Mau Nyari Siapa Lagi?

November 02, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Image result for ilustrasi mencari-mencari jalan keluar
Gambar : vebma.com

Ketika matahari mulai menampakkan cahayanya di bumi. Saat itu juga, seorang manusia bangun dari tidur lelapnya. Baru saja setengah sadar, dirinya terkejut ketika melihat gagdetnya yang katanya canggih. Layar gadget itu menunjukkan jam 7 pagi. 

Itu tandanya hanya tersisa waktu 15 menit lagi agar tepat waktu sampai di kantor. Akhirnya dia buru-buru bersiap menuju kantor. Di dalam benaknya yang terpikirkan hanya berharap nasibnya hari ini baik. Tidak macet dijalan. Tidak telat dateng kantor. Tidak dimarahin atasan. Gaji mendarat dengan lancar. Ternyata bersamaan hari ini gaji turun. Dan bisa makan-makan enak.

Ketika keluar rumah dan didapati mobilnya mogok. Serentak dirinya bingung dan cemas. Mau cari bantuan siapa lagi supaya hari ini bisa sampe kantor tepat waktu? Apalagi hari ini gajian. Dia berharap jangan sampe kesalahan yang lalu terulang. Ternyata dalam bulan ini sudah sering dirinya datang telat ke kantor.

Tidak ingin waktu berlalu begitu cepat. Dia mencari cara agar cepat sampai ke kantor. Akhirnya ngojek. Ia berharap dengan naik ojek maka akan cepat sampai kantor. Ternyata jalan utama macet. Setelah berpikir panjang, belok haluan ambil jalan alternatif juga. Berharap bahwa jalannya lancar dan abang ojeknya ngebut. Kenyataannya sama-sama tidak berbuah hasil untuk datang tepat waktu sampai kantor. 

Kesal, kesal, dan kecewa berat rasanya. selama perjalanan menuju kantor dirinya terus mengeluh. Bahkan abang ojeknya kena omelan kekecewaannya. Pandangan dan harapannya untuk hari itu sudah sangat buruk. 

Tepat jam 7.30 dia sampe kantor. Perjalanan sekitar 15 km yang ditempuh. Dan sudah lewat jalan alternatif tidak membuat dirinya sampai tepat waktu. Ketika sampai, bukannya bersyukur malah marah karena abang ojek tidak bisa membawanya tepat waktu sesuai harapan. Padahal memang macetnya jalan yang menghambatnya. Ojek itu hanya bisa diam dan mendoakan dalam hati agar dia bisa bahagia dan bersyukur terus.

Dia seperti merasakan bahwa hari ini sudah kacau. Namun dirinya tetap berharap agar atasannya belum datang juga. Biar masih selamat dalam waktu dekat. Ternyata eh ternyata. Baru aja masuk kantor. Atasannya sudah melototin dia tidak jauh dari sana. Duh rasanya hancur semua. 

Akhirnya dipanggilah dia. Duh deg-degan rasanya. Takut dan bertanya mau nyari alasan apalagi... mau nyari bantuan siapa lagi... ketika berhadapan dengan atasan. Baru aja duduk di ruangannya. Ternyata udah dikasih amplop aja. Hatinya yang tadinya kecewa dan gelisah. Dibuat senang oleh tingkah atasannya. Kiranya akan di tunda gaji itu karena kesalahannya. 

Masih dalam keadaan senang bercampur kecewa. Ternyata dibalik itu. Atasannya mengutarakan saran dan kritikan atas kinerja dirinya. Mengutarakan dalam semua hal. Tentang alasan alasan yang tidak jelas. Tentang keterlambatannya. Tentang kinerja juga tentang ibadahnya. Ketika semua serasa sudah usai (karena keadaan menghening) ternyata sang atasan menambahkan. "Maaf. Gaji itu untuk terakhir kamu bekerja disini"

....JLEB... kata kata terakhir itu pas sekali mengena dihatinya. Menyimpulkan bahwa karirnya sudah berakhir disini. Entah apa yang harus dilakukannya lagi. Awal hari yang buruk. Tak ada lagi harapan bagi dirinya besok datang untuk bekerja lagi. Entah mau cari bantuan siapa lagi agar pekerjaannya balik kembali. Semua harapannya hancur seketika. Hidupnya akan semakin sepi. Tanpa pekerjaan. Juga belum dipertemukan jodohnya.

Apakah keadaan dirinya seperti diri kita? Tentu jika ia. Maka pada saat membaca ini ada kesempatan untuk berubah. Memperbaiki pandangan kita. Memperbaiki cara kita berharap. Memperbaiki pagi hari kita agar lebih cerah dan berkah. 

Jika kita berharap kepada orang lain. Maka bersiaplah kecewa berat. Tentu berbeda jika kita berharap kepada Allah. Karena rasa percaya dan yakin. Allah pasti memberikan yang terbaik. Jika belum. Maka Allah ajarkan sabar dan ikhlas.

Ketika dirinya merenungi tentu banyak yang harus diperbaiki. Cukuplah PHK sebagai pengingat tanda dirinya ternyata sudah sangat jauh dari Allah. Kerjanya menjadi tidak berkah. Bangun di pagi hari sudah terburu-buru kerja. Ketika pulang pada malam hari badan sudah capek. Jadilah semua serba salah.

Saatnya merubah kebiasaan pagi. Ketika bangun yang harus diingat pertama ya Allah. Bersyukur masih bisa bangun, lalu isi pagi dengan semangat bergerak dan ibadah. Jangan sampai bangun pagi tidak tahu harus ngapain. Eh malah lanjut tidur. If you wake up without a goal. Go back to sleep.

Ketika kehancuran datang bertubi-tubi. Dirinya sadar bahwa mengeluh dan menyesal tidak akan merubah segalanya. Allah sangat sayang kepada manusia dengan memperingatkan mereka yang sudah jauh dari-Nya. Maka ambil hikmah dan belajar dari kehendak-Nya. Akhirnya pertanyaan dalam dirinya terjawab bahkan tercerahkan. "Mau cari bantuan siapa lagi?" Jawabannya, saatnya mencari Allah terus, lagi, dan lagi. 

Karena sungguh hidup ini untuk belajar dan mencari bekal di akhirat. Life is the best gift from Allah. So learn how to be grateful with your life and always believe with Allah all the time. Dengan berharap hanya kepada Allah. Meminta hanya kepada Allah. Maka cara mendapatkannya dengan cara baik yang Allah ridhoi. Berharap kepada Allah dengan yang tidak sepatutnya ditinggalkan. 

".... Dan hanya kepada tuhanmulah hendaknya kau berharap." (QS Al-Insyirah : 8)

Tidak lagi berharap dengan hanya bekerja di perusahaan besar maka hidup akan bahagia. Tidak lagi berharap dengan hanya memiliki bisnis omset miliaran maka hidup akan bahagia. Tapi hanya berharap pada Allah untuk kesuksesan dunia akhirat. Maka insyaAllah pekerjaan dan usaha kita juga terus terus bertumbuh dan berkah. Tanda-tanda keberkahan adalah dengan adanya kebermanfaatan, kebaikan, kebahagiaan untuk ummat.


Penulis : Farid Muhammad

Gambar : vebma.com Ketika matahari mulai menampakkan cahayanya di bumi. Saat itu juga, seorang manusia bangun dari tidur lelapnya. B...

0 Komentar: