Relasi Agama dan Negara di Indonesia. Perspektif Historis

April 07, 2017 Forum Tarbiyah 2 Komentar


Ust. Mukhamad Shokheh di IIUM. Kuala Lumpur, 5 April 2017


Kajian bulanan Fotar kali ini (5/4/2017) mengenai "Relasi Agama dan Negara di Indonesia, dalam Perpektif Historis", yang dibawakan oleh Ust. Mukhamad Shokheh seorang dosen di Univ. Semarang dan sekarang Ph.D Candidate in Islamic Civilization di UTM.

Ust. Mukhamad Shokheh membuka materi dengan sebuah nasehat “Pada hakikatnya, mencari ilmu butuh perjuangan karena ilmu tidak mudah untuk didapat. Ilmu tidak menghampiri kita, melainkan kita yang harus menjemputnya. Mencari ilmu itu seperti mencari air di padang pasir. Kita mencari ilmu bukan hanya untuk kepentingan duniawi akan tetapi juga untuk akhirat".

Selanjutnya beliau menjelaskan secara singkat bagaimana sejarah negara Indonesia terdahulu, masalah apa yang dihadapi bangsa Indonesia di masa lalu, beliau menjabarkannya dengan beberapa poin, yaitu pertama, dalam memahami nilai sejarah bangsa, ada generation gap antara generasi A yakni kakek dan nenek kita dengan generasi masa kini. Terdapat cara berpandang yang berbeda terhadap peristiwa yang sama. Contohnya seperti PKI (partai komunis Indonesia). Kita seperti tidak hidup dalam bangsa lingkungan kita sendiri. Kedua, Bangsa kita tidak siap untuk mengalami setiap kejutan yang dibawa oleh tantangan zaman. Kita masih sering mengambil sisi negatif daripada sisi positifnya dalam suatu hal. Seharusnya kita memunculkan dan menghayati sejarah, memahami dinamika yang ada di dalamnya dan mampu mengambil inspirasi dari hal tersebut untuk masa depan.

Beliau juga menyebutkan dua kondisi yang harus dimiliki suatu bangsa dalam membangun kesadaran sejarah. Yang pertama adalah menjernihkan sejarah (demitologi sejarah). Melabelkan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan sejatinya ialah menciptakan mitos. Yang kedua, pewarisan sejarah (dialog antar generasi), membangun kepercayaan mutual understanding, mutual trust sehingga kita mendapat mutual benefits.

Salah satu hal yang sangat ditekankan dalam materi yang disampaikan oleh Ust. Mukhamad ini adalah peranan Islam dalam membangun negara Indonesia. Tanpa islam, kemerdekaan itu ibarat orang yang loyo dalam meraih apa yang ingin didapatkan, sehingga butuh waktu yang lama untuk mencapai goal tersebut. Pasca kemerdekaan, peran Islam memang diakui tetapi tidak diberikan ruang untuk berkembang. Padahal, dulu posisi umat Islam relatif lebih banyak dibanding nasionalis dan komunis. Pada masa orde baru, dilihat dari presentase nya,kekuatan Islam mulai merosot. Contohnya pada era kepemimpinan Soeharto, tidak ada sekalipun dimana Partai Islam menang dalam pemilu.

Ada beberapa hal yang beliau jabarkan pada kajian ini yaitu mengenai "Teori paradigma hubungan antara agama dan negara" :

1. Paradigma Integralistik, agama dan negara punya kaitan, akan tetapi agama jangan mendominasi.
2. Paradigma Simbiotik, agama lebih banyak masuk ke wilayah negara seperti Malaysia.
3. Paradigma Sekularistik, banyaknya konstitusi negara diisi oleh hukum negara.

Serta model kepolitikan orde baru serta relasi Islam dan negara pada:

1. Era konfrontasi, negara tidak ingin bergabung dengan agama
2. Resiprokal kritis, agama dan negara saling mengkritik satu sama lain, agama dan pemerintah juga tidak bersih.
3. Akomodatif, negara mulai belajar kesalahan dari masa-masa sebelumnya, sehingga negara merangkul agama. Hal ini akan tidak disukai oleh bangsa Barat, terdapat pihak-pihak yang tidak suka melihat negara dan agama bersatu.

Ust. Mukhamad menutup materi dengan sebuah kalimat dan nasehat
”Kita belum banyak belajar dari sejarah, mari bangun sejarah yang manusiawi, menghargai keragaman dan demokratis. Isu dalam negara ialah sangat sensitif”

Pembicaraan mengenai agama dan negara ini tidak berhenti sampai disitu saja, Ust. Mukhamad mengundang seorang teman nya yang bernama Sakhoy, beliau juga merupakan Alumni UIA yang lulus pada tahun 1999 di bidang Political Science dan berasal dari Gambia untuk berbagi pendapat dan ilmu nya mengenai isu ini, beliau memaparkan dengan Bahasa Inggris, “The religion and nations have been an issue since very a long time. Islamic parties never succeeded, and secular parties always rule the states. Gambia is a Muslim country where 90% of 2 million is Muslims. President declares that Gambia is an Islamic state. However, in constitution, it is secular. Even the parliament endorses it. The government does not allocate the budget to Islamic education (building Islamic universities or Islamic schools) they are funded by private sector. It is the obligation for government to meet the needs of Muslim by providing Islamic school.”



Ust. Mukhamad Shokheh di IIUM. Kuala Lumpur, 5 April 2017 Kajian bulanan Fotar kali ini (5/4/2017) mengenai "Relasi Agama dan Neg...

2 komentar:

  1. Subhanallah.....sangat bermanfaat utk diambil ilmunya. Mantap pak..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. MashaAllah, semoga ilmu yang didapat bermanfaat :)


      salam hangat forum tarbiyah iium

      Hapus