Memahami Setelah Mengerti Itu Perlu

Februari 15, 2018 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Gambar: Islami.co

Seketika ada yang ingin kutulis tentang cerita kejam yang berhasil menjadi landasan untuk bangkit. Kenangan ini tiba-tiba terlintas di fikiranku ketika sedang mengkaji ulang pelajaran nahwu yang pernah aku pelajari di pondok dulu. Pelajaran nahwu adalah pelajaran yang mungkin menjadi salah satu pelajaran susah bagi sebagian santri. Tapi bagaimanapun ini adalah pelajaran yang menjadi ciri khas seorang santri. Kali ini bukan pelajaran nahwu yang akan aku bahas di tulisan ini, tapi pelajaran yang begitu berpengaruh dalam membentuk karakter diri seseorang. 

Semua berawal dari ketidaktertarikanku belajar di pondok pesantren yang katanya memiliki pola hidup yang keras dan monoton. Hmmmm opini itu memang tidak salah, pola hidup disana memang keras, keras dengan disiplin. Bukan hanya disiplin dalam ilmu, tapi juga disiplin dalam hidup. Kata mereka jalan hidup di sana monoton, mungkin yang mereka maksud monoton adalah monoton dalam menjalankan sunnah-sunnah pondok pesantren seperti shalat berjama’ah, ngaji kitab, bangun pagi, dan lain-lain. Memang keras dan susah, tapi di pondok inilah aku bukan hanya diajarkan untuk mengerti, tapi aku diajarkan untuk memahami. Bukan hanya sekedar memahami pelajaran, tapi memahami hakikat makna kehidupan yang sebenarnya. 

Mengerti dan memahami adalah dua hal yang berbeda, tidak semua yang mengerti dapat memahami, tapi semua yang memahami merekalah yang mengerti. Bagaimanapun keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Kita perlu mengerti untuk dapat memahami, tidak akan pernah ada pemahaman tanpa pengertian. Ketika kita bisa memahami sesuatu, maka kita akan mengerti bagaimana kita harus memperlakukan sesuatu itu. 

Mengerti hanya melibatkan fikiran saja, sedangkan memahami akan melibatkan fikiran dan perasaan yang akan melahirkan sebuah emosi. Dengan sebuah pemahaman, kita akan mudah dalam menentukan suatu sikap terhadap orang lain. pengertian dan pemahaman tidak akan pernah dicapai tanpa proses belajar. Lagi-lagi di pondok ini aku diajarkan memiliki dua dimensi untuk belajar KELAS dan KEHIDUPAN.

Al-imtihanu yukramu al-maru aw yuhanu. Inilah kalimat dalam bahasa arab yang terpampang besar di gedung ulul albab yang pada awalnya aku tidak pernah benar-benar lirik.  Karena kalimat itu memang selalu ada terbentang di sana. Semakin lama rasa ingin tahu pun muncul dalam diriku untuk sekedar mengerti makna dari kalimat itu. Mengapa kalimat itu selalu terpajang di sana walau para santri tidak sedang menempuh ujian karena arti dari kalimat itu adalah (ujian memuliakanmu atau menghinakanmu). karena selama ini aku hanya sekedar mengerti akan kalimat tersebut dalam konteks ujian pondok. Tapi ternyata setelah aku memahami makna dari kalimat tersebut dalam konteks yang lebih besar yaitu kehidupan, kalimat itu memiliki makna besar untuk kehidupan kita. Inilah yang aku sebut proses belajar di dalam kelas dan di dalam kehidupan. 

Sejatinya hidup itu sendiri adalah ujian. Ujian tidak akan pernah berhenti selama proses kehidupan itu tidak berhenti, itulah mengapa kalimat itu terus terpampang di sana. Setiap kali kita menemui ujian itu, maka di situlah peluang kita untuk menjadikan diri kita lebih baik ataupun lebih buruk. Kita mampu menjadikan ujian di setiap fase kehidupan sebagai sarana kita untuk menjadikan diri kita lebih baik. Itu kalau kita mampu berikhtiyar dalam menempuh ujian itu ya. Berikhtiyar adalah bertawakal setelah berusaha. Karena dengan ikhtiyar, kita secara tidak langsung melibatkan ALLAH dalam setiap langkah kita. 

Karena hakikatnya manusia hanya mampu merencanakan, dan Allah yang menentukan. Sebuah keberhasilan dalam ujian bukanlah diukur dengan mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi adalah ketika kita mampu bersyukur dengan apa yang telah Allah takdirkan untuk kita. Disinilah ujian dapat menjadikan diri kita menjadi lebih baik, menjadikan kita tetap mengingat Allah di setiap langkah hidup kita. karena ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tidak akan lupa untuk bersyukur mengingat Allah. Dan ketika Allah belum memberikan apa yang kita inginkan, maka syukur dan muhasabah akan menjadikan kita tetap mengingat Allah, dan menjadikan diri kita lebih baik. 

Bagaimanapun, ujian dalam kehidupan ini juga dapat menjadikan kita lebih malah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Ketika kita lupa untuk melibatkan Allah dalam setiap masalah dan dalam setiap langkah hidup kita, sejatinya kita akan kehilangan arah, mencari bantuan kepada makhluk yang juga memerlukan bantuan.  Lagi-lagi tanpa pemahaman, pengertian itu kurang memiliki arti. Di dalam kelas kita belajar untuk ujian, tapi di dalam kehidupan kita diuji untuk belajar. Keduanya tetap memiliki kesinambungan satu sama lain. teruskan perjuanganmu wahai pejuang ilmu. 

Bagaimanapun kau akan sampai pada titik di mana kelas dan kehidupan akan bertemu di satu titik yang menjadikanmu lebih mengahargai perjuanganmu sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Karena kehidupan di dunia adalah ladang amal kita, dimana kita akan kembali membawa hasil untuk kehidupan abadi kita.

الإمتهان يكرو المرء أو يهان

(Ujian memuliakan-mu atau menghinakan-mu).


Penulis: Sarah Noor Islah Jamil

Gambar: Islami.co Seketika ada yang ingin kutulis tentang cerita kejam yang berhasil menjadi landasan untuk bangkit. Kenangan ini...

0 Komentar: