Tempat Ternyaman

Desember 29, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Menyepi
Gambar : global.liputan6.com

Pernahkah kita merasakan datang ke sebuah tempat yang benar-benar asing dalam keadaan sendiri dan tidak tahu kemana arah yang hendak dituju. Tetapi, kita malah berdiam diri dan menyerah karna kebingungan hendak kemana. Kita sudah merasa sangat bodoh dan gagal dan menyalahkan diri kita karna tersesat.

Siapa yang salah di sini?

Di sebuah tempat itu padahal ada banyak papan-papan tanda jalan yang menunjukkan arah, di sana juga ada sang penjaga tempat atau pak satpam yang tahu arah-arah menuju tempat. Juga ada beberapa orang yang lewat untuk bisa ditanyakan tempat tujuan kita. Situasi ini terdengar tidak asing, bukan?

Tapi sayangnya, kebanyakan dari kita seperti orang yang dideskripsikan tadi. Ketika kita merasa tersesat dalam hidup yang sedang kita jalani sendiri ini, dan seketika bingung dengan kemana arah tujuan kita. Menangis berhari-hari pun tidak akan membawa ke tempat tujuan tersebut, apalagi berdiam diri dan menyerah membuat kita seakan tidak layak berpijak di dunia ini lagi,karna merasa gagal dengan diri sendiri.

Tapi ada sesuatu yang kita lupa, apa itu?

Kita lupa kalau ada “Pak Satpam”, ada papan-papan tanda jalan dan ada beberapa orang yang lewat di sekitar bangku yang kamu duduki ditempat itu. Iya, kita lupa kalau ada Allah SWT yang maha tahu segalanya, ada “buku manual” Al-Quran yang bisa selalu kita jadikan tempat untuk memahami cara untuk survive di tempat itu, dan juga masih ada orang-orang sekitar kita yang selalu bisa kita tanyakan, yang tidak lain mungkin keluarga kita yang bersama kita dari gigi kita baru tumbuh dua, sampai gigi kita tinggal dua lagi.

Bedanya dengan “pak satpam” yang hanya ada kalau dia lagi rajin ngeronda. Allah SWT selalu meronda 24/7, sampai-sampai Allah itu lebih dekat dari urat leher kita. Seru ya, tidak perlu nyari koneksi 4G atau mengisi paket quota untuk selalu bisa meng-update ke Allah tentang kondisi kita saat itu.

Kita hanya bilang “Ar Rahman“ “Ar Rahim” mungkin kalau Allah mau balas, akan segera dibalas, dan tidak membiarkan kita dengan “blue tick” atau “di-read doang”. Allah itu Sami’un yang artinya Maha Mendengar. Allah juga tidak pernah lelah mendengar hamba-hambanya. “Udah ya, kelamaan curhat kamu, hamba-hamba-Ku masih banyak tuh..” Tapi justru ketika kita selalu memanggil Allah untuk curhat, dengan menggunakan segala cara spesial-Nya, Allah selalu setia mendengar kita. Hanya saja, kita belum bisa mendengar balasan-Nya dengan kasat pendengaran kita. Kalau tidak, mungkin tidak ada lagi manusia-manusia yang curhat sesama manusia karna curhat sama Allah adalah tempat yang sangat nyaman.

Berbeda dengan manusia, ketika kita curhat 15 menit, dan bilang “Eh maaf ya, mau ngangkat jemuran nih, lanjut aja, dengerin kok ini” dan ternyata telfon kita sudah di-loudspeaker. Allah itu tidak pernah bosan & tidak pernah lelah. Ketika kita baru mendekat ke Allah, Allah bilang “Apa hamba ku? Ada apa? Kenapa?” Selalu siap mendengarkan curhatan kita, Mau kita curhat ketika lagi sedih, lagi bahagia, lagi benci sama orang, lagi suka sama orang, Allah pasti mendengarkan.

Apalagi kalau di sepertiga malam yang dingin, kita tahu kalau waktu ini adalah waktu doa-doa kita yang dipanjatkan seperti panah yang tidak pernah melesat dari sasaran. Tapi, lagi-lagi di waktu ini, kita manusia-manusia yang tidak tahu diri ini malas untuk meluangkan waktu untuk Allah dan menarik lagi selimut kita, padahal ketika itu adalah waktunya Allah lagi online dan Allah menyuruh malaikat-malaikatnya untuk turun dari langit untuk melihat siapa yang lagi berdo’a kepada Allah. Karna jika malaikat lihat, saat itu juga malaikat-malaikat langsung berebutan ingin melaporkannya ke Allah supaya Allah bisa mengijabah do’a kita.

Apa itu cinta?

Kalau di kamus-kamus atau di novel-novel sastra mungkin akan sangat berat mengartikannya atau bahkan menggambarkan bentuk sebuah illusi atau gambaran yang sangat mendalam. Menurutku, cinta itu simpel. Aku menemukan cinta. Disitu, ketika aku mendengar tentangnya, isi perutku seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan tak tentu arah dan hati yang tiba-tiba tidak sadar mengencang bunyi ‘dup dup dup’ nya, membuat ku pun yakin dan ingin mengatakan kalau, “He’s the One.” Dan ya, Dia adalah Ar-Rahman.

Semoga Dia tetap selalu menjadi tempat ternyaman untukku, dan semoga menjadi tempat ternyaman untuk kita semua juga sampai saatnya nanti kita harus kembali ke pangkuan-Nya dan akhirnya bertemu langsung dengan tempat ternyaman ketika di dunia dulu.


Penulis : Adya Laras Tsabita Atindriya

Gambar : global.liputan6.com Pernahkah kita merasakan datang ke sebuah tempat yang benar-benar asing dalam keadaan sendiri dan tidak ta...

0 Komentar: