Trick biar jago Husnudzon

September 30, 2018 Forum Tarbiyah 0 Komentar


             Suatu hari, papa menunjukkan ku sebuah buku dan berkata “kak, baca deh buku ini. Kalo udah selesai, kita praktekkin ya” Aku yang melihat papa hanya tersenyum sambil membalas tantangan papa “InsyaAllah, siap laksanakan pa!”

Judul bukunya, Rahasia Magnet Rezeki, karya Nasrullah. Inti dari buku tersebut adalah, apapun yang terjadi pada kehidupan kita, semuanya bagus, baik dan bermanfaat. Jika ada hal yang tidak nyaman dalam kehidupan kita, segera jadikan kejadian itu sebagai kejadian yang positif. Pastinya, memang tidak mudah. Tapi kita harus fokus pada hasil akhir dari segala fikiran kita. Jika kita ingin ujungnya positif, maka dimulai dari pikiran kita yang positif. Setelah aku selesai membaca buku itu, papa berkata:

“Are you ready to play?”
“Bismillah, Why not pah 😃?” jawabku

Dan permainan pun dimulai. Di permainan pada buku ini, aku dan papa dipaksa untuk mengucapkan kata “Alhamdulillah, buaguuus itu……!” dengan bersemangat terhadap seluruh peristiwa yang tidak mengenakkan. Setelah itu, menyebutkan alasannya kenapa bagus.

Contohnya, ada seorang bapak A yang berhadapan dengan bapak B dihadapannya. Bapak A mengabarkan seperti ini “Kabarnya, istri kamu cinta sama saya”. Nah, bapak B hanya boleh menjawab “buaguuus itu….”

Tentunya, pengucapan kalimat “buagus itu” berlawanan dengan harapannya. Mestinya, istri bapak B hanya boleh mencintainya saja dan tidak boleh mencintai orang lain. Tapi, disinilah tantangannya. Ingat, Fakta apapun tidak penting, yang penting adalah respons kita atas fakta itu.

Respons di sumber pikiran hanya 2. Bagus atau buruk. Nah, seringkali ketika kita dihadapkan pada hal yang tidak kita suka, maka respons kita adalah melawannya dengan keras. Hal inilah yang akan membuat semua nasib kita sesuai dengan yang kita pikirkan. Ketika kita pikirkan “wah…buruk ini…” maka, itulah yang akan terjadi. Yang terjadi bener-bener tidak baik.

Jadi, bagaimana? Ya harus dipaksa husnuzhon. Sekali lagi, dipaksaa! “Allahumma paksain….” Hehe
Dengan husnuzhon, bapak B akan menjawab “Buaguss itu…pantas saja beberapa bulan ini istri saya uring-uringan…ternyata karena ada lelaki lain difikirannya. Pak, terimakasih atas informasinya. Dengan begini saya jadi tahu alasan kenapa istri saya berubah. Tolong banget cintanya jangan diterima karena kami sudah lama menikah. Dengan informasi ini, saya akan rapihkan cinta saya dan istri saya dan kami akan melalui ujian ini dengan berhasil insyaAllah…terimakasih sekali lagi ya pak…”

Naah...keren kan jawabannya? hehe
Coba apa kira-kira yang akan terjadi jika bapak B merespon negative dan tidak suka dengan fakta yang baru saja terhidang, dia katakan “waaah ini buruk sekali” maka kita bisa menduga bahwa ketika bapak B pulang kerumahnya, dia akan cekcok dengan istrinya, saling bersilat lidah, dan seterusnya…dan seterusnya…

Tapi, ketika jawaban indah diatas, tentang penerimaan bapak B yang ikhlas dan berusaha memandang dari sudut pandang yang lain, maka kira-kira apa yang akan terjadi? Yaa benar….kamu sudah melihat hal-hal baik yang terjadi pada mereka semua. Sangat mungkin hal ini lah yang akan terjadi:

bapak B pulang ke rumah, sambil memikirkan kesalahannya terhadap istrinya. Dia mungkin sepanjang perjalanan akan ketemu dengan beberapa episode kesalahannya pada istrinya, lalu beristighfar, meminta ampun kepada Allah. Lalu saat sampai rumah, tanpa berbicara tentang apa pun yang terjadi dengan bapak A, sang bapak ini langsung saja meminta maaf, memberikan perhatian lebih pada istrinya. Mengajaknya ke restoran saat pertama kali mereka berjumpa. Berbicara dari hati ke hati tentang kehidupan mereka. Menjalani hari-hari special yang indah. Lalu qadarullah istrinya terbit kembali rasa cintanya pada bapak B ini, dan perlahan mampu melupakan bapak A. dan tiba-tiba saja sang istri menjadi istri yang salihah. Istri yang berbakti. Seperti tidak terjadi apa-apa. Hidup mereka terjadi keajaiban, kebaikan demi kebaikan datang pada hidup mereka.

Indah bukan? Ujung yang berbeda 180derajat. Semua bermula dari kalimat “Alhamdulillah, buaguss itu…”
Mengapa kita perlu bersyukur atas peristiwa yang menurut pandangan manusia “tidak mengenakkan”?

Ibaratnya begini sahabat. Suatu saat, kamu terjatuh dan berdarah. Ada seorang berbadan besar yang tiba-tiba menjatuhkanmu. Terbitlah rasa marahmu. Saat kamu melihat ke arah orang tersebut, ternyata dia adalah imam Masjidil Haram yang sangat kamu kagumi. Apakah kamu akan melampiaskan amarahmu? Sepertinya tidak. Kenapa? Karena akhirnya kamu memaafkan dan memaklumi imam tersebut, bahkan kamu kemudian menyalaminya karena ingin mendapatkan keberkahan ulama.
Jika terhadap ulama saja kita mampu demikian, bagaimana jika yang menjatuhkan kita adalah Allah… Sang Pemilik Jagat Raya.

Saat kamu bangkrut dalam sebuah bisnis, dikhianati orang, dibawa kabur uangmu. Lalu terbitlah amarahmu. Tapi tiba-tiba kamu melihat ke belakang dan tersadar bahwa yang menjatuhkanmu adalah Allah Sang Pemilik Bisnismu. Kamu memakluminya…Kamu sadar, bisa jadi Allah akan memindahkan kamu ke sebuah nasib yang lebih baik dari sebelumnya…dan akhirnya kamu mampu mengatakan “Alhamdulillah,buaguuss itu…”

Segala yang terjadi, semuanya pasti terjadi atas izin Allah. Semua fakta yang terhidang dalam kehidupan kita, hanya Allah yang membuatnya terjadi. Maka ucapkan saja, Alhamdulillaaah…buaguss itu…

Jika belum terjadi, tentu kita pun berdoa agar hanya terjadi hal yang baik-baik saja. Seperti doa Rasulullah saw,

“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fissama’I wa huwas sami’ul ‘alim”

“Dengan nama Allah, Yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit yang membahayakan. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”                (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Tapi, jika memang sudah terjadi, maka fakta apa pun yang terhidang semuanya pasti yang terbaik. Allah percaya kamu bisa menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin! Hidup bersama Allah, sangat indah! Semangat menjalani hidup sahabat 😇. Bismillah ya!
Wallahu a’lam bisshowab


Penulis : Nabila G. Forenza

             Suatu hari, papa menunjukkan ku sebuah buku dan berkata “kak, baca deh buku ini. Kalo udah selesai, kita praktekkin ya” Ak...

0 Komentar: