Bercita-cita Menjadi Perempuan Akhir Zaman

Agustus 11, 2017 Forum Tarbiyah 1 Komentar


Gambar: shutterstock.com

Kenapa kok bercita-cita?
Karna aku yakin semua perempuan ingin mencapai ke tujuan tersebut.
Dan kenapa kok disebut cita-cita?
"Cita-cita lo kok gitu amet sih..?" sebagian mungkin akan mencetus.

Karna yang tidak asing di zaman kita adalah cita-cita yang mengarah menjadi dokter tertenar, engineer terhebat, atau bahkan bercita-cita menjadi istri salah satu oppa Korea.
Tidak ada yang salah kok.
Hanya saja, ini semua bersifat duniawi dan tidak akan kekal.

Shalat lima waktu, berpuasa, haji, zakat dll kita sudah "cukup" kok.
Benarkah?
Dari beberapa artikel yang aku baca & ketahui, bercita-cita menjadi shalehah itu adalah satu tujuan yang terdengar mudah, terucap mudah, tetapi ketika ingin menjadi shalehah, disitulah lika-liku naik-turunnya iman kita.

Keistiqamahanlah yang menjadi alat perang kita.
Ketika menuju titik yang sangat tinggi, tetapi sangat mulia di mata Allah.
Wanita shalehah itu ibaratnya seperti menginvestasi dinar yang nantinya sangat bermanfaat dan nilainya akan terus naik. Wah kaya dong kita? Pasti, makanya itu Rasulullah menyebutkan bahwa, 

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.”  (HR. Muslim)
Yang maksudnya, tidak cuma kita saja yang akan merasakan kemanisan itu nantinya. Bahkan orang-orang disekitar kita akan merasakan manisnya berada di sekitar orang-orang shalehah. Kenapa? Ya karna untuk menuju cita-cita menjadi shalehah itu banyak lika-liku nya, jadi ketika berusaha untuk mengubah diri, perubahan-perubahan itu yang nantinya tidak akan mendustakan hasil. Merasakan kehilangan teman, memuseumkan jeans ketat & baju lucu kita, double-extra dalam hal menutup aurat, bahkan bukan cuma itu, kadang keluarga sendiri yang belum mendukung juga akan menilai kita dengan perkataan-perkataan yang tidak enak didengar.

Tapi itu semua akan menjadikan bait-bait cerita seru yang akan tertulis di “CV” hidup kita.
Justru cita-cita ini yang akan membuat CV kita diterima di Jannah-Nya loh, bahkan dalam sabda Rasulullah SAW,  

      “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.”
Tetapi, tentu ada syarat-syarat nya untuk mendapatkan hadiah itu. “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya,...”
Alangkah mencapai cita-cita itu mudah, maka semua orang akan berlari-lari untuk mengejarnya, tetapi ianya dipenuhi dengan cobaan yang mana membuat perempuan-perempuan zaman sekarang ini menyerah untuk mencapainya, karna yang bersifat duniawi & bertentangan agama itu lebih mudah untuk dijalani.

Saat sedang semangat-semangatnya untuk berubah atau terbesit di hati ingin berhijrah,
Maka disitulah bentuk cinta Allah akan muncul. 
Allah ingin kita terus membuktikan cinta kita untuk-Nya. ‘Pengorbanan cinta kita’, bahasa gaulnya.
"Yakin nih cinta sama Allah?", mungkin itu cara Allah bilangnya.
Sama seperti kita manusia-manusia yang ingin menguji cinta kita sesama dengan memberi skenario-skenario, apakah kita akan tetap setia... atau menyerah.

Karna menyerah adalah hal yang paling mudah, tetapi menunjukkan kelemahan atau kekalahan seseorang. Sedangkan menyerah adalah hal paling hina dalam membuktikan cinta kita ke Allah. Ketika kita lalai dalam beriman, Allah tetap setia menunggu shalat-shalat kita, walaupun ianya baru dikerjakan terburu-buru 5 menit sebelum azan selanjutnya berkumandang, atau bahkan Allah selalu setia menunggu hamba-hambanya setiap malam untuk curhat kepada-Nya, tapi kita lagi-lagi lebih asyik bergadang dan curhat sesama manusia yang ilmu nya juga rata-rata, yang bahkan setelah  berjam-jam pun kadang tidak ada solusi untuk masalahnya, justru diselimuti rasa galau yang berkelanjutan.

“La Hawla Wala Quwwata Illa Billah”. Kalimat ini adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu selain kehendak Allah.

Sudah jelas sekali Allah begitu membuka lebar tangan-Nya untuk memeluk kita, yang artinya, apapun yang membuat kita gelisah, semua masalah lika-liku kehidupan, kembalilah ke Allah, yang Maha Penyayang & Maha Pengasih ini.

Maka dalam kesempatan ini, selagi kita terbesit di hati untuk berubah, ubahlah cita-citamu untuk menjadi perhiasan dunia, mintalah terus ke Allah untuk selalu diberikan kemudahan mencapai “requirements” yang diperlukan untuk mencapainya.

InsyaAllah dengan itu ketika ‘waktu ujian’ tiba, hati & wajah kita menunjukkan kalau kita siap dengan alat tempur kita yang berbekal ‘revision’ bertahun-tahun lamanya, dan keluar dari ‘tempat ujian’ dengan hati dan wajah yang tersenyum lega, karna akhirnya Allah sudah menerima & meluluskan “CV” hidup kita itu.
InsyAllah. Aamiin.


Penulis: Adya Laras Tsabita Atindriya

Gambar: shutterstock.com Kenapa kok bercita-cita? Karna aku yakin semua perempuan ingin mencapai ke tujuan tersebut. Dan kena...

1 komentar:

  1. Mashaallah, terima kasih atas tulisan Yang menginspirasinya mba adya :) semoga forum tarbiyah selalu berjaya

    BalasHapus