Hilang Arah

Juli 13, 2017 Forum Tarbiyah 1 Komentar

Gambar: kompasiana.com

Hilang arah sangat bisa (dan hanya bisa) dialami sama orang yang terus bergerak. Walaupun dia punya tujuan akhir dan tau pasti di mana tujuan akhir itu, bisa saja ia kehilangan arah di tengah jalan, dan bahkan berjalan menjauh dari tujuannya tanpa sadar. Tidak bisa di pungkiri, dalam hidup ini kemungkinan untuk hilang arah selalu ada tiap detik-nya. Karena itu Allah perintahkan kita untuk meminta petunjuk minimal 17 kali dalam sehari tiap kita baca Al Fathihah, lirih dalam shalat kita.

Kebanyakan dari kita sudah paham sekali bahwa Al Quran itu kompas kehidupan, yang menuntun kita agar bisa jalan lurus ke garis kesudahan kita di napas terakhir. Ada ribuan arahan praktis dalam al Quran yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita, lagi dan lagi agar kita sampai ke tujuan awal kehidupan kita. Salah satu dari ribuan arahan praktis itu adalah dengan mempunyai seorang panutan, atau seorang role model. Allah meletakkan hint ini di surat Al Ahzab ketika Ia berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. 33: 21)

Allah menunjukkan kita langsung bahwa panutan terbaik yang bisa kita punya adalah Rasulullah SAW, tidak perlu mencari-cari lagi siapa yang harus dijadikan panutan. Ah, andai saja setiap waktu kita sadar bahwa al Qur’an itu contekan dalam hidup. Kita harus meluangkan waktu lebih, mengeluarkan tenaga lebih, dan menambah usaha lebih untuk mempelajari Al Qur’an dan panutan kita, Nabi Muhammad SAW, sehingga kita bisa mengikuti jejaknya, sang manusia paling mulia shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tapi terkadang ada situasi-situasi spesifik yang kita susah untuk mengaitkannya ke Rasulullah, misalnya bagaimana seharusnya kita hidup di era yang tidak bisa lepas dari media sosial? Bagaimana cara kita memaksimalkan penggunaan media sosial? Siapa teladan kita di penggunaan sosial media? Pun dalam kasus seperti ini, Rasulullah SAW tetap menjadi panutan kita, ketika beliau bersabda:

"Ulama adalah pewaris para nabi"
(HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu 'anhu)

Ya, Jawabannya adalah ulama, mereka yang meneladani Nabi SAW. Melalui ilmu dan pemahaman mereka tentang Nabi SAW mereka mengaplikasikan ajaran-ajaran Nabi SAW di situasi kita pada zaman ini. Inti dari para ulama, yang kita cari adalah Ilmu dan Taqwa yang mereka miliki. Tapi bagaimana bisa para ulama jadi panutan kita jika mengingat beliau-beliau semua aja langsung teringat ngantuk di pengajian. Tak apa, semuanya berproses kan? Asal tidak bohongi diri sendiri saja.

Sebenarnya, ketika kita berbicara tentang panutan, sering kali kita tidak sadar bahwa kita menjadikan seseorang sebagai panutan kita. Kita kerap kali mencontoh hal kecil dari orang orang di sekitar kita. Ayah ibu kita, kakak dan senior kita, sampai orang tidak jelas di Instagram atau di Youtube, tanpa sadar bahwa kita sebenarnya menjadikan mereka teladan kita. Proses peniruan ini dijelaskan dalam teori pembelajaran sosial yang diperkenalkan oleh Albert Bandura, teori yang diterima banyak orang karena memadukan faktor kognitif dan sosial. Intinya, sadar ataupun tidak kita adalah hasil dari apa yang kita amati dari sekitar kita.

Ini tentang pengaruh orang-orang di sekitar kita. Bukan hanya di lingkungan fisik, di lingkungan maya pun pengaruhnya ada, bahkan bisa lebih besar. Kalau boleh cerita, saya pernah terkejut dengan reaksi orang-orang terdekat saya ketika saya berbagi pikiran dengan mereka. Atau, saya beberapa kali merenung kenapa saya tidak berfikir setulus orang orang terdekat saya. Akhirnya saya dapat suatu penjelasan, mungkin saya terpengaruh cara berpikir orang-orang yang saya ikuti di media sosial. Bisa dibilang fikrah mereka tidak jelas. Padahal, ketika mengikuti akun-akun itu alasan saya adalah karena mereka membawa perubahan ke lingkungan mereka, akun mereka punya estetika yang enak dipandang, atau karena mereka sering berbagi buku yang mereka baca. Saya akhirnya sadar bahwa cara berpikir mereka ‘agak’ tertular ke pengikut akun mereka, termasuk saya. Dan pengaruh itu membuat saya merasa tidak nyaman dengan pikiran saya sendiri.

Masih tentang akun media sosial yang saya ikuti, saya begitu lega ketika akhirnya menemukan akun seorang akhwat yang betul-betul bisa jadi panutan, terlebih lagi foto fotonya enak dipandang. Akun begini yang seharusnya banyak diikuti, walaupun memang jumlahnya bisa dihitung jari. Dari panutan seperti ini, saya berusaha meluruskan cara berfikir saya yang sempat melengkung. Seharusnya dari awal saya ingat kalau Rasulullah juga sudah menasihati kita:

“Seseorang itu dengan agama sahabatnya, maka hendaklah kalian melihat orang yang akan kalian bersahabat.” (Hadis Hasan Sahih oleh Tirmizi, Abu Daud , Ahmad)

Mungkin sahabat yang dimaksud dalam hadits diatas juga mencakup sahabat media sosial, orang-orang yang tulisan dan unggahannya jadi santapan keseharian kita. Apalagi sahabat di dunia nyata. Saya ingat, saya pernah terpesona (lol, maaf saya kekurangan kosakata) ketika teman dekat saya yang pernah dianggap ‘bermasalah’ di sekolah dulu, dengan tidak sengaja kasih tahu saya kalau shalat sunnah sebelum dan sesudah zuhur adalah paket yang ngga pernah dia tinggalkan. Ada seorang teman yang jiwa altruismenya masih jadi motivasi saya untuk terus beramal, walaupun sudah pisah tahunan lamanya. Ada juga orang-orang yang melihat mereka aja bikin saya malu untuk bersantai-santai. Pengaruh positif ataupun negatif yang kita dapat dari orang-orang sekitar bisa aja terserap secara tidak sadar, tapi ketika kita tau pengaruh itu positif kita harus secara sadar bersemangat untuk mengambil pengaruh itu. Nabi kita, SAW, bersabda:

“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)

Hikmah, yang bisa juga diartikan sebagai manfaat atau pengaruh positif, adalah sesuatu milik kita yang hilang! Jadi, proses mengambil manfaat itu sebenarnya untuk mengutuhkan apa yang kita punya. Coba renungi hadits ini, mashaaAllah sebenarnya artinya dalam banget. “Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah”, berarti memang ia terpencar. Bisa kita dapat dari tukang sapu, teman kuliah, supir bus, ibu-ibu yang lewat, unggahan video di instagram, siapa pun dan apa pun. Bahkan, dari novel dan film pun kita bisa menemukan teladan kita. Kita bisa mengubah standar kita dengan melihat kualitas para tokoh di novel dan film tersebut. Novel Kang Habiburrahman misalnya, tokohnya yang ideal selalu membuat saya merasa kerdil dan lalu memperbaiki diri. Ketika melihat hal yang baik untuk dicontohi, ambillah! Karena sejatinya ia bagian dari kita juga.

Ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya dengan mencontoh, yaitu mencontohkan. Apakah ada hikmah yang bisa diambil dari kita? Apakah orang lain ada yang menjadikan kita teladan? Jangan lupa hadits ini:

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim)

MasyaAllah, betapa pemurahnya Allah. Bahkan kita yang masih begini diberi kesempatan untuk mengubah arah hidup orang lain, yang dengan itu juga kita meluruskan arah hidup kita. Ayo sama-sama kita pelajari Al Qur’an lebih dalam lagi, belajar sirah nabi lebih serius lagi, kelilingi diri kita dengan orang shalih, dan ikuti hal-hal yang jelas manfaatnya saja. Wallahu a’lam, semoga Allah menguatkan kita untuk selalu merujuk ke kompas-Nya di tiap fase hidup kita. Karena hanya dengan izin-Nya lah kita tidak akan hilang arah.


Penulis : Fadhilah Assaadah Abdul Aziz


Gambar: kompasiana.com Hilang arah sangat bisa (dan hanya bisa) dialami sama orang yang terus bergerak. Walaupun dia punya tujuan akh...

1 komentar:

  1. Sesungguhnya Allah maha pengasih, lagi maha penyayang. Dia akan memberikan beberapa kesusahan pada hambanya di dunia, agar terhindar dari kesusahan di Akhirat.

    BalasHapus