Sharing Session Pra Nikah dan Parenting

April 23, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar


Ustadzah Ummi Fadhila bersama Ustadz Windo berbagi pengalamannya

(21/04/2017) Kuala Lumpur, Divisi An-Nisa Forum Tarbiyah IIUM kembali mengadakan Sharing Session mengenai Pra Nikah dan Parenting yang bertemakan “Be The Best Version of Us: Sebelum Aku dan Kamu Menjadi Kita”, Talk ini terbuka untuk umum, namun peserta yang hadir didominasi oleh kaum perempuan dengan jumlah 70 orang lebih.

Meskipun acara diselenggarakan di pagi hari, ini tidak menurunkan semangat jiwa calon penerus generasi sekaligus calon ayah dan bunda untuk memenuhi ruangan HS LT 1 IIUM.

Sesi pertama mengenai Pra Nikah yang dibawakan oleh sepasang suami-istri Ustadz Windo Putra Wijaya & Ustadzah Ummi Fadhilah Kamaludin yang dimoderatori oleh Putifatma Hanum Melati.

“Menikah itu merupakan disaat seorang laki-laki berakad kepada ayah dari perempuan.” Kata ustadzah Ummi Fadhilah.
Sesi pertama dibuka oleh Ustadzah Ummi Fadhilah, menyampaikan lima poin yang harus disiapkan sebelum menikah.
Poin Pertama, daripada fokus kepada siapa calon kita, ada baiknya kita melihat dan fokus kepada diri kita sendiri. Karena cerminan pasangan kita adalah cerminan diri kita sendiri. Perempuan yang baik akan berpasangan dengan laki laki yang baik dan juga sebaliknya. 

Poin Kedua, Memahami konsep apa tujuan dari menikah, yang pertama untuk menambah pahala ibadah. Yang kedua untuk memperbanyak atau menghadirkan keturunan, lalu yang ketiga adalah sarana tarbiyah, untuk saling memahami. Yang keempat, adalah memperkuat untuk berda’wah. Lalu, untuk mendapat sakinah, sakinah artinya ketenangan.

Poin Ketiga, Persiapan kepribadian. Perempuan itu berbeda dengan laki-laki. Semua persetujuan harus dirembukkan bersama sama. Poin Keempat, Persiapan kesehatan. Mengenai alat alat reproduksi. Poin Kelima, persiapan materi. Berikanlah mahar yang berupa pemberian, berupa bacaan Quran, dan lain lain.

Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh Ustadz Windo yang menyampaikan tentang kriteria pasangan yang baik. Sebelumnya beliau menceritakan pengalamannya ketika tinggal di papua. Seorang Habib pernah berkata kepada beliau “Miskinun, miskinun, miskinun”, padahal saat itu Ustadz sudah berpenghasilan, namun disebut miskin karena belum menikah.
Beliau mengutip surat Ar-Rum ayat 20-21 yang berbunyi:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ(20)
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21)
Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak (20). Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(21)”

Beliau menjelaskan singkat apa makna dari ayat 20-21 surat Ar-Rum ini yaitu Allah setarakan pernikahan dengan penciptaan manusia yang sempurna, dengan langit dan bumi. Ketika laki-laki berakad dengan wali dari calon istri, langit pun bergetar.

Menikahlah dengan obsesi jangan dengan ekspetasi. Sekufu, merupakan kesetaraan, yang mutlak adalah dari segi agama, tambah beliau. Jika sekufu dari perbedaan akademik, harta, status, boleh, tapi bisa jadi akan ada perselisihan. Contohnya seorang tamatan S2 menikah dengan lulusan SMA, jika bertengkar bisa jadi akan ada perselisihan.

Sesi Kedua mengenai Parenting yang dibawakan oleh Rosalina Awaina Risman, yang juga merupakan Alumni IIUM. Dengan gaya bicara beliau yang khas dan selalu mengundang tawa, wanita yang kerap disapa Mbak Wina ini membuka sesi dengan cerita pengalaman beliau dan sebuah nasehat pentingnya belajar parenting.

Selanjutnya ibu dari 3 anak ini memberikan penjelasan langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum menjadi orang tua. Pertama, memilih pasangan yang benar, kita harus tahu bagaimana keinginan dan masa depan calon pasangan kita, agar kita hidup pun memiliki tujuan ataupun goals. 

Kedua, kita pun harus tahu ajaran ajaran dasar cara menjadi orangtua, karena calon ayah-ibu yang well-prepared lebih baik daripada yang tidak memiliki ilmu apa apa. Selama pengajaran, anak akan masuk ke alam bawah sadar, contoh nya kalau ayahnya pencubit, anaknya juga akan pencubit. 

Ketiga, rencanakan semua dengan baik, karena menikah itu bukan hanya untuk memuaskan nafsu semata, agar bisa melahirkan seorang anak, namun juga memikirkan mau jadi apa anak tersebut. Dan juga memikirkannya dari banyak segi yaitu jangka pendek, jangka panjang, lalu apa saja konsekuensi yang akan dihadapi. Keempat, harus diketahui bersama bahwa ibarat sebuah sekolah, ayah merupakan sebuah kepala sekolah yang harus tahu dan membawa anak-anaknya ke tempat yang baik, sedangkan tugas ibu adalah sebagai pelaksana dari kepemimpinan seorang ayah. 

Karena menjadi ayah memang lelah, tapi akankah lebih indah jika seorang suami mendengarkan istri bercerita mengenai hari-harinya setelah ia pulang bekerja. Lalu hal penting yang perlu diketahui adalah fondasi untuk membentuk anak yang kuat adalah saat sang anak menginjak usia 8 tahun. Disinilah peran orang tua sangat diperlukan, untuk membentuk fondasi yang kuat bagi sang anak.



Ustadzah Ummi Fadhila bersama Ustadz Windo berbagi pengalamannya (21/04/2017) Kuala Lumpur, Divisi An-Nisa Forum Tarbiyah IIUM kemba...

0 Komentar: