Mawar Tergantikan Mutiara

Mei 03, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar

source: bundanyacinta.files.wordpress.com


     Cahaya rembulan sudah mulai menjilati permukaan bumi. Menambahkan kesan syahdu bagi para penikmat malam. Seperti seorang wanita berambut sepunggung yang kini tengah memandangi temaram rembulan. Namun ia lebih suka akan benda yang kini ada di genggamannya.
     Bunga mawar. Bunga yang kerap ia irikan karena memiliki pesona yang indah. Apalagi bunga yang ia sukai itu memiliki pelindung sendiri. Meski kerap sekali orang-orang mudah memetiknya. Tapi ia tetap suka dengan pesona mawar, apalagi mawar merah.
     Terkadang ia berpikir untuk bisa jadi mawar. Bukan tanpa alasan dia berkeinginan seperti demikian. Baginya, mawar jika diibaratkan seperti manusia, maka nasibnya penuh keberuntungan. Disukai banyak orang, sejuk dipandang, bernilai mahal, dijaga, dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan ia? Masih bisa menghirup nafas gratis saja ia sudah beruntung.
     Bagaimana tidak? Gadis pecinta mawar itu hidup sebatang kara. Makan saja harus bekerja keras dahulu. Bukan bekerja keras dengan cara benar maksudnya. Tapi mencuri adalah hal menegangkan yang ia sebut sebagai kerja keras. Uang yang biasa ia pakai untuk jajan, untuk mengerjakan tugas sekolah, untuk pergi ke klub dan iuran-iuran lain saja hasil mencuri. Untung saja ia termasuk kalangan anak berotak cerdas sehingga mendapatkan beasiswa dan tidak usah membayar SPP selama prestasinya tidak turun.
     Makadari itu ia membenci hidupnya. Hidupnya serasa tidak adil. Tuhan memang tidak memperbolehkannya untuk bahagia.
     “Gue benci hidup gue,” lirihnya dengan hati tersayat.
     “Allah menciptakanmu bukan untuk membenci hidupmu sendiri, Syahna.” Seseorang dibelakangnya menyahut.
    Syahna membalikkan badannya. Ternyata ada Bu Dara. Beliau adalah guru di sekolahnya. Atau lebih tepat sebagai wali kelasnya.
    “Ibu ngapain di sini?”
    “Nyamperin gadis pecinta mawar yang membenci hidupnya.”
    “Basi!”
     Bu Dara hanya tersenyum saat mendengar kata ketus dari muridnya itu. Bukannya ia membiarkan Syahna terus-terusan kasar seperti itu. Hanya saja ia akan pakai cara halus untuk melunakkannya.
     “Ibu tau kamu pecinta mawar. Bahkan sampai kamu ingin menjadi sepertinya. Tapi ibu lebih pengen kamu jadi kaya mutiara.”
     “Maksudnya?”
     “Itu pesan dari Ibu, Na. Ibu pamit.”
     Syahna hanya memandang punggung Bu Dara yang semakin mengecil. Jujur saja, ia bingung dengan kata-kata bu Dara. Itu kata perumpaan, iapun faham.
     “Ah, persetan,” umpatnya.
     Syahna memutuskan untuk pulang karena ini sudah cukupp malam untuk ukuran perempuan sepertinya.
     Selama diperjalan menuju rumah reyotnya, ia masih kepikiran dengan ucapan gurunya. Ia yakin, itu bukan sekedar permintaan biasa. Seperti memberi pengaruh besar untuk hidupnya.
     Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dibelakangnya. Tapi Syahna tidak akan membalikkan badannya. Hal bodoh jika ia harus melakukan itu.
     “Neng,” ucap seorang lelaki dibelakangnya dengan nada menggoda.
     Syahna mempercepat langkahnya tanpa menggubris lelaki dibelakangnya. Namun sayang, belum lama kemudian tangannya sudah berhasil dicekal.
     “Lepas!”
     “Neng mau kemana? Mending sama abang aja yuk!”
     “Gak! Lepas! Gue jijik sama lo.”
     “Ah pura-pura. Kita main bentar yuk,” ajak lelaki itu seraya menyeret tangan Syahna.
     Syahna ingin memberontak. Tapi kekuatannya tak sebanding lelaki itu. Hingga sampai di jalan buntu dengan tembok-temboknya yang penuh sekali akan coretan, lelaki itu memojokkannya.
     Syahna benar-benar ketakutan saat ini. Separah-parahnya ia saat mabuk di klub, ia tidak pernah bermain bersama pria hidung belang. Sekedar dirabapun ia tak sudi.
     “Neng cantik mau kemana sih tadi?”
     “Minggir! Gue mau pulang.”
     “Entar abang anterin deh, tapi kita main dulu, gimana?”
Syahna terdiam. Hanya air mata yang berlinang menjadi jawabannya. Ia jijik, sunggung. Kini matanya malah terpejam, bukan karena membolehkan lelaki itu mengapa-apakannya. Tapi ia tak kuat berada jarak sedekat itu dengan seorang lelaki.
     Tiba-tiba sebuah ide muncul di tengah-tengah ketegangan hatinya.
DUK!
     Syahna menendang benda rawan milik lelaki bejat itu. Lalu sekeras mungkin ia melarikan diri. Sesekali Syahna menoleh kebelakang untuk memastikan pria itu masih mengikutinya atau tidak. Jika masih ia akan melajukan kekencangan larinya. Hingga dirasa lelaki itu jauh dengannya, Syahna melambatkan laju larinya.
     Nafasnya tersenggal-senggal. Dan ia butuh minum. Jika ia mencuri maka ia akan kembali berlari-lari barangkali ada yang melihat aksinya.
     Namun ide itu hilang dikala seorang wanita berhijab pink menjadi pusat pandangannya.
     “Ziva,” panggilnya.
     Wanita berhijab itu menoleh lalu menebarkan senyum manisnya. Ziva adalah putri dari bu Dara yang memang sekelas dengannya.
    “Ada apa?”
    “Gue haus banget Ziv. Pinjamin gue duit dong!”
    “Duh maaf banget ya Na, uangku habis. Gimana kalau kamu ke rumahku saja?”
     Tanpa pikir panjang Syahna menyetujui tawaran itu. Lagipun ia takut untuk pulang sendirian.
    “Lo sendirian?” Ziva hanya berdehem.
    “Gak takut?”
    “Aku punya Allah.”
    “Tapi Allah gak bisa bantuin lo kan kalau lo tiba-tiba dicegat lelaki bejat.”
    Ziva tersenyum. “Lelaki bejat kaya gitu gak akan mungkin ngerusak nilai harganya mutiara. Karena hanya sekedar melirikpun mereka butuh perjuangan. Beda lagi sama mawar, yang meskipun cantik dan punya duri, ngambilnya gak butuh perjuangan. Apalagi orang-orang gak akan sayang kalau bunga itu layu lalu dibuang.”
    “Lo gak usah sok perumpamaan kaya ibu lo deh!”
    Ziva hanya tersenyum mendengar nada kesal itu. “Ayo masuk, kita sudah sampai.”
    Memasuki rumah Ziva yang artinya rumah bu Dara juga, Syahna dipersilahkan untuk duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Ia memandangi rumah megah itu. Ia jadi iri dengan Ziva. Hidup   Ziva benar-benar beruntung.
    “Lho Syahna,” kaget Bu Dara. Syahna sedikit aneh dengan gurunya itu. Di dalam rumah saja masih mengenakan hijab.
“Kok sudah di sini?”
“Saya tadi ketemu Ziva.”
“Sekarang Ziva mana?”
“Ke kamarnya.”
     Bu Dara hanya manggut-manggut. Sedang Syahna jadi kembali memikirkan maslaah dua perumpaan itu.
    “Bu, Saya gak faham masalah perumpaan yang diucapka Ibu dan anak Ibu.”
    “Lalu?”
    “Gak usah basa-basi deh bu. Jelasin aja apa susahnya sih!”
    “Apa kamu pernah hampir dilecehkan?” Syahna mengangguk. Baru saja hal itu menimpanya.   “saya mengajarkan Ziva untuk menutup tubuhnya karena saya tau, dia itu berharga. Ibu nggak mau lelaki dengan mudah memandangnya. Dia harus jadi seperti mutiara yang untuk dipandangpun susah karena tertutup bermili-mili air laut. Ibu nggak pernah mau dia jadi kaya mawar yang emang cantik dan punya duri untuk melindungi tubuhnya. Tapi bagaimanapun memetik mawar tidak sulit dan tidak sayang untuk dibuang.”
     Syahna diam membeku. Kini ia faham. Dirinyapun berharga, tapi mengapa ia tak menyadarinya?
     “Ibu sayang sama kamu, makanya ibu mau kamu jadi kaya mutiara yang berharga.”
Syahna tersenyum. “Makasih Bu.”
     Sejak hari itu, entah mengapa ia ingin menutup segala kecantikan tubuhnya. Dan benar seperti yang diucapkan Ziva. Semenjak ia berhijab, ia tidak pernah digoda lelaki bejat lagi.
     Dalam hati ia bersyukur dapat bertemu dengan Bu Dara yang penyayang itu. Andai kata Bu Dara tak menyadarkannya, mungkin saja ia tak sadar akan berharganya dirinya dan iapun akan mengekspos kecantikannya terus menerus. Mungkin saja akan ada lelaki bejat yang mengambil aset berharganya.
     “Makasih Bu Dara. Berkat ibu, Syahna faham akan berharganya diri Syahna. Dengan itupun Syahna mulai mengurangi kebiasaan buruk Syahna. Ibu emang Pahlawan di hidup Syahna,” ucap Syahna ketika ia pulang bersama bu Dara.
     Sedang Bu Dara hanya tersenyum. Sudah tugasnya sebagai guru untuk mengayomi dan membimbing muridnya ke jalan yang benar.

Penulis : Rosi Azizah

source: bundanyacinta.files.wordpress.com      Cahaya rembulan sudah mulai menjilati permukaan bumi. Menambahkan kesan syahdu bagi par...

0 Komentar: