Batalion Cahaya

Oktober 28, 2018 Forum Tarbiyah 0 Komentar

source:pinterest

Bagaimana kami mengetahui para pemilik kebenaran di zaman penuh fitnah? 
Imam Syafi’i berkata, Lihatlah panah-panah musuh diarahkan kepada siapa, maka akan kalian temukan para pemilik kebenaran. 

Matahari sore mulai condong ke ufuk barat. Seperti hari-hari yang lalu, masjid Al-Barkah selalu dipenuhi anak-anak hingga remaja. Mereka terbiasa berkumpul dalam halaqoh untuk menyetorkan hapalan yang mereka punya. Rofiq mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suara-suara lembut dan tegas mengambang memenuhi langit-langit masjid.

Ia menghela napas kesal. Sudah sedari tadi ia selesai menyetorkan hapalan. Seharusnya saat ini ia dan teman-temannya tengah bermain bola di lapangan seberang masjid. Seharusnya ia dan teman-teman yang telah selesai setoran diperbolehkan pulang. Tapi nyatanya? Jarum panjang jam telah kembali tegak di angka dua belas, namun Rofiq tak sedikitpun bisa melangkah ke luar masjid.

Kebosanan benar-benar melanda pikirannya. Duduknya pun tak lagi tenang seperti lima belas menit yang lalu. Rofiq tahu diam-diam Ustadz Hisyam mengawasi dari meja guru, tapi apa yang bisa ia perbuat? Ia malah berharap Ustadz Hisyam menyuruhnya ke luar dari masjid. Tak peduli jika itu memang benar-benar suruhan untuk sebuah hukuman. Rofiq lagi-lagi menghembuskan napas sebal. Bocah berusia duabelas tahun itu mencoba kembali fokus pada lembaran mushaf di hadapan.

“Rofiq!”

Belum lagi Rofiq menoleh ke asal suara, sebuah suara lain yang lebih besar berdentum-dentum menyentuh kubah masjid. Lantas, semuanya berubah gelap. Amat sangat gelap.

*---*---*
Perih. Rofiq mencoba mengusap mata yang terasa perih. Serbuk-serbuk putih bertebaran di sekitar. Ia terbatuk. Kesadarannya telah pulih seutuhnya. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Ah, di mana ini? Tubuh Rofiq terjepit di antara potongan-potongan dinding yang tak lagi jelas berbentuk. Apa yang telah terjadi? Ia mencoba mencari potongan memori terakhir yang tersisa di benak. Halaqoh. Panggilan Ustadz Hisyam. Suara berdentum di kubah masjid.

Rofiq kembali terbatuk. Napasnya mulai sesak. Bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini? Seberkas cahaya menyeruak dari celah dinding di depannya. Cahaya itu membuat Rofiq harus sedikit memicingkan mata karena silau. Sekarang Rofiq tahu persis apa yang harus ia lakukan. Ia mulai berteriak. Benar saja, regu penyelamat yang ada di permukaan segera menyingkirkan potongan dinding dari tempat suara teriakan berasal.

“Kau tak apa, Nak? “ Salah seorang petugas berseragam membawanya dalam dekapan. Rofiq menggeleng lemah. Setelah itu, pandangannya kembali gelap.

*---*---*

Angin bertiup lembut, membawa beribu pesan di balik ketenangan yang ia hadirkan malam ini di bumi Syam. Rofiq diam-diam mengintip batalion yang berjaga di sekitar pemukiman dengan senjata lengkap. Sudah hampir seminggu dari kejadian waktu itu. Dan sudah selama itu pula Rofiq mendengar suara bising senjata atau bom dari kejauhan.

Tapi anehnya, tak ada suara apapun di luar sana saat ini. Apa perang sudah berakhir? Bisik-bisik para pejuang mulai terdengar seperti dengungan. Apa yang terjadi?

“Gencatan senjata! Anak-anak dan wanita akan mengungsi saat matahari dhuha naik ! Semuanya bersiap!” Itu suara Paman Ahmad, pimpinan pejuang di sektor wilayah kami.

Rofiq terlonjak senang. Itu artinya, ia bisa melewati malam ini dengan tenang.  Beberapa Pejuang tampak meninggalkan pos jaga mereka. Anak-anak yang lain bergegas memasuki tenda. Rofiq justru menghampiri seorang pejuang yang tengah berjaga di bawah salah satu reruntuhan di dekat tenda. Usia pejuang itu hanya terpaut empat tahun darinya. Tapi perbedaan empat tahun itu dapat membuat sosok di hadapannya diizinkan menjadi pejuang. Sedangkan dirinya tidak.

“Tidur, Rofiq. Kau bisa tidur nyenyak malam ini. Kenapa malah berkeliaran di luar tenda?” Sederet kalimat tadi menyambut Rofiq saat berada di samping Kak Hafizh.

Rofiq terdiam. Ia menatap gugusan bintang yang bertahta di langit malam.
“Kak, apa umat Islam masih menjadi umat terbesar di dunia?” 

Kak Hafizh mengalihkan pandangan ke wajah adik kesayangannya itu. Ia tersenyum tipis. “Tentu saja, Rofiq. Meski hanya kedua terbesar di dunia, umat Islam masih termasuk umat yang besar.”

“Kalau memang umat Islam itu besar … kenapa tidak ada satu pun yang menolong kita, Kak?”

Kak Hafizh terdiam. Helaan napasnya terdengar gusar. Ia tahu, cepat atau lambat adiknya yang amat kritis ini pasti akan mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang juga selalu memenuhi benaknya sejak bom pertama dijatuhkan di kota mereka.

“Mereka membantu kita, Rofiq. Lihat! Tenda, obat-obatan, ambulan, bahkan makanan dan pakaian. Mereka membantu kita saat kita tertimpa kesusahan,” tutur Kak Hafizh pelan.

Rofiq menggeleng cepat. Bukan bantuan seperti itu yang ia maksud.
“Maksudku … apa tak ada satu pun pemimpin muslim yang mampu membantu kita mengakhiri semua peperangan ini?” Suara Rofiq bergetar. Segala resah dalam benaknya keluar sudah.

Kak Hafizh kembali menghela napas,” Mereka punya urusan yang jauh lebih penting, Rofiq.”

“Jadi … mereka membiarkan kita dibantai begitu saja?”

“Kita tak pernah berjuang sendirian, Rofiq. Allah selalu bersama kita.”

Rofiq menunduk. Ia melupakan satu hal. Meski seluruh dunia memalingkan wajah dari tanahnya, mereka tak pernah benar-benar berjuang sendirian. Mungkin para pemimpin muslim di luar sana tak bisa melakukan apa-apa karena keterbatasan mereka. Tapi ada yang jauh lebih berkuasa melakukan apapun. Dan Ia, takkan pernah meninggalkan umat-Nya.

Bersambung ... 


Written by: Chairiza Ulya

source:pinterest Bagaimana kami mengetahui para pemilik kebenaran di zaman penuh fitnah?  Imam Syafi’i berkata, Lihatlah panah-panah m...

0 Komentar: