Ingat Mati

Februari 10, 2017 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Gambar : satubahasa.com
Pernahkah kamu merasakan bahwa ajalmu hampir datang? Atau mungkin di suatu saat kamu menerka-nerka bahwa di sekitarmu terdapat malaikat Izrail yang siap mencabut nyawamu? Tidak ada satupun manusia yang mengetahui ujung hayatnya. Tidak ada satupun manusia yang dapat meramal kematian dirinya, temannya ataupun keluarganya. Nasib seseorang sudah terdapat pada lauhul mahfuz yang merupakan catatan hidup manusia mulai dari lahir sampai mati.

Cerita ini merupakan sebuah throwback dari seorang gadis kecil yang sedang menikmati sisa liburannya ke Singapura, sebut saja Lin Li. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun lepas ini termasuk salah satu yang masih bisa diingat jelas olehnya, masih jernih terekam dalam memori otak layaknya kejadian yang baru dialami 3 hari yang lalu. Peristiwa tersebut bukanlah moment yang cukup indah untuk di-rewind oleh seorang gadis kecil, bukan momen bahagia ketika jalan-jalan, bukan shopping ataupun mencicipi kuliner khas negara Merlion, melainkan moment ketika ia masih diantara awan-awan yakni di dalam pesawat terbang.

Penerbangan dari Jakarta menuju Singapura hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Akan tetapi, qadarullah pada saat itu ia terpaksa harus ‘menikmati’ perjalanan di udara lebih dari 2 jam. Kata orang, naik pesawat bukanlah hal yang menakutkan dan sulit, kamu check-in, melewati imigrasi, tunggu di waiting room, masuk pesawat, duduk dengan tenang lalu beberapa jam kemudian kamu sampai di destinasi yang kamu inginkan. Jangan takut, karena dengan canggihnya teknologi dan keahlian sang pilot, kamu akan selamat. Mereka petugas kabin akan melayani kebutuhanmu dengan sepenuh hati dan juga memastikan keamanan dan kenyamanan penumpang. Tapi, benarkah keselamatanmu akan terjamin?

Lin Li duduk diantara ketiga saudaranya. Ia menatap kaca jendela yang kini berlatar awan putih bertebaran dalam jumlah kecil bagaikan kumpulan kapas tipis yang lembut. Ketika dewasa Lin Li tahu bahwa awan tersebut mempunyai nama yaitu Alto-kumulus. Dalam benaknya ia sudah tidak sabar lagi menapakkan kakinya di negara asing untuk pertama kalinya tanpa orang tua. 

Bintik-bintik air mulai terlihat di kaca jendela sebelahnya. Cuaca hari itu memang sedang tidak bersahabat sejak ia berangkat ke bandara tadi pagi “Oh, hujan…” kelopak mata Lin Li mulai terasa berat, ia pun mulai memejamkan matanya. Selang beberapa lama kemudian, masih setengah sadar ia mendengar announcement dari awak kabin tentang cuaca diluar yang semakin memburuk ditambah hujan yang sepertinya bukan hanya rintik-rintik lagi. Sudah hampir 2 jam tetapi pesawat belum landing. Seharusnya ia sudah sampai di Changi Airport dan dapat menghirup udara kota Singapura.

Cahaya matahari mulai meredup, langit berangsur-angsur menjadi kelabu. Bentuk awan pun menjadi tidak menentu dan berubah warna putih kegelapan. Seketika Lin Li merasakan pesawat yang ditumpangi mulai sedikit goyang, penumpang lainnya juga mulai terlihat resah. Yang sebelumnya di dalam pesawat itu hening dan hanya ada beberapa suara anak kecil, sekarang terdengar percakapan yang menandakan “kecemasan” mereka. 

Berkali-kali awak kabin berusaha untuk menenangkan penumpang yang tampaknya sudah mulai tidak bisa tenang. Bagaimana tidak, goncangan pesawat itu datang lagi lebih keras membuat salah satu penumpang berteriak terperanjat dan terdengar pula tangisan anak bayi. Entah tangisan haus, lapar atau mungkin kaget. Rasa sedikit takut mulai menyergapi Lin Li, ia menarik jaketnya dan berusaha tenang. Ia melihat ke arah penumpang lainnya. Ada seorang ibu memeluk anaknya erat-erat yang duduk di sebelahnya, ada kakek tua yang tengah berdoa kepada Tuhannya dan ada pula anak muda yang masih tertidur sambil menggunakan headset.

Lin Li merasakan sesuatu yang menggengam pergelangan tangannya dengan kuat hingga memerah. Ia mendongak melihat seorang yang dikenal memejamkan matanya dan mulutnya berkomat-kamit melafalkan Astaghfirullah, Allahu akbar, laa ilaha illallah. Sebenarnya ia ingin berbisik “Teh, tanganku sakit…” tapi rasanya ini bukan saat yang tepat, semua penumpang memang sedang ketakutan karena goncangan pesawat itu tidak berhenti bahkan bertambah kuat. Berat pesawat seakan-akan menjadi seperti kapas yang mudah diterpa angin. 

“Inikah yang dinamakan turbulence?” Lin Li sudah pernah mengalami turbulence sebelumnya tetapi tidak sehebat ini. Lalu terbesit dalam pikiran Lin Li hal-hal yang menyeramkan seperti… akankah pesawat ini jatuh? Ya, penumpang bakal kehilangan nyawanya termasuk dirinya. Kemungkinan nyawa mereka masih selamat sangatlah kecil jika pesawat tersebut benar-benar jatuh dari ketinggian entah berapa kaki saat itu. Pilot dan awak kabin pun tidak bisa menyelamatkan semua nyawa penumpangnya.

Beberapa saat kemudian, kembali pesawat tersebut bergoyang tidak beraturan dan tidak berhenti. Suara gemuruh terdengar bercampur dengan suara penumpang yang mulai bising. Situasi di dalam pesawat semakin genting dan hati kecil Lin Li pun semakin gelisah. 

Seribu pertanyaan pun muncul di kepalanya. Jadi, inikah detik-detik ajalku? Inikah saatnya malaikat maut mencabut nyawaku? Inikah saatnya aku menghadap kepadaNya? Apa yang terjadi setelah ini? Nanti aku pergi kemana? Sama siapa? Apa yang akan aku laporkan nanti padaNya? Aku masih muda. Masih ingin berbuat hal-hal besar. Masih ingin membalas budi orang tua. 

Bayangan wajah kedua orang tuanya menghampiri Lin Li, ia tidak sempat meminta maaf sebelum pergi tadi. Lalu ia ingat Allah. Sungguh ia merasa dirinya sangat lemah. Tidak ada kata lain kecuali beristighfar dan memohon pertolongan kepadaNya. Jika memang sudah ditakdirkan maut menjemputnya sekarang, ikhlaskan hati ini ya Allah, gumamnya. Lin Li pasrah, ia gantungkan segalanya kepada Allah. Laa hawla wa laa quwata illa billah..

Setelah sekian lamanya turbulence, kondisi pesawat mulai kembali sedikit tenang, goyangan sudah tidak terasa lagi sampai akhirnya tiba di Singapura. Hal yang sedikit lucu ialah ketika melihat penumpang berbondong-bondong antri menunggu giliran ke toilet kecil di pesawat setelah kejadian tersebut. 

Lin Li menghela nafas, Allah masih melindungi mereka. Mungkin kejadian barusan hanyalah sebuah ujian kecil. Bisa juga diartikan sebagai peringatan bahwa sesungguhnya kematian selalu mengintai kita. Apakah kita sudah siap menghadapi maut? Mudah saja bagi pemilik semesta ini untuk mencabut nyawa makhlukNya. 

Sadarlah, bahwa ajal tidak mengenal tua atau muda. Ajal tidak mengenal apakah seseorang dalam keadaan yang terbaik dalam iman dan islamnya atau malah sebaliknya (naudzubillah). Ajal tidak mengenal tempat, waktu dan kondisi seseorang. Maka berbuat baiklah selalu (fastabiqul khairat) dan jangan sekali-kali berpikir untuk mencoba hal-hal yang diharamkan hanya karena “belum datang kiamat”. 

Ayah Lin Li selalu berkata: “Orang yang cerdas itu ialah yang selalu ingat pada kematian”. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang khusnul khotimah, mengakhiri hidup ini dibawah naungan Islam dan hati yang selalu berdizikir mengingatNya.

Penulis : Farnaz Unsil Habieb

Gambar : satubahasa.com Pernahkah kamu merasakan bahwa ajalmu hampir datang? Atau mungkin di suatu saat kamu menerka-nerka bahwa di sek...

0 Komentar: