Diary Sakit Hati

April 07, 2017 Forum Tarbiyah 6 Komentar

Gambar : intisari.grid.id

Dear diary...

Ini adalah cerita tentang seseorang yang terluntang-lantung namun tetap istiqomah dalam membanggakan diri. Tentang seseorang yang angkuh karena nenek moyangnya pernah dijadikan arah untuk bersujud oleh malaikat-malaikat dan iblis. Ini adalah curahan seorang faqir yang terbiasa mengahambur-hamburkan. Tentang saya dan beberapa keraguan.

Saya yang sedang berdiri di perempatan jalan, kebingungan berusaha menerka-nerka kearah mana saya seharusnya menyetir. Sebab hampir semua hal yang saya dekap selama ini ternyata tidak sepenuhnya sesuai dan tentram.

Salah satu idola saya yg lumayan saya elu-elukan adalah seorang pemimpin di negara muslim yg setahun sekali menjadi putih tertutup oleh salju. Orang yang saya hormati karna keberaniannya dalam mengambil keputusan, ternyata belakangan ini malah sedang dihujat gencar-gencarnya oleh orang-orang dari salah satu benua itu. Diktator katanya.

Negara yang saya tinggali, kota kelahiran saya yang selalu saya banggakan ke orang-orang akan keramaiannya, telah menjadi semakin ramai, ramai sekali malah. Bukan karna menarik, tapi karena ada orang minoritas yang saya dengar bertingkah “songong” disana.

Hidup yang saya jalani pun terasa mudah sekali, banyak pundi-pundi kebahagiaan, padahal saya bukan termasuk seorang yang dekat dengan ibadah, malah istiqomah dalam bermaksiat. Saya khawatir apa ini yang namanya istidraj?. Istidraj itu adalah kesenangan dan nikmat yang Allah berikan kepada orang yang jauh dari-Nya yang sebenarnya itu menjadi azab baginya apakah dia bertobat atau semakin jauh. Saya jadi takut.

Mungkin sudah waktunya untuk menerapkan kalimat yang biasanya hanya saya ucapkan ketika mendengar ada orang yg meninggal.

 إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْه رَاجِعُوْنَ

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali”

Sudah seharusnya saya kembali ke Allah, kembali tapi bukan meninggal ya. Kembali dalam konteks keimanan.

Jadi teringat. Suatu hari saya pernah pergi dengan keponakan saya ke salah satu pasar swalayan yang kebetulan memang banyak mainan-mainannya, dia kepingin. Saya belilah tokennya dan menggendong dia untuk naik. Ketika naik dia pun senyam-senyum tertawa cengengesan begitu, beraksi seperti naik mobil betulan, putar-putar stir sambil menirukan suara knalpotnya. Bahagia sekali. Padahal mainan itu gerakannya statis, hanya maju mundur maju mundur saja.

Sebagai orang yg sudah lebih dewasa tentu saya paham kalau mobil itu cuma bohong-bohongan saja, tapi saya sengaja tidak memberi tahu karna saya yakin saat dewasa nanti dia akan sadar sendiri kalau mobil-mobilan itu pun hanya bohongan saja.

Setelah saya tadabburi kembali skenario tersebut, saya terpikir akan suatu hipotesis. Bahwasanya kebahagiaan yang saya rasakan di dunia ini adalah kebahagiaan mobil-mobilan, dimana orang-orang yang maqamnya sudah berada jauh di atas saya sudah sadar akan hal itu, namun tetap mendiamkan saya. Bukan karna mereka tidak ingin meluruskan, namun beliau-beliau ini percaya bahwa nanti kalau sudah di tingkatan yg lebih tinggi, saya akan sadar kalau ini semua cuma bahagia bohong-bohongan. Yang jadi kekhawatiran saya adalah bagaimana kalau ternyata sebelum sampai pada tahap itu, nomor antrian saya sudah keburu dipanggil, dan saya harus berpulang lebih awal. Yah semoga saja tidak seperti itu.

Takut akan hal tersebut. Saya terfikir untuk mencari jalan yang lebih cepat. Caranya adalah dengan lebih sering bercermin mungkin, karna kuantitas bercermin kita berpengaruh, semakin jarang bercermin semakin terancam harga diri. Kalau ada noda di wajah, saya tidak akan bisa tahu kalau bukan dengan bercermin. Makanya harus sering ngaca. Tapi ya nanti saya bakal malu kalau setiap hari harus menenteng cermin kemana-mana dan menggunakannya di setiap tempat. Mungkin salah satu alternatifnya adalah berjalan dengan seorang teman, jadi dia bisa memberi tahu kalau ada noda di muka ini. 

Hal tersebut hampir sebangun dengan tingkat keimanan kita, bertadabbur adalah cermin hati. Namun lagi-lagi dengan segala kesibukan membuntuti canda tawa ini, bertadabbur jadi sulit, ga ada waktu. Yang ini alternatifnya juga sama, yaitu berjalan dengan seorang sahabat yang rajin mengingatkan dan menegur kalau iman saya sudah mulai kendor. Yang menularkan kebaikan.

Lalu kalau saya tidak punya sahabat, bagaimana cara untuk menemukannya? Betul memang Allah sudah mengatur dan menentukan segala halnya. Namun badan ini disutradarai oleh jiwa, dikendarai oleh kehendak-kehendak psikologis. Jadi saya juga diberikan hak penuh untuk menentukan akan berjumpa dengan siapa dan tidak bertemu dengan siapa. Perjumpaan dalam arti yang lebih permanen ya, perjumpaan dengan sahabat.

Karena lingkungan itu penting, dengan siapa kita duduk itu berpengaruh. Bahkan para psikolog behaviorisme percaya bahwa sebenarnya manusia itu tidak memiliki karakter bawaan, semua yg kita sebut sebagai karakter ini tidak lain adalah hasil dari proses pengamatan perilaku akan orang lain dan mengadopsinya. Mudahnya, kita ini adalah produk dari lingkungan kita. Seperti itu.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka”[Al An’am (6):116]”

Semoga Allah memudahkan jalan orang yang penyakitan ini, penyakit Sombong, Hasud & Riya yang sudah kronis. semoga setiap kesedihan dan kegelisahan yang dirasakan, setiap orang yang ditemui dan setiap hati yang tertarik ulur, dijadikan jalan untuk kembali. Allahumma Aamin

Istanbul, 19 Januari 2017.

Penulis : Muhammad Rizki Baihaqi

Gambar : intisari.grid.id Dear diary... Ini adalah cerita tentang seseorang yang terluntang-lantung namun tetap istiqomah dalam mem...

6 komentar:

  1. Mantap jiwa. Salam hangat untuk penulisnya. ��

    BalasHapus
  2. Penasaran Ane sama yg pergi ke Turki bulan Januari. Hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Atas saya ini Kieren Akbar, ketua Fotar.

      Hapus
  3. pake nama asli dong non wkwk

    BalasHapus