Antara Dua Ketetapan

Desember 22, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Gambar: aimislam.com

Memasuki usia 22 tahun membuat saya semakin berpikir jauh tentang makna hidup. Diri ini juga dihinggapi ketakutan tentang masa depan. Quarter Life Crisis, masa-masa di mana saya harus memupuk prinsip yang kuat untuk menjawab pertanyaan “mau di bawa kemana hidup saya nanti?”. Saya mulai berpikir karir, akademik dan pernikahan.

Mendengar kata pernikahan, tiba-tiba mengingatkan saya tentang post-post di Instagram tentang kampanye yang menggiring public untuk nikah muda dan berhenti dari pacaran. Tumpang tindih syi’ar-syi’ar di media sosial untuk berhijrah demi menjemput pangeran berkuda putih atau wanita idaman nan shalihah. Terlintas setelah melihat kampanye ini bahwa outcome-nya akan melahirkan masyarakat Indonesia yang menjauhi perbuatan zina. Tapi, tidak banyak yang mengerti bahwa kampanye ini juga akan menjadi berbahaya bagi siapa yang menelannya mentah-mentah. Dampaknya akan banyak masyarakat Indonesia yang akan nekat untuk menikah muda namun belum mempunyai kesiapan yang mumpuni secara lahir dan batin. 

Faktor-faktornya dimulai dari kurangnya pemahaman agama secara mendalam sehingga terbentur antara mana yang wajib dan sunnah. Seperti misalnya, calon suami atau istri belum banyak belajar tentang kewajiban dan haknya kepada anak dan keluarga. Pada akhirnya anak-anak akan menjadi korban dari orangtua yang belum paham akan pondasi pernikahan. Membangun keluarga itu bukan coba-coba. 

Mempelajari ilmu parenting itu harus dimulai dari jauh-jauh hari dan harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang terjadi. Selalu harus memperbarui dan meluruskan niat tentang visi dan misi pernikahan. Bukan hanya modal cinta semata. Salah satu tujuan menikah ialah untuk membangun anggota keluarga yang siap berjuang di jalan Allah dan berdakwah di masyarakat. karena anggota keluarga akan menjadi bagian dari ummat. 

Faktor lainnya yaitu terlalu berpasrah diri. Maksudnya, banyak ditemukan orang-orang yang nekat nikah tapi tidak mempunyai usaha untuk menghidupi keluarganya dan hanya bertumpu pada hadits berikut: 

Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: Orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Rezeki dalam bentuk apapun itu memang sudah Allah tetapkan, tapi calon suami dan istri juga harus paham bahwa rezeki yang Allah berikan tidak serta merta turun dari langit sementara mereka duduk berdiam diri di rumah. Rezeki juga tak akan menghampiri kalau kita hanya ongkang-ongkang kaki menunggunya tanpa usaha. Kalau hanya diam saja, “Istri dan anakmu mau dikasih makan apa?” 

Dibalik sunnah terdapat kewajiban-kewajiban, itulah pernikahan. Dibalik menikah terdapat beberapa kewajiban yang harus dipenuhi. Itu sebabnya pahala menikah itu besar, kalau nikah gampang mungkin pahalanya permen. hehehe.

Sangat disayangkan, ketika kampanye-kampanye tersebut pada akhirnya malah memberikan fokus anak muda akan definisi masa depan yang terlalu sempit. Ukuran masa depan dalam kacamata para remaja hanya menikah. Padahal makna masa depan itu luas, termasuk di dalamnya soal “KEMATIAN”. Kematian yang mungkin bisa datang kapan saja, bisa esok, minggu depan atau bahkan hari ini. Saat ia datang, manusia hanya bisa merintih berharap malaikat menunda maut yang telah tiba. Ia akan tetap datang dan tak dapat menunggu. 

Ushikum wa iyyaya nafsi. Memantaskan diri dari aspek spiritual, rohani dan jasmani jangan hanya demi mendapat calon pasangan yang sekufu, tapi memantaskan dirilah untuk Allah dan Rasulnya. Mempersiapkan diri untuk bertemu Sang Rabb dalam keadaan taqwa.

Ketika manusia dapat mempersiapkan kematian yang baik. Maka, Allah akan memberikan syurga dan menggantikan pernikahan di syurga kelak (Jika pernikahannya belum terlaksana di dunia). Tapi, jika fokusnya hanya pada pernikahan, belum tentu kita dapat mempersiapkan kematian yang baik.
“Ke Bumi apa yang kau cari?” apa yang kau perbuat? Mari kembali perbarui niat untuk hidup. Hidup kita untuk apa dan karena siapa? Kita kembali ke siapa? Sudah sebanyak apa perbekalan yang dibawa untuk pulang ke kampung nan damai?

Penulis : Qalam Hasanah





Gambar: aimislam.com Memasuki usia 22 tahun membuat saya semakin berpikir jauh tentang makna hidup. Diri ini juga dihinggapi ketakuta...

0 Komentar: