Izin dari Amal Jama’i, Kok Harus Istighfar?

Oktober 04, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Related image
Gambar : mindfullyourlife.org

Seorang mukmin memiliki sense yang kuat agar bermanfaat untuk orang lain. Rasa ini hanya akan berefek besar apabila diejewantahkan dengan beramal bersama muslim yang lain (Amal Jama’i). Karena Rasulullah pun tidak bergerak sendiri, tetapi beramal jama’i bersama sahabat untuk menyukseskan Islamisasi kehidupan umat manusia secara total.

Dalam Amal jama’i, banyak adab-adab yang perlu diperhatikan agar target dan capaian sebuah proyek tidak terganggu dengan hal-hal kecil. Contohnya Akhlak. Salah satu akhlak krusial dalam amal jama’i ialah, adab meminta izin.

Ternyata, dalam masalah meminta izin, Allah jelaskan masalah ini sebagai pembeda antara sifat orang beriman dengan yang munafik. Mari sejenak kita renungi firman Allah surat An Nur ayat 62 :


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ


“(Yang disebut) orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Diriwayatkan dari Ibnu Ishaq, sebab turunnya ayat ini ialah ketika Rasulullah ﷺ dan para sahabat sibuk menggali parit untuk persiapan menghadapi pasukan koalisi Quraisy dan kabilah Arab. Di tengah kesibukan amal jama’i ini, beberapa orang-orang munafik pergi tanpa seizin dari Rasulullah ﷺ.

Ini membuat beberapa sahabat melihat bahwa boleh saja pergi untuk memenuhi beberapa hajat. namun karena  iman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka tetap meminta izin dahulu untuk pergi dan diizinkan. Setelah terpenuhi, mereka kembali bergabung dengan Rasulullah dan para sahabat untuk menggali parit kembali, karena mengetahui betapa besarnya ganjaran pahala dari proyek mereka bersama Rasulullah.

Syaikh Mutawali Asy Sya’rawi dalam tafsirnya yang berjudul Al Khawathir, mengatakan bahwa seorang mukmin yang beriman kepada Tuhan dan Rasul-Nya, maka gerakan mereka hendaklah patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya juga. Apabila Rasulullah berada dalam “Amru Jami'” urusan yang melibatkan kepentingan umum, baik ketika khutbah, diskusi, perang, musyawarah maka hendaklah mereka berpartisipasi.

Mukmin yang sejati apabila diajak berpartisipasi dalam pembahasan urusan bersama, mereka tidak akan pergi dari majelis kecuali setelah datangnya izin dari Rasulullah ﷺ. Untuk keadaan ini, Rasulullah diberi kebebasan untuk memberi izin atau tidak, karena membahas kepentingan umum acapkali lebih penting daripada urusan yang menjadi alasan izin dari majelis. Tetapi, meminta izin di ayat ini ialah tanda dari iman seseorang seperti yang dijelaskan dalam ayat:

 ( إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِه) 

Pembahasan dari diskusi ini tidak membahas khusus untuk kemaslahatan pribadi, tetapi kemaslahatan umat yang lebih luas, yang tentu orang yang meminta izin juga mendapat manfaat atau mudharat efek dari musyawarah tersebut.

Tetapi, banyak yang salah dalam mengkadar apakah izin dari rapat urusan bersama ini lebih besar daripada urusan pribadinya. Disinilah highlight dari Syaikh Sya’rawi yang mengatakan bahwa, memang izin tersebut diberi oleh Rasulullah ﷺ tetapi meletakkan urusan pribadi dari urusan bersama, disanalah kesalahannya, dan Allah perintahkan Rasulullah untuk memohon ampun untuk orang-orang yang meminta izin. Dengan ta’bir yang lain, apabila disibukkan dengan urusan pribadi sehingga memaksa seseorang izin dari urusan kaum muslimin, maka orang yang meminta izin perlu dido'akan Rasulullah ﷺ untuk diampuni dosanya

 (وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ)
Lalu, apa tolak ukur Amru Jami'?
Asy Syahid Sayyid Quthb dalam Tafsir Zhilal, menjelaskan bahwa Amru Jami’  ialah urusan yang diperlukannya keikutsertaan jama’ah atau kelompok, baik dari diskusi, perang, atau agenda dari proyek-proyek kebaikan yang dirasakan orang banyak. Maka mukmin yang haqiqi dan yang berkomitmen dengan adab islami tidak akan pergi sebelum diizinkan pemimpinnya. Kalaupun memang kondisi mengharuskan untuk izin, setidaknya mereka berada dalam keadaan tidak suka dan terpaksa.

Allah meletakkan legalitas izin di tangan pemimpin, menimbang layak atau tidaknya untuk izin diberikan dengan mempertimbangkan maslahat majelis. Apabila layak, karena dhoruriy, maka akan diberi izin namun tetaplah mintalah ampun kepada Allah, karena telah mendahulukan urusan pribadi daripada kemaslahatan umat yang tengah dibahas.

Perlu nasehat ini menjadi perhatian bersama, terkhusus bagi penulis karena besarnya peringatan Allah dalam Al Quran. Momen turunnya ayat yang kita bahas diatas disebabkan oleh perilaku oknum munafik, dan Allah bandingkan dengan sifat mukmin yang benar.

Terakhir, pembahasan isu bersama ini perlu juga diprioritaskan untuk dibahas dan dicari solusinya, bagaimana caranya seorang mukmin akan merasa berat untuk beranjak dari musyawarah sebelum meminta izin dari pimpinan. Dan ketika diizinkan, dia akan merasa bersalah karena mendahulukan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum, maka mesti dia beristigfar kepada Allah.
Reminder bagi semua, karena tidak semua dari kita selalu menjadi pemimpin, namun kita pasti selalu menjadi prajurit. Wallahu A’lam

Penulis : Kieren Akbar

Gambar : mindfullyourlife.org Seorang mukmin memiliki sense yang kuat agar bermanfaat untuk orang lain. Rasa ini hanya akan berefek b...

0 Komentar: