Sepotong Kisah Tentang Sore

Oktober 07, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Gambar : infofotografi.com

 Sore ini, seorang pemuda tersenyum. Menghadap ke hamparan lautan lepas. Menikmati pacuan ombak hingga tiba digaris finish berpasir. Angin sore memberikan lembaian syahdu. Menyisakan kedinginan. Mentari sebentar lagi kembali ke peraduan. Sang pemuda berharap agar detak waktu berhenti. Biar momen indah ini bisa bertahan lebih lama. Tak ingin berpisah dengan kekasihnya. Ya, sore ini berpasang muda-mudi sibuk menghabiskan penghujung harinya. Bercerita dan membisikkan pujian-pujian mesra. Tersenyum, tertawa, dan kemudian bisa saja merajuk manja.

Sore ini, jalanan perkotaan macet. Kendaraan roda dua berusaha saling selip. Tak penting jika ada yang marah, kemudian menceracau. Kesal. Mobil-mobil keluaran terbaru berjejer. Seolah ada pameran gratis di senggang perjalanan. Seorang bocah berjalan menenteng ember kecil yang mengeluarkan suara receh kegirangan. Mengetuk setiap kaca mobil. Berharap agar si pemilik menoleh. Tak lebih. Hanya ingin mereka tahu kalau mereka bukan pencuri. Atau lebih beruntung jika bisa menenteng ukulele. Dengan sebuah potongan karah plastik kecil di tangannya. Tak peduli no-not nada yang tak harmonis. Pita suara yang terpaksa melebar dan mulai parau. Seniman jalanan. Kata mereka.

Sore ini, pasar-pasar masih saja ribut. Pedagang mulai membanting harga, berharap agar dagangannya tak kembali pulang bersamanya. Satu-persatu toko mulai ditutup. Lengang. Dan kemudian beranjak sepi. Disampingnya, segerombolan pemuda mulai membentangkan lembaran Koran. Kasur empuknya untuk mimpi paling indah malam ini.

Sore ini, sebuah anggota keluarga kembali lengkap. Canda dan tawa kembali terdengar. Terkadang harus bersaing dengan suara artis metropolitan. Anak-anak saling berkejaran. Kemudian terjatuh dan menangis. Tanya kabar tentang aktivitas harian. Tepat disamping rumah itu, beberapa bocah masih tergugu. Menunggu ibunya yang tak kunjung pulang. Berharap ada pengganjal perut malam ini. Ayah? Tak tahu kemana ia berhulu. Hanya sekedar cerita yang  hilang ditelan waktu.

Sore ini, sebuah salon kecantikan tak kunjung ditutup. Seorang gadis sibuk meminta ini itu agar penampilannnya makin indah dan trendi. Sudah lebih dari dua jam untuk melayani semua keinginannya yang tak kunjung terpenuhi.

Sore ini, sebuah perusahaan negri dan swasta mulai lengang. Kendaraan di parkiran satu persatu hengkang. Meninggalkan bos yang memutuskan untuk lembur malam ini. Mengejar ambisi-ambisi keduniaan yang tak berakhir.

Ya, inilah kisah tentang sore. Serpihan potongan kehidupan. Sore mengajarkan kita tentang arti kesempatan. Kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Siapa sangka pasangan muda-mudi tadi tidak akan menikah. Terlanjur berbuat maksiat. Kemudian dihantam ombak besar yang tiba-tiba datang bersama air pasang. Terlalu telat jika berangan-angan untuk melangsungkan pernikahan.

Siapa sangka,  kendaraan roda dua itu tergelincir ke sebuah lubang kecil. Pengemudinya jatuh tersungkur. Namun kendaraannya menimpa si bocah kecil. Kendaraannya hancur digilas mobil. Bersama tubuh mungil si bocah kecil. Tak ada gunanya mengumpat diri ketika tidak bisa memberikan kepingan ratusan pada bocah yang ditimpanya.

Siapa sangka, toko-toko di pasaran itu ternyata kebobolan. Mengalami ratusan juta kerugian. Terlalu miris jika harus menyalahkan para pemuda yang terlelap diatas kasur tebal impian. Bahkan mereka ikut untuk membantu mengamankan.

Siapa sangka, rengekan bocah-bocah itu perlahan mengecil kemudian menghilang. Ditelan hembusan angin malam. Sudah basi, jika ketika itu harus mengantarkan beras pelayatan.

Siapa sangka, si gadis malam itu tersungkur. Terpaksa dibawa kerumah sakit. Kanker otak stadium empat. Percuma jika ketika itu ia baru niat berjilbab. Karena ia akan dipasangkan tujuh lapisan kain putih yang terikat. Tampil cantik dan trendi di hadapan cacing dan ulat.

Siapa sangka, tiba-tiba perusahaan itu bangkrut. Investor menarik saham. Tak laku jika waktu itu baru berharap agar diberikan kelapangan. Untuk menunaikan haji ke kota kenabian.

Tak ada arti. Itulah sebuah kesempatan. Percuma jika kita harus meratapi kepergian mentari. Tetap saja rembulan dan bintang tak mampu menggantikan sinarnya.

Ya, sore mengajarkan kita banyak hal. Bahwa tak semua yang baik harus terjadi. Dan semua yang buruk harus dibenci. Adakalanya kita menerima kepergian mentari, agar kita tahu peran bulan dan bintang di malam hari.

Sore memberi tahu kita. Bahwa hidup ini penuh dengan sore-sore. Sore dari waktu muda. Sore dari kesehatan kita. Sore dari kekayaan kita. Dan berbagai macam sore-sore lainnya.

Sore mengajarkan kita untuk percaya. Bahwa di dunia ini tak ada yang kekal selamanya. Akan ada sore dari kemiskinan. Sore dari kegagalan. Dan sore dari kisah-kisah pesakitan.

Sore mengajarkan kita untuk bertahan. Mayakini akan datangnya waktu kita bangkit, kemudian paham akan arti dari sebuah perjuangan.

Ya, sore adalah potongan akhir dari garis kehidupan. Mengajar dan memberi tahu. Arti sebuah kesempatan, keyakinan, perjuangan, ketabahan dan keikhlasan.

Berbuatlah selama masih sore. Karena disana masih ada cahaya harapan. Walau sekedar siluet sunset kemerahan. Berbuatlah sebelum semuanya gelap. Hitam dan kelam. Disaat ruh sudah lewat dari kerongkongan.

#Faidza amsayta fala tantazhiris shabah (apabila kamu di waktu sore, tak perlu kamu tunggu waktu pagi). Ibn Umar



Penulis : Moe Azz

Gambar : infofotografi.com  Sore ini, seorang pemuda tersenyum. Menghadap ke hamparan lautan lepas. Menikmati pacuan ombak hingga tib...

0 Komentar: