Jangan Taqlid Buta

Desember 23, 2016 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Gambar: errorstatistics.com
Namanya Amru bin Amir al-Khuza’i, perjalanannya ke wilayah Syam lebih dari 14 abad silam, ternyata merubah banyak hal di Jazirah Arab kemudian hari.

Di Syam, Amru melihat suatu kaum yang menyembah batu dan kayu, ia sangat tertarik melihat ritual itu, sehingga ia membawa beberapa sesembahan ke Mekkah dan mulai mengajak masyarakat disekitarnya untuk melakukan hal yang sama sebagaimana ia temukan di Syam. Sejak sesembahan yang terbuat dari kayu dan batu itu dibawa masuk ke Mekkah, pengikutnya semakin bertambah banyak, bahkan lambat laun akhirnya menjadi keyakinan yang diresmikan secara konvensional, lalu setiap penyimpangan dari pemberhalaan dianggap sebagai pelanggaran yang menimbulkan aib.

Dikala itu, 360 buah patung di-ilah-kan, yang terbesar diberi nama Hubal, terbuat dari batu akik merah berbentuk manusia dan diletakkan dalam ka’bah. Dibagian samping ka’bah adalagi Isaaf dan Nailah, didekat bukit Arafah ada Uzza, dibawah kota Mekkah ada Khalsah, semua patung-patung itu menjadi ilah, tuhan-tuhan yang diberikan loyalitas. 

Mereka pada zaman itu bukanlah masyarakat yang bodoh dan terbelakang secara pengetahuan. Di bidang ekonomi misalnya, Abul Hasan Ali An-Nadwi menyebutkan bahwa mata uang mereka (dinar dan dirham) menjadi ukuran dan timbangan yang berlaku di dunia perdagangan. Di bidang industri, mereka biasa memanfaatkan tenaga asing dari Romawi dan Persia.

Di bidang militer, bangsa Quraisy merupakan kekuatan yang diperhitungkan diseluruh jazirah Arab, bahkan mereka memiliki tentara dari berbagai kabilah disekitar Mekah; kabilah Kinanah, Huzaimah dan Khuza’ah. Dalam urusan manajemen, mereka pun sudah sangat rapi, misalnya bani Hasyim bertugas siqayah (memberi minum jema’ah haji), bani Umayyah bertugas membawa bendera perang (liwa’), bani Mazhum, diantaranya ada Khalid bin  Walid, bertugas mengurusi masalah perlengkapan perang.   

Mereka pada zaman itu bukanlah masyarakat yang bodoh dan terbelakang secara pengetahuan. Mereka telah maju menurut ukuran yang lazim pada zaman itu, namun mengapa mereka dianggap sebagai jahiliyah?. 

Mereka jahiliyah karena mereka meninggalkan Allah!. Mereka berpaling dari tuntunan tauhid dan lari kepada berhala. Mereka dengan sukarela menghambakan diri kepada hasil produk manusia. Mereka membuat patung, lalu disembahnya, jika sudah bosan patung tersebut akan dibuang dan dibuat yang baru. Tuhan bagi mereka hanyalah masalah selera.

Bahkan Abu Raja’i Al-Utharidi berkata, “kami dulu menyembah batu, jika kami dapati ada batu lain yang lebih baik, batu sesembahan sebelumnya kami buang. Jika kami tidak dapatkan batu, kami kumpulkan segunduk pasir, lalu kami datangkan kambing, kami perah kambing itu diatasnya, dan kami thawaf disekelilingnya.” (HR. Bukhari)

Bisa jadi Amru bin Amir al-Khuza’i itu juga ada dizaman sekarang. Seseorang yang melawat keluar negri, lalu terperangah dengan kebudayaan yang ada dinegara itu dan membawa budaya-budaya asing itu kenegaranya tanpa filtrasi sama sekali. Budaya berpakaian wanitanya, budaya pergaulan bebasnya, budaya menginjak-injak agamanya. Lalu lambat laun kita merasa ‘budaya’ yang Allah ajarkan dalam kitab-Nya melalui utusan-Nya menjadi tabu dan aneh.

Bisa jadi Amru bin Amir al-Khuza’i itu juga ada dizaman sekarang. Seseorang yang belajar diluar negri, lalu terperangah dengan konsep dan sistem yang diajarkan dinegara itu dan mem-praktekkan ilmu-ilmu itu tanpa filtrasi sama sekali. Konsep kapitalisme-nya, komunisme-nya, teori-teori Marxis-nya, Karl Marx, Che Guevara, Hegel atau Nietsche-nya. Lalu lambat laun kita merasa sistem yang Allah ajarkan dalam kitab-Nya melalui utusan-Nya menjadi tidak keren, tidak ilmiah, tidak cocok untuk diamalkan.   

Cakrawala pemikiran masyarakat beriman harus luas membentang. Dengan ufuk-ufuk yang tak terbatas pada kehidupan dunia saja, tetapi juga mampu menatap dengan sangat jelas kehidupan yang akan dilalui setelah kematian, yang dengan keimanannya itu dapat menjadi filter dan rel baginya dalam menempuh perjalanan panjang kehidupan didunia.

Disaat dunia tengah hiruk pikuk berlomba menampilkan busana wanita terbaru; dengan iman, wanita muslimah masih akan tetap mampu melihat dengan jernih batasan-batasan inovasi yang fleksibel dan prinsip-prinsip syar’i yang tidak ada basa-basi. Disaat media dari berbagai arah berpacu mempertontonkan gaya bergaul kekinian, dengan iman, para pemuda Islam masih akan tetap mampu melihat dengan jernih apa yang boleh dan tidak boleh ia dekati. 

Dengan iman yang selalu terbarui, dengan teman-teman yang senantiasa menasehati, dengan ilmu yang akan terus kita pelajari, semoga Allah melindungi kita dari menjadi seperti Amru-Amru abad 21. Amin.  

Penulis : Qoriatul Hasanah

Gambar: errorstatistics.com Namanya Amru bin Amir al-Khuza’i, perjalanannya ke wilayah Syam lebih dari 14 abad silam, ternyata merubah ...

0 Komentar: