Kisah Hijrah Seorang Wanita Malam

Mei 13, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar


Hijrah sendiri memiliki arti yang cukup luas. Hijrah dalam konteks sejarah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Rasulullah bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah dan dakwah. Dan hijrah secara bahasa berarti meninggalkan, atau menjauhkan diri dan berpindah tempat. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu: ada sesuatu yang ditinggalkan dan ada sesuatu yang dituju.

Sebagian besar dari kita tentunya sudah mengetahui apa itu hijrah dalam konteks sejarah, tetapi tidak banyak orang memahami apa maksud hijrah secara bahasa. Untuk memahaminya lebih dalam, ada kisah pendek yang mungkin dapat membantu menjawab pemahaman tersebut. 

Kisah ini saya ambil dari rekan saya yang usianya jauh lebih tua dari saya. Ia adalah salah satu manager cabang pada salah satu tempat khursus bahasa inggris bertaraf internasional di ibu kota. singkat cerita kami bertemu dan berkenalan satu sama lain yang kemudian pada akhirnya menceritakan kehidupan pribadi masing-masing. “kisah hijrah” ini kemudian bermula saat ia menceritakan masa lalunya yang kelam.

Sebut saja mba Anggun, ia merupakan sosok perempuan yang tangguh dan cerdas. Pada masa mudanya ia sudah harus merasakan pahitnya kehidupan. Hidup di keluarga yang berada di bawah rata-rata membuatnya harus mencari uang sembari bersekolah. Sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah atas ia selalu mendapatkan juara umum di sekolahnya. Tetapi nasib berkata lain, ia tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk bekerja pada salah satu club golf menjadi seorang caddy. Caddy adalah orang yang membantu pemain golf di lapangan. Baik itu membantu membawa peralatan mau pun memberikan masukan kepada pemain golf. Ya mungkin sebagian dari kita tahu betapa beresikonya menjadi seorang caddy perempuan yang dimana mereka dianjurkan berpakaian minim dan berpenampilan menarik. Sampai pada akhirnya ada seorang pria yang mengajaknya berkenalan. 

Mereka mengenal satu sama lain dan akhirnya mereka menjalin sebuah hubungan terlarang. Pada saat itu Mba Anggun memenuhi permintaan sang pria karena pria ini menawarkan tawaran yang menggiurkan yaitu, ia diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta bergengsi di kawasan Jakarta dan diberi modal untuk berwirausaha. Setelah lama menjalin hubungan, berbagai masalahpun menghadang, yang pada akhirnya mengharuskan mba Anggun untuk mengakhiri hubungannya dan mencari uang dengan cara lain. Kemudian ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu sebagai barista pada salah satu kafe terkemuka di Jakarta. Tetapi dengan hanya menjadi barista, ia tidak dapat menutup biaya hidup di Jakarta dan iuran kuliah yang tentunya tidak murah. Dan akhirnya ia diajak oleh teman kost-annya untuk ikut bekerja di salah satu club malam. Pada saat itu, ia hanya mengira untuk menjadi seorang bartender. Untuk menjadi seorang bartender saja ia memiliki keraguan yang besar pada dirinya karena harus menyediakan minuman keras untuk konsumen. Ternyata….. temannya mengajak untuk hal yang jauh lebih menakutkan, yaitu sebagai “wanita malam”. Mba anggun sangat dilemma pada saat itu, karena harga yang ditawarkan cukup menggiurkan untuk membayar biaya hidupnya, iuran kuliah, dan juga membantu beban ayahnya membiayai adik-adiknya. Pada akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya demi dapat menutupi seluruh biaya tersebut. Setelah terjerumus dalam lingkungan temannya, ia mulai terbiasa minum minuman beralkohol dan mengonsumsi beberapa obat-obatan jenis terlarang lainnya. 

Pengalaman pahit mba Anggun tidak hanya berhenti sampai situ saja, setelah ia mengakhiri pendidikannya dan mendapat gelar sarjana ia sempat bekerja menjadi salah satu sales promotion girl di salah satu perusahaan rokok yang lagi-lagi mengharuskan ia berpakaian minim. Tidak lama dari itu, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap menjadi seorang pengajar Bahasa Inggris di tempat saya khursus sebelumnya. Dari tempat kerjanya ini, ia bertemu dengan seorang pria asing dan menjalin hubungan dengannya. Selama dengannya seringkali mba Anggun ini tidak dapat menahan hawa nafsunya karena ia yakin bahwa pria ini akan menikahinya kelak. 

Hingga akhirnya, suatu hari ia bertemu seorang ustadz yang merupakan teman ayahnya sendiri. Ustadz ini memberi ucapan selamat padanya, “selamat ya neng, denger-denger kamu udah sukses sekarang. Udah bisa bantu banyak keluarga. Pokoknya selama kamu berada di jalan-NYA insyaAllah bakal sukses terus. Si ayah bangga banget sama kamu, jangan sampe ngecewain dia ya.” Dari perkataan teman sang ayah ini mba Anggun mulai merenung dan mengaitkannya dengan kondisi ayahnya yang semakin hari semakin memburuk karena penyakit yang dideritanya. 

Setiap hari mba Anggun memikirkan ucapan teman sang ayahnya ini, terlebih lagi sang ayah seringkali menasihatinya untuk menutup auratnya dan menasihatinya untuk selalu bersyukur kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-NYA. Yang terbesit dalam lamunannya adalah, “apakah ini (kondisi sang ayah) dan nasihat sang ayah dan perjumpaannya dengan ustadz ini merupakan bentuk teguran dari Allah?” 

Mba Anggun mulai memantapkan hatinya untuk memenuhi perintah sang ayah. Ia mulai dari meninggalkan dunia malamnya, kemudian meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya, dan akhirnya bertekad untuk memakai hijab. Alhamdulillah setelah ia mulai kembali ke jalan-NYA segala cobaan pada hidup mba Anggun mulai terurai satu persatu. Tetapi, masih ada satu hal berat baginya untuk ditinggalkan, yaitu untuk meninggalkan sang kekasih yang begitu ia cintai dan tidak mungkin untuk ia tinggalkan. Kemudian mba Anggun mencoba untuk mengislamkan pasangannya tersebut, tetapi Allah belum mengkhendakinya. Mba Anggunpun memantapkan hatinya untuk meninggalkan pria asing tersebut. Seiring berjalannya waktu, mba Anggun mulai mencari ilmu dengan menghadiri kajian satu ke kajian lainnya. Ataupun bila ia sibuk dengan kerjanya, ia mendengarkan kajian tersebut dari internet. 

Setelah mba Anggun istiqomah untuk berhijrah ke hidup yang lebih baik, Allah mengangkat penyakit sang ayah dan ia mendapat kedudukan tinggi pada tempat kerjanya saat itu. Mba Anggun benar-benar merasa keajaiban “hijrahnya” tersebut. 

Nah, dari pengalaman senior sekaligus kawan saya ini dapat kita simpulkan bahwa hijrah adalah meninggalkan sesuatu yang buruk untuk berpindah ke suatu hal yang jauh lebih baik. Dan Allah akan memudahkan seluruh langkah kita apabila kita selalu mengingat-NYA dan berpegang teguh pada agama-NYA. Wallahu ta'ala a'lam

Penulis : Ananda Adilah Fauzia

Hijrah sendiri memiliki arti yang cukup luas. Hijrah dalam konteks sejarah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Rasulullah b...

0 Komentar: