The Legacy of Mohammad Natsir

April 29, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Prof. Dr. Sohirin Mohammad Solihin dan Dr. Lili Yulyadi Bin Arnakim

(28/04/2017) IIUM, “Islam beribadah itu akan dibiarkan, islam berekonomi akan diawasi, Islam berpolitik akan dicabut ke akar-akarnya”, sebuah kutipan kata-kata sebagai buah dari pemikiran seorang pahlawan bangsa, Muhammad Natsir. Kajian-kajian, buku-buku, skripsi, tesis, disertasi, sudah terhitung lagi yang membahas tentang sosok beliau ini. Dalam rangka menjemput spirit pergerakan dan keteladanan yang telah pernah beliau tempuh dahulu, Forum Tarbiyah (FOTAR) IIUM bekerjasama dengan ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) IIUM –organisasi mahasiswa Indonesia di International Islamic University Malaysia- mengangkat sebuah seminar dengan tema “THE LEGACY OF MOHAMMAD NATSIR”.

Seminar yang dimulai pada pukul 10.00am ini, menghadirkan dua orang dosen asal Indonesia yang mengajar didua universitas berbeda di Malaysia, yaitu Assoc. Prof. Dr. Sohirin Mohammad Solihin dan Dr. Lili Yulyadi Bin Arnakim, dengan dimoderatori oleh seorang kandidat s3 jurusan Hukum di IIUM.

Pada sesi pertama, dimulai oleh Ustadz Sohirin dengan tema “Muhammad Natsir dalam Dakwah dan Politik”. “M. Natsir memang tidak ada gelar akademik dalam bidang keislaman, beliau belajar islam secara otodidak”, ujar dosen yang menamatkan PhD beliu di University of Birmingham UK membuka sesi diskusi. “Beliau belajar Islam melalui mulazamah dengan para ulama. Karena prestasinya, beliau pernah  ditawari beasiswa untuk belajar Hukum di universitas Rotterdam di Belanda, tapi karena semangat beliau yang sangat ingin mendalami Islam dan berjuang atas nama keislaman, beliau menolak tawaran tersebut. 

Beliau mulai banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh Islam saat berada di Bandung, dan disanalah awal titik tolak beliau mendedikasikan diri kepada Islam. Salah satu inspirator yang beliau temui selama berada di Bandung adalah seorang tokoh fenomenal Syarikat Islam, HOS Tjokroaminoto, yang digelari sebagai Guru Bangsa, selain Muhammad Natsir, Soekarno - Bapak Proklamasi - dan Kartosuryo juga berguru kepada beliau”, papar Ustadz Sohirin berikutnya.

Pada usia 19 tahun, Muhammad Natsir telah berdialog dan berdebat dengan Soekarno, tentang bagaimana negara harus dibangun. Dalam usia semuda itu, beliau sudah berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran filosofis dan membaca jurnal-jurnal internasional, salah satunya adalah jurnal Al-Manar.

Dalam dunia politik, awalnya beliau memang tidak langsung terlibat dalam proklamasi, seperti tokoh politik lainnya. Di Bandung beliau diangkat sebagai biro pendidikan yang diamanahi langsung oleh pemerintah Jepang kala itu. Dari sanalah beliau mengkritisi sistem pendidikan yang ada dan bercita-cita untuk menciptakan sebuah sistem pendidikan yang baru melalui kata-kata beliau, “saya tidak akan mencipkatakn sistem pendidikan seperti pesantren tradisional, karena itu tidak akan menghasilkan generasi yang tahu akan hubungan antara Islam dan negara”.

Sebagai seorang dosen Tafsir, Ustadz Sohirin menyampaikan bahwa beliau sangat terkesan dengan cara M. Natsir menafsirkan beberapa ayat al-qur’an, yang salah satunya adalah sebuah kalimat pada ayat “تعالوا إلى كلمة سواء” dalam surat Ali-Imran yang diakhiri dengan pernyataan “اشهدوا بأنا مسلمون” –saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim-, M. Natsir menafsirkan pernyataan ini dengan sebuah tafsiran bahwa maksud dari pernyataan tersebut adalah “saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim yang sudah punya identitas tolong jangan diganggu gugat identitas kami”, ujar Ustadz Sohirin menjelaskan. “Begitu juga ketika mengupas tentang hujjatul wada’, M. Natsir mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi pada hujjatul wada’ merupakan timbang terima kekuasaan, transformasi kekuasaan, dari Rasulullah shallahu’alaihi wasallam kepada para sahabat radhiyallahu’anhum”, tambah Ustadz.

Masih sangat banyak lagi hal-hal seputar kehidupan M. Natsir yang disampaikan Ustadz Sohirin Muhammad Solihin pada sesi pertama tersebut, tentang keterlibatan M. Natsir dalam perang PRRI, tentang beliau ketika dipenjara pada pemerintahan Orde Baru, tentang raja Faisal yang menjadikan beliau sebagai Polical Advisor pribadi kerajaan dengan gaji USD 5000 dan hanya USD300 yang beliau terima, dan banyak lagi sampai moderator harus berkali-kali mengingatkan Ustadz bahwa waktu untuk sesi pertama telah selesai.

Diskusi semakin menarik, peserta yang berdatangan pun semakin memenuhi ruangan ADM LT 1. Sesi kedua dilanjutkan oleh Dr. Lily Yuliadi dengan tema “Karisma M. Natsir dalam Membentuk Pemuda Islam di Indonesia”. Dr. Lily menyampaikan tentang perjalanan hidup M. Natsir yang dibangun diatas networking yang kuat, beliau bergaul dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda-beda. “Pendidikan formal beliau mungkin terbatas, tapi beliau sangat aktif mengikuti asosiasi-asosiasi seperti Jong Islamic Bond”. Menurut Dr. Lily, networking yang kuat inilah yang membuat M. Natsir dapat mengakses literatur-literatur internasional pada usia yang masih tergolong remaja, “salah satu yang mendewasakan M. Natsir adalah berkawan dengan kawan yang cerdas dan juga lawan yang pintar”, tambah dosen di Universiti Malaya yang juga menyelesaikan pendidikan s3 beliau dikampus yang sama.

“Pengaruh M. Natsir bahkan lebih terasa di Malaysia. Beliau mendidik Dato’ Sri Ahmad Ibrahim yang kemudian mendirikan ABIM – Angkatan Belia Islam Malaysia –, bahkan Anwar Ibrahim pun juga merupakan didikan dari M. Natsir“, jelas Dr. Lily.

Diskusi terus berlanjut hingga jam menunjukkan pukul 12.30am, sesi Q & A pun dimanfaatkan oleh para peserta untuk menggali lebih dalam tentang sosok idola yang seharusnya menjadi panutan pemuda di zaman yang kering akan figur yang loyalitasnya kepada Islam ini sudah terbukti. Salah satu masterpiece yang masih dapat dinikmati pada hari ini adalah “Capita Selecta” kumpulan artikel yang ditulis oleh beliau sendiri diberbagai media massa.

Buku ini mengupas tentang kebudayaan filsafat, pendidikan, agama, ketatanegaraan, persatuan agama dan negara. Beliau merupakan seorang ulama, pejuang kemerdekaan, seorang negarawan. Di dalam negeri, beliau pernah menjabat sebagai Menteri dan Perdana Menteri Indonesia, sedangkan didunia internasional, beliau pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.

Membayangkan dan merasakan lagi karya dan kontribusi yang telah beliau berikan untuk bangsa dan dunia Islam, mengingatkan kita akan sebuah kalimat yang indah, “إن الله إذا أحب عبدا استعمله” – Allah, jika mencintai seorang hamba, maka Ia akan ‘menggunakannya’ (untuk kepentingan agamanya). Semoga Allah menerima amal jariyah beliau, dan memberikan kita kesempatan untuk turut menjaga NKRI. Wallahu’alam. 

Penulis : Qoriatul Hasanah

Prof. Dr. Sohirin Mohammad Solihin dan Dr. Lili Yulyadi Bin Arnakim (28/04/2017) IIUM, “ Islam beribadah itu akan dibiarkan, islam ber...

0 Komentar: