Menjadi Wisudawan Ramadhan yang Purna

Juni 22, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar


Image result for poster sukses bulan ramadhan
Gambar : kurusampan.com

Ramadhan akan berakhir beberapa hari lagi. Momen tahunan ini tidak akan terulang apabila Allah menakdirkan inilah Ramadhan terakhir kita. Semoga tidak, kalaupun iya, kita berharap mendapat ampunan Allah dan meraih ridha-Nya.

1 syawal bagaikan hari wisuda bagi para santri Madrasah Ramadhan, ditempa selama sebulan yang secara simpel menahan diri dari hal yang halal bagi kita. Tapi apakah para santri ini benar-benar wisuda pada hari Idul Fitri sehingga dengan percaya diri membeli “pakaian wisuda” (red-baju lebaran) ? atau para santri ini hanya singgah di bulan Ramadhan dan tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan haus ?

Setidaknya ada 3 “sifat dasar” yang pasti dimiliki santri Ramadhan apabila mereka berpuasa secara “imanan wa ihtisaban”.

1. La’allakum Tattaqun (Semoga menjadi orang yang bertaqwa)
Sudah banyak pembahasan sifat taqwa selama ceramah orientasi Ramadhan, dan ini sifat yang eksplisit yang diinginkan Allah dengan puasa ini. Tapi kami mencoba menjelaskan dengan different approach.
Mari renungi kenapa Allah menyebutkan puasa ini juga kewajiban kepada kaum sebelum terdahulu (كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ)? Ini tidak terlepas dari runtutan ayat sebelum ini yang banyak menceritakan Bani Israel. Mulai dari dipilihnya Bani Israel sebagai umat pilihan, kisah pembangkangan Bani Israel kepada perintah Musa, janji leluhur mereka agar menyembah Tuhannya Ibrahim, Ismail, Ishaq yaitu Tuhan yang satu, dan mereka berjanji menjadi orang yang berserah diri patuh terhadap Tuhan yang satu (muslim). Tetapi mereka tidak menjalankan sesuai dengan perintah Allah, bahkan mereka tidak menjadi orang yang berserah diri dengan perintah Allah. Orang-orang beriman berpuasa agar mereka melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya.
Allah ingin kita berbeda dengan orang-orang terdahulu, dimulai dengan merubah identitas muslim agar berbeda dengan umat terdahulu. Merubah arah kiblat, menjelaskan hakikat sa’i, makanan yang halal dan thayyib, dan terakhir tentang qishash. Jadi, puasa kita sebagai Umat Muhammad mesti berbeda dari puasa yang dipraktekkan oleh kaum terdahulu. Taqwa menjadi tolak ukur pembeda antara puasa umat Muhammad dan puasa kaum terdahulu.

2. La’allakum Tasykurun (Semoga kamu menjadi orang-orang yang bersyukur)
Sebelas bulan jiwa ini jarang merasakan apa yang dirasakan kaum papa di sekitar kita. Padahal menjadi seorang muslim bukan berarti mengenyangkan jiwa dengan ibadah dan lupa dengan sekitar. Puasa menghadirkan kembali rasa yang juga dialami oleh orang-orang yang menahan lapar karena tidak memiliki cukup uang.
Apakah setelah berpuasa, kita merasakan apa yang dialami oleh orang-orang yang memiliki rezeki yang terbatas, akan memberikan efek peningkatan kualitas syukur kita atas nikmat Allah atau malah nilai itu tidak kita rasakan karena sibuk menghadiri buka bareng dengan teman-teman dan memamerkan keberhasilan selama di rantau?
Alhamdulillah apabila nilai syukur ini telah bersemayam dalam hati kita, langkah selanjutnya tentu kita mesti membantu orang-orang pra-sejahtera menjadi orang yang sejahtera. Karena Islam melarang kita pasif sosial seperti rahib sedangkan masyarakat terjerumus dalam penyakit. Yang diharapkan Islam ialah setiap pemeluknya ialah sebagai da’i, mengajak dan menggerakkan muslim yang lain untuk melakukan perubahan yang positif di lingkungannya. Itulah makna syukur bagi lulusan madrasah Ramadhan.

3. La’allahum Yarsyudun (Semoga menjadi orang-orang yang rasyid)
Syaikh Abdul Fattah Al Khalidiy mengungkap kaitan antara sifat Ar Rasyid dengan makna puasa. Ar-Rusydu lebih pas apabila diartikan sebagai “kematangan jiwa” daripada kecerdasan. Seperti sifat yang Allah berikan kepada pemuda Al Kahfi, sesuai dengan doa mereka. Muda dari segi umur, tetapi dewasa dalam wawasan, tindakan dan tanggung jawab keumatan.

Negasi dari sifat ar-rusydu ada pada perilaku kaum Luth. Walaupun kaum luth sudah mencapai usia baligh, tetapi nafsu mereka -gejolak jiwa yang harus dikendalikan oleh muslim yang berakal- jauh menyimpang dari orang normal, seperti firman Allah di Surat Hud ayat 78 : أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ (Tidak adakkah diantara kalian lelaki yang rasyid?)

Apa hubungan sifat Ar Rusydu dengan orang berpuasa ?

Orang akan berpuasa semata-mata melaksanakan perintah Allah, dan pasti melawan gejolak nafsunya. Puasa melatih kita agar bisa menjaga dan mengontrol diri dari hal-hal yang mubah. Makanan, minuman, hubungan seksual adalah hak manusia yang mubah. Disinilah letak tarbiyah dzatiyah dari Madrasah Ramadhan. Dari hal-hal yang halal saja kita mampu menjauhinya karena Allah Ta’ala, tentu kepada yang diharamkan Allah kita akan lebih mampu menghindarinya.
Menghilangkan rasa lapar dan haus adalah naluri alamiyah manusia. Akan tetapi demi keta’atan kepada Allah, kita rela menahan rasa lapar, menahan kerongkongan yang mengering demi mengharap balasan dari Allah. Kita akan berhati-hati agar perintah dan larangan Allah jangan sampai dilanggar, walaupun itu sejalan dengan nafsu alami manusia. Bukankah itu sifat taqwa yang digambarkan Umar bin Khattab ?

Taqwa seperti berjalan di jalanan yang penuh dengan duri. Kita diperintahkan untuk sampai ke tujuan dan tidak berhenti, sedangkan jalanan yang penuh duri ini mesti dilewati. Tentu seorang muslim akan berhati-hati melewatinya, jangan sampai menginjak apa yang membuatnya terluka, dan terus tetap waspada walaupun kaki berada di zona aman.

Nilai-nilai ini mesti selalu dirawat dengan berinteraksi dengan Al Qur’an dengan menghayati dan mengamalkannya. Petunjuk Al Qur’an menjadi bekal dan panduan bagi alumni madrasah Ramadhan, karena fenomena kehidupan tidak akan jauh dari firman Allah di dalam Al Qur’an, tinggal seberapa dalam kita menghayati Al Qur’an dan merelasikannya dengan kehidupan kita.

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi -hafizhahullah- mengingatkan agar orang-orang yang berpuasa menjadi Rabbaniyun (hamba-hamba Tuhan), bukan Ramadhaniyun (hamba-hamba Ramadhan). Artinya, ibadah yang kita jalankan di bulan Ramadhan dan sifat-sifat yang dicapai oleh setiap muslim yang berpuasa, jangan hanya ada ketika bulan Ramadhan, seharusnya sifat-sifat itulah yang muncul di luar Ramadhan. Karena sifat taqwa, selalu bersyukur dan jiwa yang matang adalah karakter muslim tangguh yang siap tidak hanya menghadapi dunia yang mulai aneh, tetapi agar hidup istiqamah meraih ridho dan rahmat Allah. Semoga sifat ini ada pada diri kita semua. Selamat wisuda santri madrasah Ramadhan.


 Penulis : Kieren Akbar



Gambar : kurusampan.com Ramadhan akan berakhir beberapa hari lagi. Momen tahunan ini tidak akan terulang apabila Allah menakdirkan ...

0 Komentar: