Resep Islam Anti Galau

Oktober 27, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Related image
Gambar : m.republika.co.id

Sangat manusiawi ketika seseorang akan dirundung duka dengan musibah yang ia rasakan, dan masih dalam garis yang sangat normal rasa tertekan akan kita rasakan dengan ujian yang kita hadapi. Seseorang akan merasa sangat sedih ketika seorang teman mendapatkan nilai yang bagus sedangkan dirinya sendiri belum mampu mencapai apa yang telah diraih temannya, perasaan akan semakin tertekan ketika dalam satu kelompok yang terbatas hanya kita sendiri yang tidak dapat meraih capain tertentu, bahkan yang jauh lebih parah jika sampai terbesit di benak kita prasangka atau  bisikan hati yang bisa mengarahkan kita pada jurang kekufuran sekalipun.

Akan tetapi diantara hikmah Allah menjadikan agama islam sebagai agama terakhir adalah, kesempurnaan syariat yang ada padanya. Tidak akan ada satu masalah yang bahkan sekecil apapun itu kecuali Islam sudah menyiapkan jalan keluarnya, berikut ini adalah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari Al-Qur'an dan hadist yang dapat  memberi kita keterangan agar bisa menjadikannya penghapus duka serta resep anti galau ketika kita ditimpa musibah.

1. Musibah adalah satu warna ujian keimanan


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِين

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar ( konsisten keimanannya )dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.( tidak konsisten dalam keimanan ) [Surat Al-Ankabut 2 - 3]

Ya, secara umum, ujian dengan segala warnanya adalah cara Allah membentuk karakter keimanan dan mental seorang hamba, dari musibahlah kita akan tahu, siapa yang bertahan dan siapa yang menyerah, siapa yang kuat atau siapa yang lemah.

Dalam konteks yang sama pada ayat yang lain Allah berfirman pada Surat Al-Hadid 22-23 yang artinya :

Tiada suatu bencanapun yang menimpa bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

2. Terapi syukur

Ya, terapi syukur merupakan salah satu cara ampuh untuk menghindarkan rasa dan mental kita dari rasa galau, stres dan bentuk tekanan yang lain. Terapi syukur yang sangat baik adalah ketika kita berusaha melihat semua yang Allah berikan kepada kita tentunya dengan segala keadaannya dan memaksimalkannya untuk tujuan ibadah, caranya adalah dengan melihat nikmat tersebut dari dua sudut pandang.

Pertama melihat bahwasanya nikmat itu sudah ada pada kita, dan yang kedua, melihat bahwa masih banyak orang yang membutuhkan hal tersebut tapi mereka tidak memilikinya, dalam arti keadaan mereka lebih " memprihatinkan"  dari diri kita. Aplikasinya, mungkin kita merasa jenuh dengan penghasilan yang tidak bisa menutupi kebutuhan harian kita, akan tetapi dengan melihat nikmat tersebut dengan bentuknya yang ada saat ini, dan adanya orang yang sangat membutuhkannya sedang ia tidak mampu menggapainya, berarti betapa Allah telah memberi nikmat tersebut untuk kita, dan kitapun harus mensyukurinya.

Penglihatan anda kurang tajam, fikirkan bahwa anda masih punya penglihatan dan disana masih ada orang buta. Anda belum punya keturunan, disana ada orang yang divonis tidak akan bisa melaksanakan pernikahan dengan sebab tertentu, dan lain sebagainya. Apakah ini teori? Ternyata jawabannya tidak, karena jauh sebelumnya Rasulullah telah memberikan resep ini untuk menghindarkan umatnya dari sifat kufur tanpa bisa bersyukur, Rasulullah SAW bersabda:


عن أبي هريرة رضي الله عنه : انظروا إلى من أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله عليكم

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu , Rasulullah SAW bersabda : " lihatlah pada orang yang keadaannya lebih rendah dari kalian, dan jangan lah kalian melihat orang yang keadaannya lebih tinggi dari kalian , karena itu akan membantu untuk tidak menganggap remeh nikmat Allah atas diri kalian "

Oleh karena itu, lihatlah apa yang ada pada diri kita dan bandingkan dengan mereka yang masih " kurang beruntung " karena mulai dari sinilah syukur itu akan bersemi. Bahkan Rasulullah selalu mewasiatkan sahabatnya untuk  selalu bersyukur serta berdoa agar bisa tetap konsisten dengannya , Rasulullah SAW bersabda :


 يا معاذ ، إني أحبك في الله ، فلا تدعن دبر كل صلاة أن تقول: اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك  
" Wahai muadz , sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah, janganlah engkau lupa pada setiap engkau selesai melaksanakan sholat untuk berdoa : ya Allah , bantulah hamba-Mu ini untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah hanya kepada-Mu " ( HR. Abu daud ).

Dan ini juga yang selalu di harapkan oleh Nabi Sulaiman a.s di dalam doanya.

(......َقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ ....)
" Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku ".  (An-Naml : 19)

Ketika hati kita selalu diisi oleh iman, cinta dan rindu serta rasa syukur kepada Allah, maka tidak akan ada lagi prasangka buruk dengan ketentuan yang di berikan kepada kita, atau benih kekufuran kepada nikmat Allah.

Sekian dari penulis. Sesungguhnya tulisan ini banyak saya peroleh dari sebuah sumber, dan tugas saya adalah sebagai yang menyebarkan tulisan yang penuh dengan ilmu ini agar dapat dibaca dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Semoga bermanfaat.

Penulis : Muhammad Ihsan

Gambar : m.republika.co.id Sangat manusiawi ketika seseorang akan dirundung duka dengan musibah yang ia rasakan, dan masih dalam garis ...

0 Komentar: