P E R U B A H A N

Agustus 05, 2016 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Perubahan adalah keniscayaan ~

Perubahan adalah sesuatu yang niscaya. Sesuatu yang pasti terjadi. Setiap hari, setiap jam, menit bahkan detik. Dan sadar atau tidak, dalam hidup kita kerap kali menegasikan dan menyalahkan perubahan. Contohnya saja dalam kehidupan sehari-hari, ketika bertemu teman lama, tidak jarang kalimat-kalimat seperti "ihh, kamu ngga berubah ya.. Dari dulu sampai sekarang masih gini-gini aja" atau "kamu berubah ya sekarang, aku lebih suka sama kamu yang dulu." terdengar atau malah terucap oleh kita. Huft, serasa pengen nyanyiin lagunya tegar aja ~ aku yang dulu bukanlah yang sekarang~


Begitulah kita sebagai manusia. (Hakikatnya) selalu mengalami perubahan. We keep on changing. Baik itu perubahan dari segi fisik, mental, akal atau bahkan keimanan. Dan diantara organ tubuh yang rentan untuk selalu berubah adalah hati. Hati adalah sumber segala perubahan, dalam hal baik ataupun buruk.

Rasulullah SAW bersabda; "Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Oleh karenanya, Rasulullah menyarankan kita untuk selalu berdo'a, yaitu; "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” [HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525]. “Wahai Dzat yg membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” [HR. Muslim (no. 2654)].

Tapi, disamping semua pembahasan diatas, ada satu hal yang perlu dijadikan catatan penting, yaitu tidak ada perubahan yang instan. Karena seinstan-instan-nya mie instan, dia tetap melalui beberapa proses perubahan, jadi tetap saja,ngga instan.

Oleh karena itu, perubahan akan sangat identik dengan pembiasaan diri terhadap sesuatu. Seperti pepatah yang mengatakan "Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa". Iya, hampir segala hal yang 'bisa' kita lakukan saat ini, tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses pembiasan yang tidak jarang diawali dengan paksaan. Baik itu paksaan dari orang lain, keadaan, maupun dari dalam diri sendiri.

"Kadang, kebaikan harus dipaksakan" begitu kata banyak orang.

Tepat sekali! Kita perlu 'usaha' dan 'paksaan' yang lebih banyak dan kuat untuk mewujudkan suatu kebaikan. Karena ketika kita melakukan kebaikan, banyak pasukan yang mati-matian menghadang kita supaya tidak melakukannya. Sebut saja mereka syeitan dan hawa nafsu. Tidak seperti saat ingin berbuat buruk, ia sangat mudah dibiasakan karena pasukan-pasukan tadi akan berbalik menyokong dan menyemangati kita. Sehingga tanpa usaha yang berartipun bisa di'biasakan'. Contohnya seperti tidur kesiangan, melalaikan shalat,bermalas-malasan, dan hal-hal buruk lainnya.

Allah berfirman; "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad ayat 11)

Merujuk kepada ayat diatas, maka yang harus kita lakukan adalah mengerahkan usaha semaksimal mungkin agar hati kita tetap kokoh berjalan menapaki jalanNya yang lurus dan agar perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri kita masih dalam kategori 'kebaikan'. Bagaimana caranya? Sangat banyak,sebenarnya. Salah duanya adalah menyibukkan diri dalam perkara-perkara yang baik (jika tidak dengan kebaikan, pasti kita akan disibukkan dengan keburukan,dan akan selalu begitu) dan berteman dengan mereka yang senantiasa mengingatkan kita kepada kebaikan, mengingatkan kita pada Allah.

Sekian dan salam perubahan!!

Penulis : Shofia Shabrina

Perubahan adalah keniscayaan ~ Perubahan adalah sesuatu yang niscaya. Sesuatu yang pasti terjadi. Setiap hari, setiap jam, menit bahkan...

0 Komentar: