Ramadhan dan perpisahan

Mei 31, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar


 Ada yang sedang bersiap pamit. Yang perlu menunggu satu tahun lagi untuk bertemu. Ramadhan namanya. Tahun ini rasanya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Entahlah, hati ini rasanya sulit untuk diajak seirama. Ia menjerit, meronta merasa takut kehilangan. Ia baru saja tersadar, bahwa ternyata hawa nafsu itu lebih menyeramkan daripada yang ia duga. Ia malu, ternyata selama ini bukan bisikan syaithan yang menjerumuskannya, melainkan dirinya sendiri.
   Pada akhirnya ia paham, Allah menghadirkan Ramadhan untuk membiasakannya berbuat baik, berprasangka baik. Namun bagaimana jika sampai akhir ia belum juga terbiasa? Ia masih saja kesulitan untuk menjaga dirinya dari perbuatan dosa.
  Lagi lagi ia basah menangis. Beruntung sekali ia memiliki Tuhan sebaik Allah. Yang  selalu memberi ruang untuk hambaNya bertaubat. Bahkan dengan seluruh cintaNya Ia dengan hebatnya sudi memberi limpah kasihNya pada sang lalai. Diakhir kesempatan ini Ia pun dengan baiknya menyadarkan sang hati untuk bangkit, "ayo, jangan sia-siakan aku, masih ada waktu".
   Ia malu. Ia si pendosa, tapi ketika berdoa dan doa doanya tidak dikabulkan oleh Sang Maha, ia merasa amat kecewa. Padahal ia yang lebih dulu mengecewakan Sang Pemilik Semesta
  Ia malu. Ia si yang sering lalai dari jalanNya, tapi ketika jalan hidup tak sesuai dengan yang diinginkan, ia sibuk menyalahkan sekitar, mengutuk semesta dan mencari pembelaan akan hal itu. Padahal, menjadi hambaNya saja ia belum tuntas memenuhi hak-hak Tuhannya.
  Ia malu. Hijrah yang ia lakukan tak menambah kebaikannya. Ia hanya berhijrah dari satu dosa ke dosa lainnya. Padahal ia paham betul bahwa tak ada garansi pada umurnya sebagai jaminan.
  Hati semakin menjerit. Ia merindu akan manisnya iman. Terperangkap dalam sebuah pertanyaan, apakah amalanku diterima? Apakah sudah sempurna?
  Puasaku,
  Tarawih ku,
  Apa diterima?
  Hai diri, sadarkah? Ramadhan sebentar lagi beranjak. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali beberapa waktu lagi.
  Dengan bintang ke dua puluh tujuh malam ini, akan hati sempurnakan amalan yang belum sempurna.
  Mengharap belai kasih sang bulan melalui derai air mata yang terurai. Hati ini lunglai, dengan pedihnya perpisahan ia terbuai.
  Rindu yang kemarin terobati kini mulai ditanam kembali. Membara tiap- tiap detik terlewati. Dalam sunyi berharap taubat akan melengkapi.
  Semoga waktu berbaik hati untuk membersamai. Memberi kesempatan sedikit saja lagi untuk meminta ridha sang ilahi.
  Semoga tawanan dosa dilepaskan. Semoga bara neraka dibebaskan. Selamat jalan ramadhan. Aku kembali memupuk rindu. Berharap tahun depan masih bisa bertemu

I'm leaving soon, take care of your Iman -Ramadhan

Penulis : Nyayu Siti Salma

 Ada yang sedang bersiap pamit. Yang perlu menunggu satu tahun lagi untuk bertemu. Ramadhan namanya. Tahun ini rasanya berbeda dengan tah...

0 Komentar: