Sama, Tapi Tidak Sama

Desember 27, 2017 Forum Tarbiyah 1 Komentar


Gambar : Ummi-online.com
Langit perlahan mulai terang, di hadapan sudah tidak ada lagi jalan yang dapat ditempuh. Sepanjang penglihatan hanya lautan luas membentang. Situasi semakin genting, lautan semakin dekat. Apakah perjalanan yang telah ditempuh semalaman, akan berakhir saja seperti ini? Tapi ini bukan perjalanan yang ia sendiri putuskan, ia hanya diperintahkan untuk berangkat pada malam hari dan untuk menempuh jalur yang sekarang ia lewati. Jarak semakin dekat, pasukan Fir’aun sudah mulai terlihat. “إنا لمدركون”, kita pasti tersusul, ujar teman-temannya mulai berputus asa. Tapi Musa As bukan pemuda biasa. Imannya pada Tuhannya membantunya melihat apa-apa yang tidak terlihat oleh mereka yang tidak beriman. “كلا، إن معي ربي سيهدين”, tidak mungkin, sungguh Tuhanku bersamaku, Ia pasti akan memberiku petunjuk menuju jalan keluar.  [QS: Asy-Syu’ara 52-62] 

***
“قالت ياليتني مت قبل هذا وكنت نسيا منسيا”. Entah rasa sakit akan melahirkan atau karna rasa malu yang sudah tak tertanggungkan yang membuatnya berujar seperti itu, “Seandainya aku meninggal saja sebelum semua ini, dan aku menjadi orang yang tidak diperhatikan dan dilupakan”. Berat ia mengumpulkan nafasnya satu persatu untuk tetap bertahan, menjalani semua yang telah ditetapkan Pencipta untuk hidupnya. Tubuhnya yang lemah telah tersandar sedari tadi di bawah pohon kurma yang kokoh, saat tiba perintah berikutnya, “وهزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا”. Ketika yang ia perlukan adalah pertolongan, justru wahyu yang datang adalah perintah untuk  menggoncangkan pohon kurma yang bahkan orang sehat pun mungkin tidak semuanya bisa melakukannya. Maryam saat itu berada diposisi yang sangat masuk akal untuk memberi argumen ilmiah jika ia mau beralasan. Tapi ia adalah wanita pilihan, ketaatan pada Tuhan menuntunnya untuk melakukan apa yang diperintahkan padanya. [QS: Maryam 16-25].

***
Entah berapa puluh tahun sudah ia berdoa dalam mihrabnya. Dikisahkan, kondisinya saat itu telah lemah tulangnya dan uban telah memenuhi rambutnya. Kekhawatiran akan terputusnya dakwah yang membuatnya terus berharap akan seorang keturunan yang sholeh. Harapan itu terus ia gantungkan hingga di usia yang mungkin dalam kacamata zaman sekarang adalah mustahil. Zakariya tahu, ia menggantungkan harapannya pada dahan yang tepat, “ولم أكن بدعائك ربي شقيا”, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a padamu, ujarnya. [QS: Maryam 1-4]

*** 
Nuh As sama sekali tidak tahu kenapa dia diperintahkan untuk membuat sebuah kapal di atas puncak bukit,   "واصنع الفلك بـأعيننا ووحينا" , “Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan Kami dan petunjuk Kami” [QS: Hud 37]. Yang dia tahu, ini adalah perintah Tuhannya, maka ia kerjakan.  Sama seperti Ibrahim As juga tidak tahu, kenapa ia diperintahkan untuk menyembelih anak laki-laki yang telah lama dinantinya. Ia tidak tahu bahwa pada akhirnya Allah akan menebus Ismail [QS: Ash-Shafat 103-106]. Yang ia tahu, itu adalah perintah Tuhannya, maka ia kerjakan.  Sama seperti Maryam, tidak tahu kenapa ia diperintahkan untuk menggoncangkan pohon,. Yang ia tahu, itu adalah perintah Tuhannya, maka ia kerjakan. Sama seperti Musa As, kenapa disaat yang sangat amat genting justru perintah Allah terlihat sangat tidak masuk akal; memukul lautan dengan tongkat. Karena ia tahu itu adalah perintah Tuhannya, maka ia kerjakan.    
***
Ketidaktahuan kita akan apa yang akan terjadi dimasa depan yang membuat kita masih menjadi manusia. Tapi kadang kita terkesan ingin keluar dari status sebagai manusia dengan ingin segera tahu segalanya. Rasanya sebagian besar yang kita lakukan hari ini, -belajar siang malam, merancang life goals, aktivitas sana-sini, pelatihan ini itu, dan sebagainya- adalah bentuk kita mengejar keingintahuan itu, dan tanpa sadar kita perlahan mengesampingkan apa-apa yang diperintahkan-Nya pada kita.

Kita diperintahkan untuk sholat [QS: Taha 14], kita diperintahkan untuk membaca Al-qur’an [QS: al-Fathir 29], menghafal Al-qur’an [QS: al-Qamar 22], kita diperintahkan untuk menutup aurat [QS: al-Ahzab 59], kita diperintahkan untuk tidak mendekati zina [QS: al-Isra 32], kita diperintahkan untuk hanya mengkonsumsi makanan yang halal dan baik [QS: al-baqarah 168], kita diperintahkan untuk mengamalkan Islam di semua aspek kehidupan, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً [QS: al-Baqarah 208]. Dari sekian banyak perintah-Nya, sayangnya, kita punya lebih alasan untuk minta diringankan-Nya, atau bahkan tidak melaksanakannya.   
***
Allah kita adalah Allah yang sama yang membelahkan lautan untuk Musa As, Allah  yang sama yang mengabulkan doa-doa Zakariya As, Allah yang sama yang membantu ibunya Isa As, Allah yang sama yang menyelamatkan Nuh As dan kaumnya, Allah yang sama yang menyembuhkan Ayyub dari penyakit-penyakitnya, Allah yang sama yang menyelamatkan Yusuf As dari fitnah dan bencana. Allah yang kita sembah adalah Allah yang sama, hanya saja cara kita dalam mentaati perintah-perintah-Nya yang berbeda, cara kita dalam bersegera menyambut panggilan-Nya yang berbeda, cara kita dalam meragukan pertolongan-Nya yang berbeda. 
Mungkin ini sebabnya kenapa hari ini rasanya begitu banyak kekhawatirkan yang kita punya. 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Rabbana, kami telah mendzalimi diri kami, sungguh kami adalah orang-orang yang merugi jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami" [QS: Al-A'raf 23] 


Penulis : Qoriatul Hasanah

Gambar : Ummi-online.com Langit perlahan mulai terang, di hadapan sudah tidak ada lagi jalan yang dapat ditempuh. Sepanjang penglihata...

1 komentar: