Abdullah bin Rawahah, Sang Penyemangat yang Sempat Ragu-ragu

November 18, 2018 Forum Tarbiyah 0 Komentar

source: pinterest

Ketika berlangsung Baiat Aqobah pertama di tahun ke -12 kenabian, Abdullah bin Rawahah merupakan salah satu 13 (ada juga yang berpendapat 12) orang yang menjabat tangan Rasulullah Muhammad shallahu alahi wasallam untuk berjanji setia. Ia salah satu dari beberapa orang yang ikut menyebarkan syiar Islam di Bumi Madinah, sekaligus mempersiapkan tempat hijrah untuk kejayaan Islam.

Ketika datang musim haji di tahun ke-13 kenabian, sekelompok kaum muslimin Madinah dalam jumlah besar  datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ibnu Ishak meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik, sebanyak 73 mukminin dan dua mukminah berbaiat kepada Rasul. Termasuk pula Abdullah bin Rawahah

Ia adalah seorang penulis yang tinggal di lingkungan yang langka akan kepandaian baca-tulis. Ia juga seorang ahli syair yang mempesona. Setelah keimanan tertancap kuat di dadanya, ia jadikan keahliannya dalam bersyair untuk membela Islam dan menjadi penyemangat kaum muslimin. Rasulullah pun sangat suka dengan syair-syairnya.

Ia teramat sedih ketika turun firman  Allah dalam Q.s As Syu’ara (26) : 224, (Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat) di dalam syair-syair mereka, lalu mereka mengatakannya dan meriwayatkannya dari orang-orang yang sesat itu, maka mereka adalah orang-orang yang tercela).

Namun kesedihannya tak berlangsung lama karena segera terobati dengan turunnya wahyu pada surat yang sama di ayat ke-227, kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Ketika ada seruan untuk berjihad, ia menyambutnya dengan suka cita. Ia lantunkan syair,

 "Duhai jiwa, jika tidak terbunuh, kau akan mati juga."

Dan panggilan jihad pun datang kembali. Kali ini dari arah Mu’tah. Sebuah desa di daerah Balqa, Syam. Ghazwatu Jaisyil Umara’ perang pasukan para pemimpin, begitu ulama sirah menyebutnya. Terjadi pada bulan Jumadil Awwal tahun 8 Hijriah.

Iring-iringan pasukan dari pihak musuh berjumlah 200 ribu tentara terlihat tiada habisnya barisan tersebut. Sedangkan di pihak kaum muslimin hanya 3000 pasukan. Tentu saja dengan perbandingan yang begitu besar ini membuat kaum muslimin merasa was-was, khawatir akan kekalahan.

Beberapa sahabat berkata, "Sebaiknya kita kirim utusan kepada Rosululloh, memberitaukan jumlah musuh, mungkin kita dapat tambahan pasukan. Jika diperintahkan tetap maju, kita patuhi."

Namun Abdulloh ibnu Rawahah radhiyallahu anhu tampil dengan ucapannya,

"Wahai kaum muslimin, apa yang kalian takutkan adalah sesuatu yang kalian kejar selama ini, yaitu mati syahid. Kita memerangi mereka bukan karena jumlah maupun kekuatan kita. Namun kita memerangi mereka karena agama Islam yang dengannya Allah memuliakan kita. Berangkatlah! Yang ada hanyalah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid!"

Maka semangat kembali tumbuh di hati kaum muslimin. Dan menjadikan mereka berperang dengan tangguh.
Perang pun  terjadi dengan begitu sengit karena lawan yang tak seimbang dalam jumlah.

Panglima pertama atau pemegang bendera pasukan yang ditunjuk Rosul yaitu Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu  tewas.
Panglima kedua atau pemegang bendera pasukan yang ditunjuk oleh Rosul pun menyusul saudaranya ke Surga dengan dengan kedua tangan yang telah terputus dan wajah ceria.

Kini tiba giliran pemegang bendera pasukan yang ketiga yang telah ditunjuk oleh Rasul. Tak lain tak bukan adalah Abdullah bin Rawahah sendiri. Sempat ada keraguan dalam hatinya, karena ia merasa bertanggung jawab atas hidup-mati pasukannya namun keraguan itu segera ia lenyapkan dengan semangat yang ia senandungkan dalam syair,

"Duhai jiwa, aku telah bersumpah ke medan laga
Tapi engkau, seakan menolak Surga
Duhai jiwa, jika tidak terbunuh, kau akan mati juga
Inilah kematian yang kau damba
Telah datang apa yang kau minta
Jejak keduanya (Zaid dan Ja’far) telah terbuka."

Ia maju dan memporak porandakan pasukan Romawi dengan gagah berani. Di tengah perang yang begitu hebatnya, datang seorang saudara memberikan sepotong tulang yang masih tersisa sedikit daging dan menyodorkannya kepada Abdulloh bin Rawahah dengan berkata, "makanlah agar kekuatanmu pulih."

Namun ketika hendak menggigit terdengar seruan dari arah tertentu,  "engkau masih di dunia!" Ibnu Rawahah segera melemparnya. Ia terus maju dan sabetan pedang pun menewaskan sang penyemangat yg sempat ragu-ragu.
Ucapan salam untukmu wahai Abdullah ibnu Rawahah.

Klaten, 28 Shafar 1440 H


Penulis: Halimah As Sa


source: pinterest Ketika berlangsung Baiat Aqobah pertama di tahun ke -12 kenabian, Abdullah bin Rawahah merupakan salah satu 13 (ada j...

0 Komentar: