romadon adalah bulan yang diperuntukkan untuk muslimin melakukan perbaikan akbar terhadap seluruh elemen kehidupan, yang mana ia adalah perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Malam-malamnya dimuliakan oleh Allah untuk memperbanyak dzikir dan muhasabah, dan amalan-amalan pada siang harinya dimuliakan posisinya saat tengah menjalankan puasa. Kini Romadon telah berakhir, penulis berhemat bahwa perlu dilakukan muhasabah terkait sepak terjang kita sebagai umat muslim sebagai entitas sosial-politik di Indonesia kini, untuk menuju kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.

Hampir dua-tiga tahun belakangan, tanah air senantiasa diguncangkan dengan blunder-blunder besar dalam ranah sosial politik yang tak bisa dilepaskan dengan identitas umat muslim di dalamnya. Betapa seringnya klaim muslimin dicaplok oleh berbagai jenis kelompok; baik kanan, liberal, bahkan kiri, dan betapa reaktifnya masyarakat muslimin terhadap berbagai isu yang beririsan dengan identitas muslim sehingga merendahkan martabatnya sendiri, meninggalkan renungan besar bagi para pemerhati dunia Islam di Indonesia : mengapa umat muslimin kini kian rapuh? Bagaimana masa depan gerakan Islam dan agenda-agenda dakwah Islam dapat terwujud kelak? Setidaknya ada beberapa hal yang penulis rasa perlu menjadi perhatian besar:


Polarisasi Kekuatan Politik Nasional

Presidential Treshold 20% kian kuat dalam menyebabkan benturan besar baik antara muslim dan non-muslim maupun antara gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Hal ini nampak dengan terbatasnya capres-cawapres menjadi hanya dua pasang yang menyebabkan gerakan-gerakan Islam yang berbeda ijtihad prioritas harus berhadapan satu dan lainnya secara langsung. Dalam perebutan angka elektoral dan konstituen muslimin, maka akhirnya terbuktilah hadits nabi bahwa umat muslim kelak bagai hidangan makanan yang diperebutkan dalam aspek pemikiran maupun politik (HR. Ahmad), oleh umat muslimin sendiri.

Perebutan klaim identitas Islam tersebut kian nampak dengan elit partisan yang tiap hari mengklaim siapa yang paling ‘islami’, dengan berkutat pada hal-hal dangkal yang bersifat simbolis, seperti bagus-bagusan sorban sampai puasa sunnah pribadi calon diumbar-umbar ke ranah pubik sebagai dagangan. Terbeli dengan dagangan politik seperti ini, tidak  hanya ia akan memecah belah kesatuan muslimin sebagai kelompok (akibat polarisasi gerakan-gerakan Islam), ia juga akan membentuk pemahaman baru akan konsepsi Islam dalam dimensi politik yang dangkal dan tidak akurat, hingga berdampak besar menjadi fenomena pembodohan politik Islam nasional. Maka sekalipun kita memiliki sikap politik yang tegas, jangan sampai kita menjadi memusuhi kelompok Islam yang berlainan dengan diri kita hanya karena beberapa blunder elit dan ijtihad sikap yang berbeda. Toh, seberapa hebat kita hingga mampu untuk menilai isi hati orang lain?

Dengan paket degradasi nilai yang amat tajam dan lengkap tersebut, maka selamanya muslimin akan senantiasa kalah dalam perjuangan agenda-agenda dakwah yang besar dan semakin diragukan untuk menjadi Ustadziatul Alam (guru peradaban dunia) dalam tingkat nasional maupun internasional.
Kendati kerugian muslimin dari polarisasi kekuatan politik nasional amat besar, ia bukan berarti bahwa upaya advokasi nilai perjuangan dakwah Islam harus dilakukan di luar institusi politik saja. Perjuangan dakwah Islam harus senantiasa menyertakan kanal politik modern, sebagai upaya bertahan dan menyerang nilai yang bertentangan dengan nilai agenda dakwah Islam. Muslimin harus semakin dewasa dan lihai dalam berpolitik praktis maupun politik nilai, tidak repulsif, dan mampu membawa kedamaian terhadap sekitarnya.

"Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya." [HR. Bukhari]


Misrepresentasi Nilai Perjuangan

Yang menjadi pelik adalah saat elit politik/tokoh besar/'ustadz-yang-sering-bicara-politik secara partisan tetapi tak pernah mau mengakui menjadi politisi’ mengenakan jubah identitas islami namun menyuarakan nilai-nilai yang tidak berasal dari kerangka pikir Islam, padahal nilai-nilai perjuangan Islam adalah transenden dari spektrum politik ‘kiri-kanan’. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Islam bersikap dengan sikap yang berbeda-beda untuk isu yang berbeda, seperti bagaimana Islam melihat persoalan gender dan tatanan keluarga yang cukup konservatif, sedang di sisi lain melihat persoalan bentuk pemerintahan dan hidup bersama masyarakat berbeda keyakinan dengan cukup liberal (sebagaimana produk piagam Madinah dan perjanjian Hudaibiyah). Dengan demikian, untuk mengklaim agama Islam adalah milik dari salah satu poros spektrum politik ‘kiri-kanan’ adalah bentuk pendangkalan pemahaman nilai perjuangan Islam.

“Dan demikian (pula) Kami menjadikan kamu (umat Islam) ummatan  wasathan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi  saksi atas (perbuatan) kamu…” [al-Baqarah:143].

Dalam kehidupan kita, betapa seringnya ‘elit muslim’ Indonesia yang mencampuradukkan narasi Islam dengan paradigma dunia kanan yang berlebihan sehingga melahirkan narasi ultra-nasionalis yang rentan dengan pemahaman kebangsaan yang diskriminatif, dan bahkan rasis. Lahirnya pikiran-pikiran ‘memaksa’ dari mulut ‘elit muslim’ akan mendangkalkan pemahaman pengikut elit tersebut bahwa nilai perjuangan dakwah Islam bersifat global, dan senantiasa berpangku kembali terlebih dahulu kepada Quran dan Sunnah dengan tradisi Ishlah-Tajdid.

Di sisi lain, kelompok muslimin yang memposisikan diri sebagai ‘kelompok toleran’ tidak kalah juga dalam mengecewakan konstituen muslimin dengan sangat akomodatif terhadap kelompok dan pikiran-pikiran yang seringkali secara vulgar maupun implisit menyerang apa yang menjadi advokasi mendasar dari perjuangan dakwah, seperti persatuan sekte-sekte gerakan, independensi pikiran dari pengaruh arus pemikiran yang ‘mengobok-obok’ aqidah muslimin yang tsawabit (tetap). Kebanyakan darinya mengaku sebagai reformis, namun narasi yang dibangun seringkali menyerang kelompok Islam lainnya di depan umum, sehingga firman Allah ‘serulah menuju jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah dengan baik..’ [an-Naml:125] tidak terimplementasikan. Alih-alih penyadaran—bila apa yang dianut adalah benar—yang ada hanyalah perpecahan.

Dengan demikian, mendudukkan representasi nilai muslimin yang tepat menjadi sangat penting. Misrepresentasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, Amerika kini pula menghadapi persoalan serupa. Banyak sekali politisi muslim Amerika seperti Ilhan Omar, Linda Sarsour, Abdul el-Sayed, hingga Rashida Tlaeb terjebak dalam narasi politik identitas dan mengadvokasi agenda-agenda feminis radikal seperti akomodasi LGBTQ+ dan advokasi hukum pro aborsi bebas.

Akhirnya, para aktivis muslimin senantiasa bergerak sendiri-sendiri, gerakan tidak terorganisir dengan rapi hingga representasi advokasi agenda juga berselisih, hingga memunculkan dai-dai yang terkadang problematik. Muslimin dan muslimat harus selektif mengurai pesan dan kata dari para representatif muslim di panggung nasional dan internasional, agar tidak mudah terperangkap dalam kerangka pikir yang bermasalah sebagai muslim, dan tetap mendukung kerangka pikiran dan agenda strategis yang mendukung keberlangsungan dakwah.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Penguatan Adab, Tsaqafah, dan Wajihah Dakwah

Untuk menghadapi goncangan-goncangan dari dalam dan dari luar, maka umat muslimin harus memiliki pertahanan yang kuat. Pertahanan yang perlu diperkuat meliputi penguatan pemahaman Islam, pemahaman politik Islam, dan institusi-institusi berbasis Islam, baik institusi sosial maupun politik. Den gan membedakan pemahaman Islam dan politik Islam, muslimin dan muslimat akan semakin berhati-hati dan lihai dalam berdakwah dan berpolitik, hingga akhirnya muslimin memiliki marwah dan mampu mengemban risalah peradaban untuk Indonesia, dan dunia.

Betapa adab dakwah menjadi titik nadir integritas para dai, saat kini sebagian besar umat muslim berusaha mencari alternatif dakwah yang mampu memberikan rasa tenang, hingga membersamai gelombang hijrah yang kian besar di Indonesia. Bahwa adab dakwah ialah hal yang sangat fundamen bukan saja dalam aspek ruhiyah, namun politik sebagai sarana dakwah juga. Adab dakwah amat dipegang teguh oleh Imam Syahid Hasan al-Banna, saat para ulama dan asatidz dakwah mesir ‘dibredel’ oleh Gamal Abdul Naseer dan dieksekusi massal dengan biadab, Hasan al-Banna tetap menekankan bahwa Gamal Abdul Naseer tetap seorang muslim, dan tetap mendoakannya agar mampu bertaubat, saat murid-murid dari Imam Syahid sudah geram bukan main, dan melarangnya untuk bertindak sporadis yang mampu menciptakan mudharat yang jauh lebih besar.

Pembumian Nilai Politik Islam

Untuk mampu mendudukkan apa yang perlu diserukan pada umat manusia, maka dai wajib menyelami kembali khazanah dan sumber keilmuan yang meliputi nilai-nilai advokasi Islam. Ia bisa dimulai dari buku-buku ringan seperti ‘Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku’ karya Ust. Salim A Fillah, hingga khazanah-khazanah pergerakan seperti ‘Risalah Ta’lim’ karya Hasan al-Banna, ‘Islam Jalan Tengah’ karya DR. Yusuf al-Qardhawi, dan khittah pergerakan Islam nasional seperti Masyumi, Muhammadiyah, NU, dan lainnya.

 Bahwa berdakwah bukan hanya menyeru pada solat dan zakat, apalagi dakwah dalam ranah politik. Dengan menguasai kerangka pikir Islam (Islamic Worldview), maka muslimin mampu menilik nilai-nilai Islam yang perlu diperjuangkan dalam segala aspek. Menggunakan ranah politik hanya untuk memformalkan ibadah yang bersifat ritual kepada masyarakat tidak hanya merupakan pendangkalan pemahaman politk Islam—seperti masjid Illuminati dan kristenisasi alun-alun solo--, namun menyalahi konsep Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (Konsensus Nasional), terlebih bila ia mengabaikan advokasi yang lebih fundamental, seperti penolakan terhadap penggusuran paksa, konservasi lingkungan, dan mendukung liberalisasi penyelenggaraan pendidikan.

Mandiri dalam Bersikap

Maka setelah umat muslimin mampu membumikan nilai-nilai Politik Islam, disertakan dengan kapabilitas akhlak dan wawasan yang mumpuni, maka pergerakan umat muslimin akan kian lebih dewasa, mandiri, tidak reaktif, dan terukur tujuan-tujuannya. Kemandirian ini menjadi renungan bersama kini di saat umat muslim menjadi kian reaktif terhadap satu isu yang belum tentu benar, kemudian membesar-besarkannya dengan ketidakbenaran pula. Saat umat muslimin mampu independen dalam berpikir, umat muslimin pula mampu menyaring informasi dengan bijak, hingga akhirnya sikap-sikap politiknya tidak diayun-ayun bagai buih dan kemudian diselancari oleh kaum berkepentingan.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [al-Hujurat:6].

Dengan memahami persoalan dan memahami jalan keluarnya, penulis berharap kita sebagai umat muslimin mampu berdamai dengan diri kita sendiri, hingga umat muslimin secara kultural mampu menyelesaikan mafsadat di sekitar kita dalam tiap mihwar-nya. Semoga tulisan ini mampu menjadi kontemplasi bersama kita pada momentum Idul Fitri 1440H kali ini, dan mampu kita realisasikan perbaikannya bersama-sama.

Tabik.

Penulis : Ahmad Shidqi Mukhtasor

sumber: twitter.com/muslimculture Sesungguhnya bulan Romadon adalah bulan yang diperuntukkan untuk muslimin melakukan perbaikan akbar ...

0 Komentar: