How to Survive as a Post Graduate Student

Mei 09, 2018 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Sister Gathering Forum Tarbiyah.IIUM , 6 mei 2018.
“If you feel inadequate, then you are successful, but if you feel adequate, then you are failed!”
Itu pesan yang disampaikan oleh Assoc. Prof. Mira Kartiwi kepada para mahasiswi postgraduate dalam acara “Sisters Gathering” yang diadakan pada hari Minggu kemarin (6/5/2018) oleh FOTAR (Forum Tarbiyah) IIUM. 

Teh Mira, begitu sapaan akrab beliau, menyampaikan beberapa tips untuk sukses bertahan sebagai mahasiswa postgraduate,  yang beliau rumuskan sendiri dari akumulasi perjalanan beliau ketika dulu berjuang sejak strata satu sampai -dengan izin Allah- mendapatkan gelar doktor pada usia belum genap 30 tahun, di Wollongong University, Australia. 

Teh Mira yang sekarang merupakan dosen di Kulliyah of ICT IIUM, membagikan tiga kunci sukses kepada 30-an peserta “Sister Gathering” yang hadir, yaitu Start Right, Work Right dan End Right.

1.    Start Right

Titik awal ini sangat fundamental dan menentukan keberhasilan selama fase menjadi mahasiswa postgraduate. Sebagai seorang muslim kita tahu bahwa “إنما الأعمال بالنيات” –sesungguhnya perbuatan seseorang itu tergantung pada niat-. Memulai dengan benar, dimaknai oleh Teh Mira sebagai meluruskan niat belajar hanya karena Allah Swt.

Niat ini sangat penting untuk diinternalisasi karena di tengah perjalanan studi pasti mahasiswa akan menemui banyak sekali tantangan.  

“Mungkin bagi yang mengambil mode ‘course work only’ lebih mudah untuk merencanakan masa studi, agak berbeda dengan yang mengambil ‘mix mode’ (course work dan research) yang banyak factor X –nya,” ujarTeh Mira, “seperti supervisor masuk rumah sakit, penelitian yang terhambat, belum lagi konflik dengan supervisor, masalah administrasi, dan sebagainya.” tambah beliau.

Tanpa niat yang lurus karena Allah Swt, akan mudah untuk putus asa bahkan menyerah di tengah perjalanan. Awal yang diniatkan karena Allah ini yang dapat memberikan kekuatan kepada para mahasiswa untuk sungguh-sungguh memang menuntut ilmu, tidak hanya sekedar mengejar gelar akademis yang dapat menghalalkan segala cara, seperti plagiarisme.

2.    Work Right

Teh Mira membagi kunci ini menjadi tiga poin: Process, Tools dan Skills. Di dalam elemen proses. Teh Mira menekankan pentingnya perencanaan (planning) sebelum dan selama melakukan studi. Selain itu, beliau juga mengingatkan semua peserta untuk tidak malas membaca. Menjadi seorang PG student berarti telah mampu mewajibkan diri untuk membaca setiap hari. Apakah membaca topik-topik yang berkaitan dengan domain kita atau bacaan yang menyokong pengetahuan kita sebagai seorang akademisi. Teh Mira kemudian menyarankan untuk merencakan hari-hari sebagai mahasiswa PG dengan fokus dan sesuai prioritas. Saat membaca, fokuskan membaca tidak usah menulis. Saat menulis, fokuskan menulis. Bahkan jika suatu hari sangat sibuk, sempatkan untuk membaca abstrak dari satu artikel saja.

Poin yang kedua adalah tools. Untuk membuat proses penelitian dan menulis semakin efektif, Teh Mira mendorong para peserta untuk mempelajari beberapa tools yang bisa meningkatkan produktivitas sebagai seorang akademisi. Beliau memberi contoh beberapa fitur di Microsoft Word yang ternyata belum banyak diketahui dan digunakan oleh para mahasiswa; seperti linking documents dan fitur-fitur lain yang bisa dilakukan untuk menghemat waktu dibandingkan dengan melakukannya secara manual.

Poin yang ketiga adalah skills. Teh Mira menyayangkan fenomena di mana hanya sedikit sekali mahasiswa yang mau meluangkan waktu dan materinya untuk berinvestasi pada dirinya sendiri untuk meningkatkan kapasitas sebagai PG student. Ada dua skills penting di sini;

Pertama, skill yang berkaitan dengan produktivitas. Teh Mira memberikan contoh; skill membaca cepat dan skill untuk formatting yang sangat membantu dalam menulis tesis, disertasi atau tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Dengan skill membaca cepat tersebut, target membaca artikel dan literatur tidak akan lagi menjadi aktivitas yang menguras waktu. Begitu juga formatting skill, selain dapat menulis dengan lebih sistematis serta meminimalisir koreksian dari penguji, skill ini juga dapat mengurangi biaya-biaya yang sebenarnya bisa dipangkas.

Kedua, skill dalam berpikir kritis. Dalam hal ini, Teh Mira mengutip perkataan supervisor beliau dulu, “You are not a PhD student if you can’t critize an article.” Teh Mira mendorong semua peserta untuk memulainya dengan membaca artikel secara kritis dan agar tidak takut untuk mengkritisi pendapat seorang professor sekalipun. Untuk itu beliau membagi tips untuk dapat berfikir kritis dengan membiasakan membaca buku-buku filosofi yang berkaitan dengan bidang expertise masing-masing, terkhususnya bagi mahasiswa PhD yang memang merupakan Doctor of Philosophy.

3.      End Right

Ketika akan mengakhiri perjalanan sebagai PG students, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi kembali untuk memastikan proses belajar yang panjang itu tidak sia-sia.Menurut Teh Mira perlu ditanyakan kepada diri sendiri hal berikut ini:

Pertama, apakah pengetahuan kita telah bertambah? Idealnya, ketika lulus seorang mahasiswa postgraduate harus sudah menjadi ahli (expert) dalam bidang yang ia tekuni.

“Jika bertahun-tahun menyelesaikan studi tapi merasa tidak ada yang bertambah, berarti ada yang salah dalam proses belajar kita,” 

Kedua, apakah managerial skills kita berkembang? Tentu dengan tantangan selama masa belajar, seharusnya seorang mahasiswa postgraduate memiliki kemampuan problem solving (dan skill lain) yang jauh lebih matang dari pelajar undergraduate. 

Ketiga, apakah soft skill kita menjadi lebih baik? Salah satu soft skill yang penting adalah keterampilan komunikasi. Teh Mira mencontohkan, idealnya seorang Master atau Doktor yang notabene telah banyak tahu, mampu menyampaikan ilmunya kepada masyarakat dengan gaya komukasi yang baik. Jika kekuatannya pada public speaking, maka sampaikan secara verbal. Tapi jika lebih nyaman dengan menulis, tulis dan sebarkan ilmu yang sudah didapatkan melalui tulisan-tulisan dan terus asah skill tersebut. Beliau memberikan sebuah nasehat, “Perlu terus diingat bahwa ada hak orang lain dari ilmu yang kita miliki.”

Terakhir, tanyakan kepada diri. Apakah semakin belajar kita semakin merasa tidak tahu, atau malah merasa yang paling tahu. Proses belajar dengan segala tantangannya sejatinya mampu membuat seseorang memiliki humbleness atau kerendahan hati. Merasa, bahwa ternyata banyak yang masih harus diketahui, merasa kecil tanpa pertolongan Allah Swt, dan tidak cepat puas terhadap pencapaian diri.

Teh Mira berpesan “if you feel inadequate, then you are successful. But if you feel adequate, then you are failed!” Sehingga, jika ternyata humbleness itu tidak ada, maka perlu kembali kepada kunci pertama: memeriksa niat apakah memang tujuan belajar kita untuk mengejar ridha-Nya?

Sister Gathering Forum Tarbiyah.IIUM , 6 mei 2018. “If you feel inadequate, then you are successful, but if you feel adequate, then you...

0 Komentar: