Taat Penuh dan Taat Tanya

September 13, 2015 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Bertanya, bijak...

Ketika misalnya, sang guru memerintahkan muridnya untuk melakukan sesuatu, tanpa disertai penjelasan, hingga akhirnya sang murid bertanya, mengapa ia harus melakukan itu, apakah itu salah?

Atau saat sang prajurit mendapat titah dari komandannya untuk melaksanakan satu perintah, lagi, tanpa dibarengi dengan keterangan apapun, lantas sang prajurit bertanya, mengapa saya harus mengerjakan ini, apakah dia salah?

Sudahlah, jalankan saja. Tidak perlu banyak tanya.

Atau satu kali, sang ibu menyuruh anaknya untuk mengerjakan satu hal, hanya berbekal perintah, kerjakan ini, dan jangan banyak tanya! Ketika akhirnya sang anak tidak mau mengerjakan perintah sampai tahu alasan mengapa dia harus mengerjakan perintah, apakah ia layak disebut pembantah? Bandel?

Ketaatan jundi pada qiyadah (deuuh, bahasanya), benarkah selalunya dalam bingkai ketaatan penuh? Ketaatan penuh yang bercirikan patuh mengerjakan apa yang telah diperintahkan tanpa banyak tanya. Tanpa perlu tahu alasan mengapa ia harus melakukan itu. Apakah begini ciri seorang jundi yang baik? Jika iya, maka ini bisa menumbuhkan sebuah penyakit yang disebut taqlidul a’ma (ketaatan buta).

Jiwa kritis sang murid/prajurit/anak dibabat habis dengan satu kalimat perintah; “lakukan saja, jangan banyak tanya”. Ketaatan buta akan melahirkan fanatisme. Yang berbahaya adalah ketika fanatisme ini akhirnya membutakan mata hati, tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, terhadap apapun yang diperintahkan/dilakukan atasannya. Maka kemudian muncullah pengkultusan Atasan. 

Satu ucapan dari guru saya  yang begitu membekas hingga sekarang, “to be critical is to try to understand the world. To understand is to find reasons why things are the way they are" (prof. Yedullah kazmi). Kembali kepada contoh diatas, tentu kita tidak ingin di cap sebagai pembantah. Tapi di satu sisi kita juga ingin mengetahui, mengapa kita harus melakukan perintah itu (taat).

Ahh, sepertinya kita juga harus tahu ya, kapan saatnya untuk taat penuh, tanpa ba bi bu, dan kapan waktunya kita bertanya kenapa. Lihat situasi & kondisi. Lihat lagi seberapa penting instruksi yang diberi. Terlebih lagi, lihat seberapa penting pertanyaan kita untuk diluncurkan. 

Kepada para pemegang otoritas, ketika misalnya anda menemukan bawahan atau anggota anda seperti ini, harap jangan langsung di cap pembangkang. Dia hanya sedang mencoba untuk memahami. Karna ia termasuk orang yang tidak akan melakukan sesuatu, hingga ia mengerti mengapa atau apa yang akan dilakukannya itu. Dan ketika ia sudah paham, maka totalitas-lah yang akan keluar dari dirinya.

Dan untuk sang eksekutor, sang penerima serta pelaku komando , kiranya kita juga harus tau diri, kapan saatnya boleh bertanya, dan kapan saatnya ketaatan penuh harus diberikan, ketika menerima satu perintah/arahan/instruksi/dsj. Kita tentu tidak ingin menjadi seperti bani israil kan? yang gara-gara suka (atau malah banyak) bertanya ketika diperintah Nabi Musa untuk mencari sapi, yang akhirnya malah bikin susah sendiri. 

Mari jadi orang yang lebih bijak~

Penulis: Ratih Febrian

Bertanya, bijak... Ketika misalnya, sang guru memerintahkan muridnya untuk melakukan sesuatu, tanpa disertai penjelasan, hingga akh...

0 Komentar: