Peta Ramadhan

Juni 16, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Image result for ramadhan tumblr
Gambar : weheartit.com

Tak terasa bulan Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Sudahkah kita memaksimalkan Ramadhan tahun ini dengan beribadah? Jika belum apakah kita yakin kita akan diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan? Tak dipungkiri, sudah menjadi fitrah manusia dimana keimanan tak menentu, kadang naik kadang turun. Oleh karena itu, tulisan ini akan sedikit menjabarkan kiat-kiat ibadah yang bisa dilaksanakan dalam bulan Ramadhan.

Ada 3 ibadah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika bulan Ramadhan datang, beliau SAW membagi menjadi 3 waktu, yaitu:

1) Ibadah Al-Lail (waktu maghrib/isya sampai menjelang waktu sahar)
Kata “al lail” berasal dari kata Bahasa arab yaitu malam. Yang dimaksud ibadah al lail adalah ibadah yang dilakukan ketika waktu maghrib datang hingga menjelang waktu sahar. Adapun ibadah yang disunnahkan Rasulullah SAW dalam waktu ini adalah:

Sholat Qiyam
Bila merujuk kepada hadith-hadith nabi SAW, tidak ada satu hadith pun yang menyebutkan istilah “tarawih” akan tetapi nabi SAW menggunakan istilah “qiyam” dalam hadith sohih. Seperti hadith berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏- رضى الله عنه ‏- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 
Artrinya: “Barang siapa yang shalat (qiyam Ramadhan) dengan dasar iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. (Bukhori & Muslim)

Di dalam al Qur’an kata “qiyam” memiliki 2 bagian. Pertama, qiyam dimaksudkan sebagai “qiyamullail”, yaitu sholat yang ditunaikan ba’da (setelah) isya’ tanpa didahului dengan tidur sebelumnya. Allah SWT menjelaskan “qiyamullail” dalam Shurah Al-Muzammil ayat 1-20. Dalam bulan Ramadhan, masyarakat umum mengenal sholat ini sebagai sholat tarawih. Perlu digaris bawahi, seorang Muslim tidak boleh memulai sholat tarawih tanpa didahului dengan sholat isya’ karena perbedaan hukum keduannya. Sholat isya’ hukumnya wajib, sedangkan sholat tarawih hukumnya Sunnah.

Apabila seorang Muslim datang ke masjid sedangkan sholat tarawih sudah dimulai, maka dia harus melaksanakan sholat isya’ terlebih dahulu setelah itu disambung dengan sholat tarawih. Adapun untuk tuntunan banyaknya rakaat untuk memunaikan sholat tarawih terdapat berbagai macam, yakni 11 rakaat dengan formasi 2+2+2+2 (tarawih) +3 (witr) atau pun dengan 23 rakaat dengan formasi 2+2+2+2+2+2+2+2+2+2 (tarawih) +3 (witr). Rasulullah pernah melakukan keduanya dan kedua-duannya sah dilakukan, sesuai kemampuan masing-masing. Kata ‘tarawih’ merupakan sifat dari sholat tarawih, yang berasal dari kata “tarwiihah” yang memiliki arti menghadirkan ketenangan dalam jiwa/ruh. Apabila seorang Muslim hendak melakukan sholat tarawih hendaknya ia mencari kelapangan pada ruh. Oleh karena itu, sebaiknya seorang Muslim mencari jamaah/imam sholat tarawih yang tidak terburu-buru dan khusyu’ dalam sholatnya sehingga dapat menghadirkan ketenangan dalam hati bukan sekedar menjalankan ibadah sebagai rutinitas ataupun menyelesaikan dengan cepat belaka.

Kedua, “qiyam” dimaksudkan sebagai “tahajjud”, yaitu sholat yang ditunaikan ba’da (setelah) isya’ yang didahului tidur/istirahat sebelumnya. Allah SWT berfirman,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra: 79) Umumnya, ibadah sholat tahajjjud ini dilakukan di sepertiga malam menjelang fajar. Di waktu ini sangat mustajab, karena Allah datang ke langit bumi untuk mengabulkan semua permohonan doa-doa hambanya.

Ketika Rasulullah SAW menggunakan kata ”qiyam” dalam hadith diatas, berarti ada kemudahan untuk umat Muslim menunaikan sholat diantara dua waktu tergantung kadar kemampuan. Satu, yaitu “qiyamullail”/sholat tarawih ataupun, dua, yaitu “tahajjud” atau sholat yang biasa dilakukan di sepertiga malam. Apabila kedua-duanya sholat tersebut dilaksanakan dengan ikhlas dan karena mengharap pahala dari Allah maka niscaya, dengan izin Allah,  akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

2) I’tikaf di masjid
Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk beri’tikaf di bulan Ramadhan khususnya di malam 10 akhir. Seperti yang di riwayatkan oleh istri beliau Aisyah RA:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَقُولُ: ‏"‏ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ‏"
Artinya: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa yujawir (beri’tikaf) di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan dan beliau berbersabda: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan”.

Adapun ciri ciri malam lailatul qadar sebagai berikut:
1) Matahari tidak terlalu panas
2) Udara dan suasana pagi yang tenang
3) Tidak basah dan tidak lembap/tidak hujan
4) Bulan nampak separuh bulatan
5) Tidak ada awan/angina kencang
6) Tidak ada bintang bersinar

2) Ibadah As-Sahar (20-30 menit sebelum waktu fajar datang)
Kata “as-sahar” bermaksud waktu dimana 30 sampai dengan 20 menit sebelum adzan berkumandang. Adapun aktifitas yang disunnah-kan rasulullah SAW pada masa ini dinamakan “sahur”. Kata “sahur” bukan dimaksudkan nama waktu melainkan nama kegiatan di waktu “sahar”, sedangkan “sahar” adalah waktunya. Adapun Rasulullah SAW menganjurkan ibadah pada waktu ini adalah sebagai berikut:

1) Makan Sahur
Rasulullah SAW menganjurkan umat Muslim untuk melaksanakan makan sahur meskipun dengan cara yang sederhana. Makan sahur adalah makan di waktu sahar, sekitar 30-20 menit sebelum adzan subuh berkumandang. Karena ketika kita melaksanakan makan sahur, sesungguhnya didalamnya terdapat banyak keberkahan. Rasulullah SAW bersabda:

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ‏- رضى الله عنه ‏- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ
(صلى الله عليه وسلم: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي اَلسَّحُورِ بَرَكَةً (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: “Sahurlah, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan”.
(Bukhori & Muslim)

Keberkahan yang dimaksud adalah ketika kita mengakhirkan makan sahur/ makan disaat setengah jam sebelum waktu fajar tiba, tubuh kita lebih siap menjalani puasa dengan asupan tenaga dari makanan yang kita konsumsi. Asumsinya, ketika kita memiliki banyak tenaga, kita bisa menjalani aktifitas sehari-hari dengan maksimal dan juga bisa dibarengi dengan ibadah. Akan tetapi justru sebaliknya, ketika kita makan sahur 1 jam/2 jam sebelum adzan tiba, tubuh kita akan menahan lapar dan haus lebih lama dari waktu yang semestinya. Ketika asupan tenaga kita kurang, maka tubuh akan terasa lemas dan malas sehingga tubuh kita hanya ingin tidur sepanjang hari, padahal bulan Ramadhan ini Allah datangkan ampunan dan limpahan rahmat-Nya. Normalnya, durasi berpuasa bagi umat Muslim di Indonesia sekita 13 jam dari terbit fajar hingga maghrib menjelang. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita sebagai umat Muslim mengikuti Sunnah Rasulullah SAW dalam makan sahur yaitu 30 menit sebelum adzan subuh tiba agar tubuh kita mendapatkan asupan tenaga yang cukup sehingga bersemangat untuk menjalani aktifitas sehari-hari dan beribadah selama bulan Ramadhan. Adapun hukum makan 2/1 jam sebelum waktu fajar hukumnnya tidak dikategorikan sebagai makan sahur.

2) Muhasabah/Introspeksi Diri
Pada masa ini juga Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bermuhasabah/ intropeksi diri dan memohon ampun atas segala dosa yang telah diperbuat. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hashr ayat 18 yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

3) Ibadah An Nahar (waktu fajar sampai waktu maghrib/isya datang)
Kata “an-nahar” diambil dari bahasa arab yang berarti tengah hari atau siang hari. Yang dimaksdukan dengan ibadah an-nahar adalah ibadah yang dilakukan dari terbitnya fajar sampai maghrib menjelang. Rasulullah SAW mewajibkan umatnya untuk berpuasa di pada bulan Ramadhan dan disertai dengan ibadah-ibadah lainnya.

Ada beberapa adab-adab berpuasa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dalam bulan Ramadhan, sebagai berikut:
1) Mengakhirkan makan sahur/makan diwaktu sahar.
2) Niatkan berpuasa karena mengharapkan ridha Allah semata, dengan menahan segala hal yang dapat membatalkan puasa, dan menahan segala hawa nafsu.
3) Perbanyak amalan-amalan sunnah sesuai kemampuan.
4) Perbanyak doa di waktu menjelang berbuka dan setelah membatalkan puasa setelah adzan maghrib berkumandang.
5) Melafadzkan doa berbuka puasa:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى الْكَفِّ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّه
Artinya: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.

Doa diatas adalah yang paling direkomendasikan oleh Nabi SAW, karena hadith diatas mempunyai tingkatan “hasan”/ baik, sehingga para ulama sependapat dengan kebenaran doa ini. Adapun doa yang biasa ramai diucapkan oleh masyarakat umum adalah:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ:اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka”.

Tingkatan hadith diatas adalah “dhaif”/ dikategorikan lemah, sehingga para ulama berbeda pendapat mengenai doa yang satu ini. Alangkah baiknya kita sebagai Muslim untuk menghindari perselisihan, sehingga doa yang pertama lebih diutamakan dari pada doa yang kedua.

Tentunya masih banyak sekali ibadah-ibadah sunnah yang bisa diamalkan pada bulan Ramadhan. Misalnya seperti berinfaq, menolong orang lain terutama orang tua, bersabar dan seterusnya. Perlu diingat kembali, bahwasannya pahala amalan Sunnah yang dilakukan di bulan Ramadhan setara dengan pahala amalan wajib. Maka dari itu, sebagai umat Muslim sudah seyogianya kita berlomba-lomba mencari keridhaan Allah SWT dengan melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan kita. Semoga kita bisa memaksimalkan ibadah kita di 10 hari terakhir bulan Ramadhan tahun ini dan mendapatkan ampunan dari-Nya atas dosa-dosa yang telah lalu. Wallahua’lam bissawab.

Penulis : Tsabat Robbani Nurhadi

Gambar : weheartit.com Tak terasa bulan Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Sudahkah kita memaksimalkan Ramadhan tahun ini dengan b...

0 Komentar: