Aksi 411 dan Wajah Islam di Indonesia ke Depan

November 16, 2016 Forum Tarbiyah 2 Komentar

Arya Sandhiyudha menyampaikan paparannya
Jumat tanggal 11 November 2016, Forum Tarbiyah (FOTAR) dan Persatuan Pelajar Indonesia IIUM berkolaborasi dalam program yang bertajuk “Aksi 411 dan Wajah Islam di Indonesia ke Depan”. Hadir sebagai pembicara adalah Arya Sandhiyudha, pengamat politik internasional yang juga direktur eksekutif Madani Center for Development.

Acara ini dimulai pada pukul 20.55 waktu setempat oleh saudara Ridho Ardiansyah selaku pembawa acara. Pemberian kata sambutan diberikan oleh saudara M. Rajiev Syarif Al-Jaflani selaku ketua I PPI IIUM. Mahasiswa master di political science IIUM ini juga memberikan sedikit penjelasan dan pandangannya mengenai aksi-reaksi dari peristiwa 4 November lalu. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan sambutan dari saudara Kieren Akbar selaku Ketua Fotar.

Sebagai pembuka sesi penyampaian materi, ketua Fotar sebelumnya saudara Amjad Dhiyaulhaq selaku moderator, memberikan sedikit penjelasan tentang teori vulnerablity. Pada kesempatan ini, beliau memaparkan bahwa semakin banyak sumber daya yang dimiliki oleh suatu negara, atau semakin strategis letak geografinya, maka semakin tinggi pula kemungkinan negara itu dapat diinvasi maupun diintervensi oleh pihak-pihak asing. Ia menambahkan,  untuk dapat menguasai sebuah negara, pihak manapun harus menguasai kelompok mayoritas di negara tersebut. Indonesia sebagai sebuah negara dengan umat islam terbanyak di dunia, sudah sewajarnya apabila ada pihak-pihak yang ingin mencoba mengontrol dan memecah belah untuk dapat menguasai sumberdaya yang ada. Ia menyebutkan, peristiwa 411 lalu merupakan salah satu upayanya. Namun dengan kebesaran Allah, peristiwa ini justru mempererat dan menyadarkan banyak umat islam tentang urgensi dan keindahan islam.

Memasuki ke acara utama, panelis Arya Sandhiyudha membenarkan apa yang dikatakan moderator sebelumnya. Pada sesi ini, ia mengajak kepada para hadirin untuk lebih fokus membenahi diri dan mengambil pelajaran dari aksi 411 ketimbang hanya membahas permasalahannya saja. Ia mengutip Ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Q. S. Ar Ra'd. 11)

Maka dari itu, sebelum seseorang berpikir untuk dapat memberikan perubahan dalam skala besar, ia harus terlebih dahulu mengubah dirinya sendiri. Menurutnya, tidak sedikit dari generasi muda yang masih memiliki masalah tentang perasaan dan pola pikir. Sebaliknya, untuk memiliki tindakan yang berfaedah, perlu diawali dengan perasaaan yang terarah dan pikiran yang tercerah. Ia menambahkan, tidak sedikit dari generasi muda yang juga masih memiiki kekhawatiran terhadap apa yang sudah terjadi di masa lalu. Padahal untuk dapat siap menghadapi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, seseorang haruslah terbebas dari segala kekhawatiran di masa lalu yang membelenggu dirinya. Namun baginya, siap menghadapi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang bukan berarti berpikir terlalu futuristik. Seseorang cukup fokus hal mendetail dalam jangka pendek, karena biasanya berpikir terlalu futuristic justru membuat seseorang tidak optimal dalam mempersiapkan apa yang dapat dilakukan sekarang. Pada akhirnya, hal ini membuatnya tidak mendapat pencapaian yang optimal di masa sekarang, juga di masa yang akan datang.

Beliau menyebutkan, dalam membenahi dan mempersiapkan diri memang seseorang tidak perlu terlalu futuristic. Namun dalam skala yang lebih besar, berbagai perencanaan dan persiapan yang futuristik sangat dibutuhkan sebagai bentuk mempersiapkan generasi yang tangguh di masa yang akan datang. Baginya, salah satu hal yang patut menjadi perhatian bangsa Indonesia saat ini adalah memprediksi kelangkaan dan kompetisi global, yang pada umumnya merupakan cadangan energi, pangan, dan air sebagaimana yang pernah disebutkan panglima TNI, Gatot Nurmantyo  pada 8 November silam.

Perlu diketahui bahwa, sebuah negara yang memiliki keterbatasan atau bahkan tidak memiliki cadangan pangan akan memiliki pandangan untuk menguasai, baik melakukan penjajahan maupun kerjasama sepihak yang menguntungkan negaranya. Pada saat ini, masih banyak negara-negara di dunia yang memanfaatkan energi fosil. Namun di masa yang akan datang, ketika energi fosil habis, maka seluruh dunia akan mengejar energi terbarukan yang berada di negara ekuator, di mana Indonesia merupakan salah satunya.

Lebih jauh lagi, sebagai impacts of climate change, cepat atau lambat iklim dunia tidak lagi mendukung kehidupan sebagaimana kehidupan sekarang. Dalam kasus ini, ia memberikan analogi hulu dan hilir. Hilir sebagai dampak, dan hulu sebagai faktor penentu yang menentukan hilir atau dampak dari suatu permasalahan itu sendiri. Baginya, memprediksi bagaimana kelangsungan hidup sebagai dampak dari keterbatasan fosil, perubahan iklim, maupun dampak dari aksi 411 hanyalah hilir. Hal utama yang patut dipertimbangkan adalah hulu itu sendiri. Menurutnya, faktor penentu dalam mencegah maupun mengontrol permasalahan tersebut adalah kepemimpinan. Jika seandainya Indonesia sudah dapat mengatur hulu dengan baik, maka apapun hilir yang akan terjadi In shaa Allah tidak akan menjadi masalah yang besar.

Di akhir sesi, mantan ketua PPI Turki tahun 2014 ini memaparkan konsep perubahan mindset (Al-‘aqliyah) yang perlu menjadi inspirasi anak muda untuk dapat menjadi hulu. Yang pertama, generasi muda perlu untuk memiliki mindset sebagai perancang (Al-‘aqliyah al-handasah). Yang kedua adalah mindset pengubah (Al-‘aqliyah At-taghyir), di mana generasi muda harus memiliki semangat pergerakan. Selanjutnya, mindset penakluk (Al-‘aqliyah At-Tashkir), dimana generasi muda harus memiliki ghirah untuk dapat menaklukkan bidang-bidang yang ada. Yang terakhir adalah mindset innovator (Al-‘aqliyah Al-ibda), dimana generasi muda tidak boleh hanya merasa puas dengan sistem maupun segala hal yang ada, namun juga memiliki keinginan untuk terus memperbaiki melalui inovasi-inovasi yang dapat memberikan solusi.

Sebagai penutup, beliau mengingatkan para hadirin untuk jangan melawan zaman, tapi yakinlah menang dengan mengadopsi teknologi sekarang sebagai kendaraannya namun dengan tetap membawa semangat islam di dalamnya.

Sesi penyampaian materi berakhir pada pukul 22.10 malam dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang diberikan kepada 4 penanya pertama. Penanya pertama adalah saudara Rizki Amrillah, mahasiswa postgraduate-KIRKHS. Beliau meminta pandangan dari panelis mengenai dampak aksi 411 ke depannya. Saudara Arya memilih untuk tidak memberikan pandangannya karena beliau tidak berkenan menjawab sesuatu yang di luar kepakarannya, yakni politik internasional. Pertanyaan ke dua ditanyakan oleh saudara Fadli Zarli, mahasiswa undergraduate-KIRKHS. Beliau menanyakan bagaimana membawa kemajuan tanpa membuat langkah yang terlalu futuristik. Selanjutnya, panelis memberikan pandangannya bahwa cara yang paling tepat adalah dengan membuat langkah pendek dan realistis. Beliau bercerita pengalamannya ketika masih duduk di bangku perkuliahan. Ketika itu, tidak sedikit dari temannya yang lebih memilih pasif di organisasi untuk dapat fokus pada bidang mereka dengan harapan bisa memberikan kontribusi nyata di masa yang akan datang ketika mereka sudah sukses. Namun kenyataannya, sebagian besar dari mereka justru juga tidak melakukan apa-apa di masa yang akan datang. Sehingga ia menyebut, jika terlalu futuristic akan rugi dua kali.

Setelah selesai dengan dua penanya dari teman-teman ikhwan, dua pertanyaan berikutnya diberikan kepada teman-teman akhwat. Penanya pertama adalah saudari Fadhilah Assa’adah, mahasiswi undergraduate KIRKHS. Pertanyaan kedua disampaikan oleh saudari Qoriatul Hasanah, mahasiswa postgraduate KIRKHS. Mahasiswi asal Padang ini menanyakan kepada panelis, apakah ada usaha dari bangsa Tionghoa untuk menguasai Indonesia.

Pemerhati politik internasional itu menjawab bahwa usaha-usaha tersebut pastilah ada sebagaimana yang telah ia jelaskan sebelumnya. Ia mengajak, tugas kita sebagai generasi muda adalah menyiapkan segala yang ada. Generasi muda Indonesia harus mempersiapkan yang terbaik bagi negeri ini dari latar belakang masing-masing. Ia memberikan perandaian, jika seandainya terjadi perang dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, apakah sektor keilmuan kita sudah siap. Jika mahasiswa politik maka harus berpikir apakah kebijakan politik dan kerjasama internasional Indonesia sudah cukup matang untuk terlibat dalam peperangan. Mahasiswa ekonomi harus mempersiapkan apakah pertumbuhan dan stabilitas ekonomi Indonesia siap jika seandainya kita terlibat peperangan. Begitu juga dengan berbagai sector keilmuan yang lain. Baginya, hal ini sangatlah penting sebagai upaya optimalisasi bonus demografi yang sekarang sedang terjadi di Indonesia. Di mana generasi muda Indonesia harus dipersiapkan sebaik-baiknya.

Acara yang kemudian ditutup oleh pembawa acara pada pukul  22.35, diakhiri oleh sebuah pertanyaan oleh moderator. “Siapkah kita sebagai bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa penerus?” Mari kita renungkan bersama dan tanya kepada diri kita masing2.

Penulis: M. Fathudzikri Aulia

Arya Sandhiyudha menyampaikan paparannya Jumat tanggal 11 November 2016, Forum Tarbiyah (FOTAR) dan Persatuan Pelajar Indonesia IIUM be...

2 komentar:

  1. rinci bingit ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga kita dapat mengambil ilmu dari beliau :)

      Hapus