Batalion Cahaya (2)

November 10, 2018 Forum Tarbiyah 0 Komentar


source: pinterest

“Rofiq!”

Panggilan itu mengusik Rofiq yang baru saja akan terlelap. Siapa pula malam-malam begini usil mengganggunya?

“Rofiq … bangun!” Suara itu kembali mengusiknya. Kali ini seberkas cahaya juga menimpa wajahnya. Membuat Rofiq mau tak mau membuka mata. Silau. Cahaya lampu sorot dari lapangan depan tenda menyelinap masuk lewat jendela di dekat tempat tidurnya. Sesosok pejuang yang amat ia kenal berdiri di sana. Menyibak jendela itu dengan tangannya.

“Kenapa, Kak?”

“Bangun, Fiq! Siapkan pakaianmu. Mobil pertama berangkat sebentar lagi.’

Rofiq mengernyitkan dahi. “Bukannya yang mengungsi akan berangkat besok pagi?”

“Anggap saja ada perubahan jadwal. Bersiaplah, Rofiq! Umi sudah menunggumu dari tadi.”

Mau tak mau Rofiq memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas miliknya. Saat ia telah siap meninggalkan tenda, lampu tenda dinyalakan oleh salah seorang petugas. Petugas itu membangunkan anak-anak yang lain dan menyuruh mereka bersiap. Semuanya harus segera mengungsi sebelum fajar terbit. Rofiq bergegas menuju mobil yang telah terparkir di depan tenda. Tampak Umi berbincang dengan Abi dari atas mobil. Kak Hafizh tampak tergopoh membawa ranselnya.

“Kak Hafizh ikut?” tanya Rofiq. Ia sendiri sudah duduk di samping Umi.

Sosok dengan rambut sedikit keriting itu menggeleng. Lalu menyerahkan ransel yang dibawanya pada Rofiq.

“Kakak titip kitab dan mushaf dalam ransel ini ya, Fiq. Setelah situasi terkendali, Kakak dan pejuang lainnya akan menyusul ke perbatasan,” jelas Kak Hafizh. Rofiq mengangguk. Ia tahu betul, betapa kitab dan mushaf ini amat berarti bagi kakaknya.

Salah satu pejuang memberikan kode untuk segera bersiap. Rombongan pertama pengungi akan segera berangkat. Ada sekitar lima mobil dalam rombongan pertama ini.

“Hati-hati Bi, Hafizh,” ucap Umi lirih. Bulir bening menetes perlahan dari pelupuk matanya.

“Kami akan segera menyusul setelah kondisi aman,” ujar Abi menenangkan.

Kak Hafizh menyeringai tipis sambil berujar, “Jaga Umi, Fiq. Ransel Kakak juga.”

Rofiq membalas seringai Kakaknya dengan tatapan sebal.

Rombongan mulai berjalan pelan. Rofiq menatap tenda-tenda di belakangnya dengan tatapan pilu. Lihatlah! Kotanya yang indah hanya tinggal puing. Bangunan-bangunan yang dulunya berdiri megah, kini hanya seperti remahan roti yang tak lagi berbentuk. Dan kini, ia harus terusir dari tanah kelahirannya sendiri.

Suara deru helikopter membuat Rofiq tersadar dari lamunannya. Ia mengernyit heran melihat beberapa pesawat tempur dan helikopter beriringan mendekati langit kotanya. Bukankah seharusnya malam ini gencatan senjata? Kenapa pesawat-pesawat itu ada di sini?

Rombongan mereka mempercepat laju kendaraan. Tak sampai satu menit, kilatan cahaya seperti ditumpahkan dari pesawat-pesawat kejam itu. Suara dentuman susul menyusul memenuhi cakrawala. Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan penuh. Mereka harus segera sampai ke perbatasan. Jika tidak, nyawa semua rombongan akan lenyap dalam sekejap.

Rofiq masih belum mengalihkan pandangan matanya dari gumpalan asap yang tertinggal di belakang mereka. Meskipun yang terlihat hanya gumpalan asap dan cahaya dari bom yang jatuh bak hujan dari pesawat di atas sana. Apa itu? Rofiq menajamkan pandangan kembali ke letak kotanya. Ada sebuah cahaya yang melesat ke atas! Disusul cahaya-cahaya lain yang seolah sambung menyambung menuju pesawat-pesawat itu. Apa itu senjata anti roket milik para pejuang? Rofiq berspekulasi dalam benaknya. Tidak mungkin, pejuang di kotanya belum memiliki alat anti roket atau semacamnya. Lantas, apa itu?

Dentuman lebih besar terdengar. Salah satu pesawat yang mengudara di langit kota tampak kehilangan kendali lalu jatuh. Suara dentuman lain menyusul bertubi-tubi. Nasib yang sama pun dialami oleh pesawat lain dalam batalion penyerang itu. Suara takbir terdengar dari para pejuang dan anak-anak yang ikut menyaksikan peristiwa tadi. Rofiq menghela napas. Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin di tangan-Nya.

Bumi Allah, 11 September 2016 

Penulis: Chairiza Ulya 

source: pinterest “Rofiq!” Panggilan itu mengusik Rofiq yang baru saja akan terlelap. Siapa pula malam-malam begini usil mengganggun...

0 Komentar: