Di Persimpangan Jalan Dakwah

April 19, 2019 Forum Tarbiyah 0 Komentar



Tidaklah ia sebuah jamaah yang hidup tanpa adanya perbedaan. Karena jamaah adalah kumpulan dari setiap individu yang berbeda, maka memiliki perbedaan dalam jamaah adalah tabiat dari jamaah itu sendiri. Jamaah akan hidup, bila setiap individu yang berpartisipasi di dalamnya aktif dalam menggagas upaya untuk menuju tujuan bersama jamaah, yang telah menjadi satu nafas yang menyatukan berbagai insan yang berbeda. Jamaah adalah perbedaan yang bernaung dalam satu persamaan yang mendasar.

Kendati hadirnya perbedaan adalah keniscayaan, ia tidak berarti bahwa perbedaan dapat senantiasa diamini dalam sebuah jamaah. Ada kalanya suatu perbedaan diamini sebagai sesuatu yang wajar oleh beberapa orang, ada pula perbedaan yang sama tersebut dirasa menyalahi persamaan mendasar yang telah menyatukan mereka, oleh beberapa orang yang lain. Dalam titik tersebut, dialog adalah kunci. Komunikasi, tabayyun, bebas praduga, adalah adab berjamaah mendasar untuk membangun jamaah yang kuat, yang saling mencintai, dan yang saling mempercayai antar individu. Dan untuk berkomunikasi, berklarifikasi, dan ber-husnudzon, diperlukan cinta dan kepercayaan, karena jamaah terbentuk atas kepercayaan terhadap satu persamaan mendasar, dan cinta antar individu. Cinta dan kepercayaan, adalah pondasi mendasar sebuah jamaah.

Saat kita berbicara dalam konteks jamaah dakwah, maka kita telah mendudukkan apa yang menjadi kepercayaan bersama, dan dengan siapa kita saling mencintai dalam jamaah tersebut. Islam, adalah apa yang kita amini sebagai prinsip mendasar, dan cinta antar muslimin-muslimat yang terealisasi dalam ukhuwah adalah yang mengokohkan jamaah dakwah ini. Dakwah ini senantiasa mengedepankan integritas akhlakul karimah dan tazkiyatun nafs para anggotanya, yang membuat kita semakin saling menjaga, saling mencintai, dan yakin, bahwa dakwah kita berangkat dari hati yang bersih, sehingga tidak ada ruang untuk curiga atas kepentingan pada siapa-siapa yang berkecimpung dalam gerakan dakwah ini.

Dalam mengucapkan Islam pun, bahkan para ulama banyak yang berbeda pendapat, dengan segala hujjah dan tendensinya. Maka dengan itu, tidaklah perlu menjadi persoalan besar dalam jamaah dakwah saat ada dua tendensi berpikir—liberal dan konservatif—dalam gerakan dakwah. Saat gerakan dakwah ini telah dibangun dengan mengedepankan keikhlasan dan totalitas dalam dakwah, maka tidakkah kita mencederai cinta di antara anggota dakwah, saat kita memusuhi tendensi yang dimiliki anggota dakwah lain dalam jamaah, di mana kita semua berangkat dari satu prinsip yang sama—Islam? Dan tidakkah ia manusiawi untuk memiliki tendensi masing-masing selayaknya manusia dengan kapabilitas berpikir yang terbatas? Dan bukankah karena kelemahan itulah kita berjamaah, untuk mencari titik temu bersama demi dakwah Islam? Bukankah kita semestinya menjadi umat yang pertengahan?

“Dan yang demikian itu Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian” Al-Baqarah : 143

Maka dengan memahami realitas tendensi tiap individu yang berbeda dalam sebuah jamaah yang kemudian membentuk sebuah keseimbangan—pertengahan antara dua poros pikiran—hendaknya perbedaan aspirasi tidak menjadikan kita redup dalam mencintai dakwah ini. Saat dakwah ini pertama hadir dengan konsep totalitas perjuangan syiar Islam dan akhlakul karimah, maka mereka yang meredup memiliki alasan mendasarnya sendiri yang yang memburam dengan konsep mula dakwah ini. Ada yang sedang futur, merasa unggul dari yang lain, merasa lebih pandai dari yang lain, merasa tak sanggup dengan totalitas kerja dakwah, merasa lebih nyaman dengan jamaah lain, atau yang memang merasa sudah tidak cocok saja.

Bila hadir di antara ikhwan-akhwat sekalian rasa futur itu dalam hati, maka izinkanlah saya mengatakan bahwa saya sama dengan antum. Saya takut akan konsekuensi moral dakwah yang besar tidak akan sanggup saya pikul, bilamana saya terjungkal di tengah-tengah perjuangan—naudzubillah. Saya tidak percaya diri bahwa saya mencukupi kapabilitas sebagai dai, saat saya gagap mengucapkan dalil dan tidak mengetahui apa-apa. Saya merasakan apa yang antum rasakan.

Dan karena itulah kita bahu-membahu. Karena itulah kita berjamaah. Beban ini akan ringan jika dipikul bersama. Dada kita akan lega jika cerita dan keresahan dibagi bersama. Sebagaimana jamaah ini kokoh karena cinta dan percaya, saya percaya, dan cinta, kepada antum. Maka ikhwan-akhwat, mari kembali berpegang teguh pada janji agung Allah akan kemenangan, dan perlahan mengusap kesedihan dan ketakutan itu dari pipi kita.

Bila hadir di antara kita yang merasa pikirannya tidak sesuai dengan sikap dakwah jamaah, maka percayalah bahwa jamaah tidak berangkat dari maksud yang kotor saat menentukan keputusan, sehingga tidak ada pengkhianatan moral yang perlu untuk kita cerca dan kecam. Betapa banyak gerakan politik dan sosial yang terpecah, saling tahdzir, dan menjadi kontraproduktif dalam perjuangan, hanya karena berselisih paham? Akankah kita tenggelam dalam lubang yang sama dengan mereka? Semoga tidak.

Sebagai sesama yang terkadang pikirannya tidak tercurahkan dalam sikap jamaah, maka memahami adalah upaya yang lebih baik untuk melihat perspektif yang lain. Menulis, berjejaring, berdiskusi dengan hikmah, adalah sarana yang mampu kita lakukan untuk mencoba memberikan perspektif yang berbeda kepada jamaah. Karena Islam adalah sempurna, dan manusia adalah letaknya kesalahan, maka berdewasa dengan perbedaan dalam berjamaah adalah kebaikan, dan bentuk ketawadhuan.
Bila ada yang menjadi kelemahan dalam dakwah ini, maka saya mengamininya, saya bersimpati, dan saya ingin mengajak antum agar kita mampu berhimpun dalam barisan, langkahkan suara hati nurani, agar dakwah yang didasari oleh totalitas dan keikhlasan mampu semakin membaik dengan aspirasi antum di dalamnya, sehingga hadirnya keadilan di negeri, dan cinta dalam ukhuwah.

Roda amanah akan terus bergulir, maka izinkanlah Allah memutarnya dengan hukum-Nya, sehingga suatu kelak roda tersebut mengangkut kita yang mencintai dakwah ini dan memiliki cita-cita besar peradaban untuk kebaikan. Tetaplah teguh, dan tetaplah mencintai dakwah ini, sebagaimana Rasulullah menangis untuk kita di akhir perjalanan dakwahnya.

Penulis : Shidqi Mukhtasor

Tidaklah ia sebuah jamaah yang hidup tanpa adanya perbedaan. Karena jamaah adalah kumpulan dari setiap individu yang berbeda, maka memi...

0 Komentar: