Sekedar Shaleh, Ngga Cukup

November 10, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Image result for pemuda membawa alquran
Gambar : addinu-nasihah.blogspot.my
Terkadang mudah saja rasanya mengomentari zhahir (cover) seseorang, apa yang nampak oleh mata kita senang saja mengkonversikannya ke kata-kata yang belum tentu juga kebenarannya. Waktu yang nilainya amat berharga pun banyak terbuang demi sekedar memuaskan nafsu untuk mengomentari mereka, padahal di dalam hati seorang muslim pasti ada panggilan untuk memperbaiki keadaaan, bukan sekedar mengomentari, mengumpat apalagi mencaci-maki individu lainnya, terlebih, muslim lainnya. Padahal bisa jadi keburukan orang yang kita lihat dari luar itu disebabkan oleh ketidakpekaan kita juga terhadap mereka. 

Untuk memperbaikinya pun membutuhkan analisa atas keadaan orang tersebut dan mengerti betul cara terbaik untuk menyadarkannya. Ibarat seorang anak yang selama hidupnya mempercayai bahwa ibunya itu adalah ibu kandungnya, maka ketika tiba-tiba diberitahu bahwa kenyataannya bukanlah seperti itu, akan ada penolakan dari anak itu untuk mempercayai fakta tersebut, bahkan dapat berujung kepada perilaku-perilaku negatif jika anak ini memberikan penolakan yang terlampau besar kepada fakta tersebut. sama seperti usaha kita dalam memperbaiki seseorang, tidak bisa serta-merta kita memberitahu dia bahwa perilakunya itu salah, tentu akan ada penolakan, dan kalau tetap kita paksakan, besar kemungkinan semakin negatifnya perilaku orang tersebut. 

Syaikh Muhammad al-Ghazali, seorang ulama dari Mesir, bercerita dalam kitab al-Haqq al-Murr (kebenaran yang pahit) “Seorang wanita berpakaian ‘tak pantas’ masuk ke kantorku. Aku sedikit risih saat melihat penampilannya pertama kali. Namun dari tatapan matanya ia tampak sedih dan kebingungan. Wanita ini patut dikasihani, pikirku. Aku pun duduk, mendengarkan keluh-kesah yang ia sampaikan kepadaku dengan seksama.

Dari sela-sela obrolan tersebut aku tahu bahwa wanita itu adalah pemudi Arab yang mengeyam pendidikan di Prancis, dan nyaris tak mengenal sedikitpun tentang Islam, agama yang ia peluk. Kepadanya, aku berusaha menerangkan hakikat Islam, menjawab sejumlah syubhat dan pertanyaan yang ia ajukan. Serta mengungkap berbagai kedustaan yang disampaikan para orientalis.

Tak lupa pula aku sampaikan terkait peradaban modern yang kerap memposisikan wanita sebagai ‘daging’ pemuas nafsu, yang tak mengenal keindahan, ketenangan, dan makna ‘iffah di dalam keluarga. “Izinkan aku suatu hari untuk kembali ke tempat ini menemuimu, Syaikh,” ujar sang wanita. Ia pun mohon pamit keluar.

Tak lama berselang seorang pemuda berpenampilan religius masuk membentakku, “Apa yang membuat wanita kotor seperti itu datang kemari!?”

Aku jawab, “Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan orang yang sakit sebelum orang sehat.”

Ia menyela, “Kenapa kau tak menasehatinya memakai hijab!?”

Aku katakan, “Perkara yang dihadapi wanita tadi jauh lebih besar dari sekadar memakai atau melepas hijab. Ada proses yang harus dilalui, terkait esensi iman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegaskan makna taat kepada wahyu yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta pilar-pilar inti agama ini dalam aspek ibadah dan akhlak.”

Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku. “Bukankah hal-hal tersebut sama sekali bukan halangan bagimu untuk menyuruhnya berhijab!?”

Dengan tenang aku berupaya menjelaskan, bahwa aku tak bisa berbahagia melihat wanita itu datang ke sini sedangkan hatinya sunyi dari keagungan Allah Tuhan yang Maha Esa, hidupnya tak mengenal yang namanya rukuk dan sujud. Sesungguhnya aku sedang berupaya menanam di hatinya sejumlah pondasi yang jika pondasi itu tertancap dengan kuat, dengan sendirinya membuat ia sadar pentingnya menutup aurat.

Saat pemuda tadi hendak memotong pembicaraanku untuk yang kesekian kalinya, aku berkata dengan tegas, “Aku tak mampu menarik orang kepada Islam melalui selembar kain sebagaimana yang kerap kalian lakukan. Namun aku berusaha menancapkan pondasi, lalu memulai membangun di atasnya, dan menyampaikan semuanya dengan penuh hikmah.”

Dua minggu kemudian wanita itu kembali mendatangiku dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menutup kepalanya dengan secarik kain tipis. Ia kembali bertanya tentang Islam, dan akupun kembali menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas aku bertanya, “Mengapa kau tak pergi ke masjid terdekat dari rumahmu (untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini)?”

Meski akhirnya aku menyesal mananyakan hal ini, karena aku teringat bahwa wanita-wanita itu terlarang untuk pergi ke masjid. Namun pemudi itu menjawab, “Aku membenci para da'i dan tak ingin mendengarkan ceramahnya.”

“Mengapa?” tanyaku penuh penasaran.

“Hati mereka keras, berwatak kasar. Mereka memperlakukanku dengan pandangan penuh kehinaan.”

Tiba-tiba aku teringat sosok Hindun bintu Utbah, istri Abu Sufyan Ra. Seorang wanita yang di masa kekufurannya membunuh secara sadis serta memakan jantung paman Nabi Sayyidana Hamzah Ra. Saat itu dia belum mengenal Rasulullah Saw. Namun setelah memeluk Islam dan mengenal Rasulullah Saw., ia mendekat dan mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati:

يا رسول الله, والله ما كان على ظهر الأرض أهل خباء أحب أن يذلوا من أهل خبائك, وما أصبح اليوم على ظهر الأرض أهل خباء أحب إلي أن يعزوا من أهل خبائك


“Wahai Rasulullah, Demi Allah, dahulu tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu. Namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.”

Perlu dicatat bahwa Syaikh al-Ghazali menggunakan cara yang tepat dan bijaksana dalam usahanya untuk menyadarkan wanita tersebut, setelah beberapa waktu baru disadari bahwa wanita tersebut ternyata membenci da'i. Bisa dibayangkan kalau beliau langsung menyuruh wanita tersbut untuk menutup seluruh aurat nya, mungkin wanita tersebut akan langsung pergi dan tidak akan pernah mendapatkan hidayah Islam, padahal pemuda itu memiliki niat yang sama baiknya dengan beliau, tetapi jika tidak dibarengi dengan langkah-langkah yang bijaksana, tentu niat tersebut tidak akan bisa terwujud. 

Itulah fenomena yang sedang banyak terjadi dalam masyarakat kita, orang-orang seperti pemuda tadi lebih banyak jumlah nya daripada orang-orang yang memilih sikap seperti Syeikh al-Ghazali. Sedangkan umat merindukan seorang atau sekelompok orang yang memiliki hati yang jernih untuk melihat semua muslim, baik orang yang shaleh maupun yang masih terjebak dalam kemaksiatan. Dimanakah orang-orang tersebut? Apakah saudara pembaca bersikap seperti pemuda shaleh tersebut, atau seperti Syeikh Muhammad al-Ghazali?


Penulis : Yusuf Ali

Gambar : addinu-nasihah.blogspot.my Terkadang mudah saja rasanya mengomentari zhahir (cover) seseorang, apa yang nampak oleh mata kit...

0 Komentar: