FOKUS

Februari 23, 2018 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Image result for ilustrasi fokus muslim
Gambar: http://csms.lexington1.net
Pernah dengar kalimat "We are what we think"? Kalimat Buddha tersebut begitu lazim didengar, mungkin karena ramai orang yang mengamininya, termasuk saya. Walaupun ada penggalan lain yang menyangkal "We are not what we think, or what we say, we are what we do", sepertinya sangkalan ini tidak terlalu signifikan karena pikiran, perkataan dan perbuatan kita bukannya tidak bisa berkoeksis, melainkan mereka masing-masing membentuk siapa diri kita. Ya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa pemikiran kita adalah salah satu komponen utama dalam hidup kita.

Oke, terus apa?

Terus mari kita bertanya, apa yang sudah kita lakukan untuk mengarahkan pemikiran kita? Apa usaha kita untuk menjadikan pemikiran kita produktif? Atau apakah kita membiarkan pikiran kita menjadi produk dari apa saja yang tersaji di hadapan kita?

Tunggu. Kenapa ini ko terlalu bertele tele. Sebelum semua itu, apakah pikiran kita akan dipertanggung jawabkan nanti? Wallahu a'lam. Mungkin hadits berikut bisa bantu menjawab:

"...Jika ia ingin mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, tulislah sebagai kebaikan untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, tulislah baginya sepuluh kali kebaikannya itu hingga tujuh ratus (kebaikan)." [HR Bukhari, no. 7501]

Keinginan, yang hanya ada di pikiran saja bisa menjadi sumber pahala untuk pemiliknya.Terlepas dari bagaimana hitung-hitungan tentang pikiran kita, kita tahu bahwa pikiran kita adalah salah satu penyebab utama perbuatan kita. Hal lain yang harus sama-sama kita sadari juga adalah kita hidup di periode waktu di mana ledakan informasi telah terjadi, yang membuat kita bisa mengakses informasi jauh lebih banyak dari orang sebelum kita. Belum lagi kita juga dibombardir sana sini oleh media (seperti billboard misalnya) yang bahkan tidak meminta izin untuk membuat kita melihat apa yang kita lihat. Juga berlebihnya stimulasi dalam kehidupan sehari hari yang menuntut kita untuk bermultitask, contohnya berjalan sambil main telepon genggam. 

Mau tidak mau, kita mempunyai tantangan yang berbeda untuk berpikir jernih di zaman ini. Jika dulu ayah kita punya waktu untuk berpikir ketika ia di perjalanan pulang dari kantor, sekarang kita sibuk dengan menggulir foto-foto di instagram ketika kita dalam kendaraan. Coba tanya, kapan waktu yang paling pas untuk berpikir tenang bagi diri kita? Mungkin sebagian kita bahkan tidak sadar bahwa ada waktu yang 'lebih tenang' dari waktu lainnya. 

Sebenarnya, inti dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan diri saya untuk kembali melatih fokus pemikiran saya. Untuk tidak menyibukkan diri pada hal-hal yang sebenarnya bukan urusan saya. Untuk meningkatkan usaha dalam menjadikan pikiran saya sebagai sumber keridhaan yang Maha Mengetahui segala isi pikiran. Tentang hal ini, ada sebuah hadits yang sering menyentil saya:

"Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya ". [HR at-Tirmidzi, no. 2318]

Ternyata begitu simpel. Ketika kita hendak berbuat sesuatu, hadits tersebut mengajarkan sebuah tes litmus untuk dieksekusi dalam pikiran kita: apakah ini bermanfaat buat saya? Mungkin kita terlalu lama berjibaku dalam maraton film sehingga tidak ada waktu tersisa untuk berdialog secara jujur dengan diri kita. 

Pikiran kita adalah salah satu sumber utama perbuatan kita, untuk itu kita harus mengambil kembali tali kendali pikiran kita sepenuhnya. Kita akan menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa kita pikirkan ketika kita mempunyai kesempatan luang untuk berpikir. Mari ingatkan diri kita bahwa pikiran yang paling mulia dan bermanfaat adalah yang ditujukan untuk Allah dan kehidupan setelah kehidupan ini. Ibnu Qayyim rahimahumullah telah memaparkan secara lugas 5 macam 'pikiran yang ditujukan untuk Allah'. Saya rasa macam macam pikiran ini seperti hierarki, dengan macam pertama yang paling menantang dan macam terakhir yang lumayan mudah untuk langsung dieksekusi. Bagaimanakah pikiran yang ditujukan untuk Allah?

1. Merenungi Ayat-ayat di Al-Qur'an, Memahami dan Mengamalkannya. 
Sudah ramai diketahui bahwa al-Qur'an adalah buku petunjuk, dan semoga tidak hanya itu. Semoga kita juga sudah memperlakukannya sebagai sumber petunjuk. Ulama terdahulu ramai berkata: "Allah menurunkan al-Qur'an untuk diamalkan, tetapi orang-orang malah menjadikan bacaan al-Qur'an sebagai bentuk pengamalan." Jika kita belum mengamalkan apa yang kita baca dari al-Qur’an, maka mari berbenah untuk hal itu.

2. Memikirkan Ayat-ayat Kauniyyah, Mengambil Pelajaran dan Menjadikannya Hujjah.
Ayat kauniyyah yang berupa ciptaannya yang terbentang di alam semesta dan bahkan di dalam diri kita sepatutnya menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya dan lebih merasakan keberadaan-Nya. Memperhatikan, memikirkan dan merenungkan ciptaan-Nya adalah salah satu hal yang bisa didapatkan ketika kita mengurangi eksposur dari hal-hal yang jika berlebihan bisa melalaikan, sosial media contohnya. Ekhm.

3. Memikirkan karunia-Nya, nikmat-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, serta kesabaran-Nya.
Menghitung dan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah adalah hal selalu kita usahakan, inshaaAllah. Berfikir lebih jauh tentang bagaimana cara nikmat itu bisa sampai kepada kita juga akan membantu kita lebih bersyukur kepada-Nya. Bahkan, kalau kita bandingkan nikmat itu dengan 'nakal' dan lalainya kita, kita bisa memaknai lebih dalam arti dari Sang Maha Pemurah, Sang Maha Pemaaf, Sang Maha Penyabar.

4. Memikirkan Aib dan Kerusakan Yang Terdapat Pada Diri dan Perbuatan Kita.
Hal yang menarik disini adalah imam Ibnu Qayyim mengikutsertakan hal ini sebagai suatu bentuk pikiran yang ditujukan untuk Allah. Tapi memang dengan memikirkan hal ini kita bisa mengetahui hal yang perlu kita perbaiki pada diri kita, sehingga pada akhirnya kita hanya peduli dengan bagaimana Allah akan selalu ridha pada kita. Terkadang, aib saudara kita lebih terlihat jelas karena kita tidak berpikir lama untuk hal ini.

5. Memikirkan Pentingnya Waktu dan Penggunaannya.
Imam Ibnu Qayyim selanjutnya menjelaskan bahwa ini bisa dicapai dengan mencatat seluruh kegiatan beserta waktunya, karena siapa yang menjadikan waktunya untuk Allah dan untuk mengerjakan perintah-Nya, maka itulah kehidupan dan umurnya. Bukan berarti waktu yang bermanfaat hanya shalat dan ibadah ibadah lainnya, melainkan juga setiap kegiatan yang tidak bertentangan dengan agama kita dan diniatkan untuk mencari ridha Allah.
Begitulah salah satu kiat praktis dari ulama besar kita, yang bisa langsung dipraktikan dalam kehidupan keseharian sehingga kita bisa mendapatkan ridha-Nya dengan mengarahkan pikiran kita. Terkadang kita cemburu melihat kawan yang begitu produktif dan proaktif, bagaimana mereka melakukan itu? Mungkin, salah satu kiatnya adalah dengan terus berpikir ‘Apalagi yang saya bisa lakukan untuk menjadi lebih baik di mata-Nya?’. Sehingga dari pertanyaan-pertanyaan seperti itulah muncul ide cemerlang untuk menginisiasi sebuah proyek untuk makcik-makcik cleaner, membuat kegiatan di mushalah sekitar, menentukan target baru Hafalan Qur’an untuk bulan ini, atau bahkan ide untuk melakukan inovasi bisnis sederhana, dll. 

Fokus, adalah 1 kata yang perlu kita ulang untuk diri kita ketika aib orang lain terasa menarik untuk jadi bahan pembicaraan, ketika kita bisa menghabiskan waktu 1 jam hanya untuk melihat foto terkini kawan di instagram, ketika tidak ada ide baru selama 1 bulan, ketika dalam 1 minggu kita belum mendapatkan pemaknaan baru dari bacaan Al Qur’an. 

Fokus, seperti dalam fotografi, ketika kita ingin mendapatkan suatu objek secara detail kita harus mengarahkan fokus hanya untuk objek itu, sehingga hal hal yang tidak penting disekitarnya akan menjadi bokeh yang buram. Namun buramnya lah yang membuat foto itu lebih indah.
Wallahu a’lam bishawab.


Penulis : Fadhilah Assadah Abdul Aziz

Gambar: http://csms.lexington1.net Pernah dengar kalimat "We are what we think"? Kalimat Buddha tersebut begitu lazim didenga...

0 Komentar: