Saya Orang Paling Bejat

November 17, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Image result for ilustrasi orang yang putus asa
Gambar : dakwatuna.com

Belakangan saya menjadi takut ketika bertafakkur, karna saya jadi sadar akan kebodohan-kebodohan dan kelemahan-kelemahan saya yang masih menggunung. Saya yang dalam keseharian selalu merasa level keimanannya berada ditengah-tengah. Tidak mulia tapi ya tidak terlalu blangsak juga kelakuannya. 

Saya memutuskan untuk merubah diri, terutama dalam hal akhlaq. Setelah curhat dengan seorang guru, saya diberi tahu bahwa “Kamu tidak akan menjadi mulia, kalau kamu belum merasa dirimu hina Ki”. Lalu dilanjutkan dengan beberapa nasihat-nasihat lain. Saya menyimpulkan bahwa tidak baik menghakimi orang lain, mengkafirkan, mengatakan bahwa orang yang berbeda dengan saya adalah orang-orang yang salah. 

Lalu beliau menambahkan beberapa kisah tentang bagaimana orang-orang yang sekarang ini dikenali sebagai orang yang mulia adalah orang-orang yang justru merasa dirinya belum mulia. Sedikit cerita, Rasulullah SAW dahulu pernah mencatat nama-nama orang munafik yang ada di sekitar Rasulullah SAW. Namun hanya Rasul saja yang tahu, tidak diumbar ke mana mana. Lalu siapa yang memberi tahu Rasulullah ? yaitu Allah SWT secara langsung.

Sampai akhirnya Sahabat Rasulullah yaitu Umar bin Khattab menjadi seorang khalifah, Beliau mengundang satu-satunya orang yang tahu mengenai nama-nama orang munafik tadi. Beliau adalah Hudzaifah Al Yamani. Seorang sahabat yang dijuluki Sahabat Pemegang Rahasia Rasulullah.  Setelah bertemu, Umar pun berkata “Wahai Hudzaifah, saya tahu kamu memegang nama-nama orang munafik yang pernah disebutkan oleh Rasulullah, waktu Abu Bakar menjadi khalifah saya belum berani memanggil dan bertanya tentang itu padamu” tapi Sahabat Umar RA bukan mau menodong dan menyuruh menyebutkan siapa saja nama orang munafik itu. Yang ditanyakan beliau adalah “Yaa Huzaifah, adakah nama saya disitu? ”.

Seorang Umar bin Khattab. Dengan segala akhlaq dan kemuliannya, sampai Rasulullah berkata dalam salah satu sabdanya "Seandainya ada nabi setelahku maka itu adalah umar" (HR. Ahmad, Al- Tirmidzi, Al Tabroni dan Al-Hakim. Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Shahih Al Jami’,5160 ) Orang yang sebegitu tinggi maqamnya, sebegitu sucinya masih bisa berfikir dan khawatir akan adanya nama dia disitu. Hinaa saya yang hina.

Dalam konsep berakhlaq, ternyata bukan hanya akhlaq kepada manusia yang menjadi poin utama. Karna sebagai Khalifah di muka bumi, manusia harus bisa berakhlaq dengan apa yang ada di muka bumi juga. Ada akhlaq kepada hewan, kepada tanaman, bahkan kepada jin. Bagaimana caranya? Contoh ya, kalau kepada hewan maka jangan menyakiti dan menghinakan, karna ternyata hewan yang najis yang namanya biasa kita jadikan bahan hinaan dan bahan menghina, ternyata ada yang masuk surga. Qithmir namanya. 

Ada lagi kisah Sunan Bonang yang ketika terjatuh dan tidak sengaja mencabut rumput. Beliau menangis. Walaupun, begini ya sebetulnya itu bukan masalah rumput yang dicabutnya. Tapi masalah mengenal Allahnya. Artinya, mau rumput mau binatang mau tanaman semua adalah makhluk Allah, yang terlihat bukan ini adalah rumput atau tanaman, yang terlihat adalah ini ciptaan Allah. Orang kalau sudah mencintai sesuatu maka akan mencintai semua karyanya. Sejelek apapun. Itu rumus logis. 

Masalahnya, bagaimana mau cinta.  Kenal juga belum. Baru tau saja. Saya ini baru tau kalau pencipta dan Tuhan seluruh alam semesta namanya Allah SWT. Belum kenal.  Masih sering terjebak dengan hal-hal yang zahir. Menilai sesuatu melalui logika saja. Merasa lebih aman ketika pintu rumah sudah digembok, jendela sudah ditutup ada satpam di depan rumah dan lain lain. Bukan merasa aman karna ada Zat yang Maha Kuasa yang akan selalu menjaga keselamatan saya. Lalai saya lalai.

Intinya untuk ngebenerin diri. Saya harus lebih sering merendahkan. Bukan ke luar tapi ke dalam.  Karna sesungguhnya orang yang keluar dari rumah dan merasa masih ada yang lebih hina dari dirinya di muka bumi, maka dia sudah sombong. 

Saya makhluk yang paling hina. 


رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ



Penulis : Muhammad 

Gambar : dakwatuna.com Belakangan saya menjadi takut ketika bertafakkur, karna saya jadi sadar akan kebodohan-kebodohan dan kelemahan-...

0 Komentar: