Ketika Rasulullah Dibully

Maret 03, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Gambar : pinterest.com
Sungguh lembaran sejarah telah banyak bercerita betapa agungnya Muhammad Rasulullah SAW. Pantas jika Michael H. Hart, astrofisikawan Amerika Serikat,  pun tidak sanggup menyembunyikan kekagumannya pada Nabi Muhammad. Ia menulis nama Rasulullah di urutan pertama dalam bukunya, The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History.

Kembali mengingat betapa kerasnya perjalanan dakwah Rasul, beliau tidak hanya di hujat, dicaci, diboikot, bahkan juga diancam bunuh. Tentu kita pun masih ingat bagaimana sambutan luar biasa orang-orang Thaif ketika beliau mengenalkan Islam, tidak hanya cacian tapi juga lemparan batu. Lalu apa yang dilakukan Rasulullah? Apakah membalas melemparinya dengan batu? Tidak. Bahkan ketika malaikat Jibril pun datang untuk menawarkan adzab apa yang beliau harapkan untuk orang-orang Bani Tsaqif ini, Rasul pun hanya membalasnya dengan do’a sebagaimana telah dirawayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Aisyah R.A berkata: “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?“ Jawab Rasulullah, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah dimana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku angkat kepalaku, aku pandang dan tiba-tiba Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.“ Rasulullah melanjutkan, kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.“ Jawab Rasulullah, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“ (HR. Bukhari Muslim).

Mari kembali mengingat bagaimana saat Rasul diludahi tiap kali keluar rumah oleh seorang Yahudi dan ini berlangsung setiap hari. Ya, setiap hari! Lalu apa reaksi Nabi Muhammad? Lagi-lagi beliau hanya tersenyum kepada orang yang meludahinya, membersihkan ludah yang menempel di badan atau bajunya, kemudian pergi meninggalkan yahudi itu.

Sampai suatu pagi ketika Nabi Muhammad SAW lewat di depan rumah si Yahudi, beliau heran karena tidak ada lagi ludah terbang. Satu hari, dua hari, sampai di hari ketiga tetap tidak ada ludah darinya. Rasulullah pun bertanya kepada para sahabat pergi kemana si Yahudi ini, dan beliau mendapat laporan bahwa ternyata dia sedang sakit. Reaksi spontan beliau saat mendengar Yahudi ini sakit adalah langsung mendatangi ke rumahnya. Sesampainya, apakah rasul menertawakannya atau balas dengan meludahinya? Tidak, beliau malah orang  pertama yang menjenguk dan mendo’akan kesembuhan yahudi ini.

Kisah lain yaitu tentang kisah beliau yang paling luar biasa bersama pengemis yahudi buta, di sudut pasar Madinah Al-Munawarah terdapat seorang pengemis Yahudi buta yang hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah S.A.W. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah S.A.W melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad S.A.W wafat.

SubhanAllah, ini lah kesabaran dan kebijaksanaan yang Rasul ajarkan kepada ummatnya, sungguh beliau adalah teladan terbaik, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:21). 

Sangat disayangkan jika pelajaran-pelajaran berharga dari beliau hanya sekedar menjadi penghias buku dongeng anak sebelum tidur, atau hanya menjadi pemanis bibir ketika berkhutbah. Bukankah selama ini kita dengan sangat bangga mengatakan “Bahwa kami adalah ummat Muhammad”?

Ada kalanya memang dikondisi tertentu “perasaan” menjadi “raja”, dan mungkin inilah hikmah kenapa Allah mengajarkan hambaNya untuk selalu berperasangka baik, tidak setiap sesuatu yang menyakitkan itu datangnya karena sifat dengki, tidak setiap cacian, hujatan itu hadir karena kebencian. Bahkan orang tua kita pun dalam menyampaikan nasihat tidak selalu dengan senyuman dan pelukan, terkadang ada sebagian orang tua menyampaikan sayangnya dengan sindiran atau tak jarang dengan cubitan. Hanya bentuk penyampaiannya saja yang berbeda, maksudnya tetap sama untuk meluapkan rasa “CINTA” kepada anak-anaknya.

Jika pada akhirnya pun terbukti setiap hujatan yang mengalir itu karena kebencian, kita semua pun tau jika “mengalah bukan berarti kalah, namun mengalah untuk merangkul dan selanjutnya untuk menang”. Dengan mengutip tulisan dari Muhammad Assad "Notes From Qatar" : "You may lose the battle but you win the war". Kewajiban kita hanya berbuat baik sebanyak dan sebisa yang kita lakukan, dalam kondisi seburuk apapun dan bersama siapapun. Sebagaimana dalam QS. An-Nahl : 90 Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berlaku baik.”

Sampai kapanpun kita harus menyadari bahwa kita manusia, hidup bersama manusia dan harus dimanusiakan karena “We are a human not an angel”. Kita adalah manusia biasa bukan malaikat dan sifat dasar manusia ialah pelupa dan salah. Dan sejatinya kita dituntut untuk terus belajar mengenal, mengerti, dan memahami makna “CINTA”. Semoga bermanfaat. WALLAHU A’LAM.


Penulis : Azkiya

Gambar : pinterest.com Sungguh lembaran sejarah telah banyak bercerita betapa agungnya Muhammad Rasulullah SAW. Pantas jika Michael H. ...

0 Komentar: