Debu di Wajah Kemusliman Kita

Mei 01, 2016 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Sudahkah kita amalkan islam?

Mencintai ilmu, baik punya atau tidak adalah mata air kebajikan. Adam di ciptakan, lalu dibekali ilmu, yang membuatnya unggul di hadapan para malaikat. Wahyu pertama diturunkan terkait ilmu “iqra’” -bacalah-. Allah memerintahkan Ia ditauhidkan dengan ilmu. 

Dan alhamdulillah, untuk alasan yang sama kita sekarang disini, mengembara ke negeri tetangga demi mengikuti jejak kaki para pewaris Nabi; demi ilmu. Kadang kita fasih bicara, tapi gagap beramal. Maka bakda ilmu, iman dan amal shalih, hidup adalah tentang saling mendoakan dan mengingatkan,dan (semoga) dengan tulisan ini salah satunya.

Salah satu hal yang kita dianjurkan untuk berdoa agar ditambah, adalah “Allahumma zidni ‘ilma” –Ya Allah tambahlah ilmu ku-. Karena dengan bertambahnya ilmu akan bertambah pula wawasan, dengan bertambahannya wawasan maka bertambah kompetensi, dengan bertambahnya kompetensi maka bertambah peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, dengan pekerjaan yang baik inshallah terbuka pintu-pintu rejeki, kemudian kita lanjutkan pinta pada-Nya dengan keberkahan pada rezki “wa barakatan fi arrizki”. 

Namun, acap kali kita gagah secara akademis, tapi gagap secara aplikasi. Kadang spirit dan nilai yang sebenarnya dicita-citakan Islam dalam kewajiban menuntut ilmu oleh seorang muslim belum dapat kita fahami seutuhnya. Lalu dengan ilmu dan amal yang pincang ini kita memproklamirkan diri pada dunia sebagai sarjana khususnya, muslim secara umumnya.

Jika seorang pujangga berucap bahwa “kata adalah sepotong hati”, bolehlah disini kita inovasikan menjadi “penampilan adalah sepotong ilmu”. Sambil berkaca dan menatap wajah kita yang berdebu, ada baiknya sesekali kita bertanya pada bayangan yang terpantul itu “sedalam apa ilmu kita? Lalu sedangkal apa amal kita?”

Contohnya saja; berapakali dalam sehari kita benar-benar menghentikan aktivitas demi menyambut, mendahulukan panggilan kemenangan dari-Nya daripada yang lain “hayya ‘alal falah”? Setiap hari, rating ‘fashion trends’ jauh cepat melaju lebih unggul meninggalkan ‘busana islami’ yang terseok-seok dalam laqab kekunoan yang ditempelkan padanya. 

Mungkin kita lebih memilih kiblat dalam berpenampilan yang berlainan yang lebih menarik dan penuh estetika daripada berkiblat pada nilai-nilai yang termaktub dalam kalam Sang Pencipta dan Rasul-Nya yang memang adanya pada lembar-lembar tebal dan usang disudut ruang kamar atau rak-rak perpustakaan. 

Jangankan berkiblat padanya, membacanya saja kita tidak ada waktu, kita sangat sibuk rupanya. Dan akhirnya, sesuatu yang menjadikan kita saat ini meninggalkan keluarga, sesuatu yang membuat kita terus terjaga pada setiap malam, sesuatu yang mengharuskan kita berletih-letih, ternyata sesuatu itu tidak lebih berharga bagi kita kecuali untuk segera meraih gelar sarjana. 

Kita lupa bahwa ilmu itu harus dicari karena dengan itu kita dapat mentaati-Nya dengan cara terbaik. Kita mencari ilmu agar ada yang kita beri untuk negeri apapun spesialisasi kita. Mungkin begitulah wajah ke Islaman kita hari ini. Ternyata debu diwajah amal kita tak lebih tipis dari debu yang menempel di kursi-kursi terminal yang kita sendiri merasa enggan duduk disana.

Kadang kita lebih tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang menarik. Kita kerapkali lebih senang pada yang menarik, walau tidak benar. Tapi dalam Islam, ‘menarik’ dan ‘benar’ tidak harus selalu berseberangan. Bahkan sebagai muslim sejatinya kita dituntut untuk terus berinovasi menjadikan kebenaran itu menarik. 

Di luar zona yang memang telah Allah bekukan, kita mestinya menjadi muslim abad 21 yang super kreatif mentransformasikan lembar-lembar kalam-Nya menjadi sesuatu yang aroma dan kelezatannya dapat dirasakan siapa saja. Agar kita, keluarga kita, teman-teman kita, lingkungan kita dan semua keluarga besar muslim tahu, yakin dan percaya diri bahwa kita adalah makhluk yang paling beruntung dengan ke-Islam-an kita.

Kita adalah manusia yang paling berbahagia dengan panduan dari langit yang menjadi life style kita. Tapi Islam juga memberikan batasan agar kreatifitas ini tidak semena-mena, liar, lalu mendobrak substansi aturan main-Nya. 

Seperti kaifiyyah dalam berpenampilan, sama sekali tidak tersurat dengan nyata baik dalam Al-qur’an maupun As-Sunnah. Mau menggunakan baju koko, kemeja, baju kaos, jaket, semuanya bebas. Asalkan masih dalam koridor-Nya dan sesuai tempatnya. 

Sama halnya juga dengan abaya untuk muslimah, tidak terikat harus yang seperti itu sebenarnya. Kalau memang ingin menggunakan cardigan, kaftan, kemeja, blazer, gamis, pashmina, jilbab paris, bergo atau lain-lain, itu bebas. Mau diputar kekiri, kekanan, kebelakang, tidak dilarang. Selama kita masih menjaga dan tunduk pada batasan-batasan-Nya; tidak transparan, tidak ketat dan jilbab yang terjulur menutupi dada, itu yang penting. 

Tunduk itu yang harus kita usahakan. Bukan karna kita suka style tertentu, lantas kita boleh excuse dari ketetapan-Nya. Diantara sekian banyak tutorial untuk menjadi cantik, Ia hanya mensyaratkan; tidak transparan, tidak ketat dan jilbab yang terhulur menutupi dada. 

Menutup aurat adalah ibadah. Ibadah itu mengharuskan ketundukan, sepenuhnya. Apapun jenisnya. Sebab ibadah itu, tidak lain memang merupakan ketundukkan dan kepasrahan secara total seorang hamba kepada penciptanya. Dan kita pun mungkin maha tahu atas apa yang akan kita dapati jika undang-undang-Nya dilanggar dengan sengaja. 

Inilah karakter. 

Bagaimana kita dituntut untuk mempertahankan karakter kemusliman kita di tengah flamboyannya dunia dengan trends yang terus ber-revolusi. Kreativitas, sungguh ia salah satu sendi beragama. Kreativitas baik; olahan akal, alaman rasa, dan susunan kata, bisa menjadi ibadah berharga. Agama ini memberi ruang luas untuk berpendapat dan berkreativitas, selama ia berkenan berdiskusi dengan wahyu dan nurani; dari urusan paling remeh hingga yang amat serius. 

“Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.” - Timothy Wibowo. 

Wallahu’alam.

Penulis : Qoriatul Hasanah

Sudahkah kita amalkan islam? Mencintai ilmu, baik punya atau tidak adalah mata air kebajikan. Adam di ciptakan, lalu dibekali ilmu, yan...

0 Komentar: