Pengorbanan

September 27, 2015 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Pengorbanan...
Dalam ilmu kimia ada satu teori yang cukup terkenal, Teori Kekekalan Massa. Kira-kira bunyinya seperti ini, "tidak bisa kita menciptakan sesuatu tanpa mengorbankan sesuatu juga". Untuk menciptakan sesuatu, kita harus korbankan sesuatu yang nilainya setara dengan apa yang akan kita ciptakan.

Contoh gampangnya: kalau hidrogen dan oksigen dibentuk dari 36 gram air, maka bila reaksi berlangsung hingga seluruh air habis, akan diperoleh massa campuran produk hidrogen dan oksigen sebesar 36 gram juga. Bila reaksi masih menyisakan air, maka massa campuran hidrogen, oksigen dan air yang tidak bereaksi tetap sebesar 36 gram.

Ribet ya? Saya bikin contoh lain. Gampangnya gini: kita ngga bisa menciptakan surga yang nikmatnya tak terbatas. Kalo sesuatu yang kita korbankan sekarang cuma sekadar ibadah seadanya dan bertaqwa sesempatnya. Intinya kita cuma perlu meningkatkan ibadah kita dari sekarang agar pengorbanan kita layak dihadiahi surga. Titik.

Kedengarannya gampang banget ya “cuma perlu meningkatkan ibadah”. Sayangnya untuk ngelaksanainnya kita harus sampe jungkir balik susah payah.

Saya selalu ada satu keinginan khusus.. Saya pingin jadi Muslim yang paling rendah, Muslim yang paling dasar ibadahnya, yaa yang kalo solat cukup 5 waktu aja di masjidnya. Cukup solat Dhuha 2 rakaat setiap pagi. Puasanya yang seminggu dua kali aja. Yang bangun sendiri tanpa perlu alarm di sepertiga malam, yang menyisihkan sebagian uang jajannya untuk bersedekah, yang kalo senggang bisa langsung membaca qur'an karna selalu menjaga wudhu, udah gitu aja. Ibadah-ibadah yang dasar dan umum.

Namun kadang masih terasa berat untuk melakukannya. Biasanya akan dibarengi dengan mencari-cari alasan demi meng-comfort diri sendiri. Dalih seperti sibuk kuliah dan lelah, biasanya jadi favorit untuk menunda-nunda. Kenapa?

Mungkin karna kita selama ini berpikir bahwa semua ibadah ini adalah sebuah perintah yang hukumnya wajib dijalankan, bukan karna sebuah kebutuhan. Dengan kata lain masih ada unsur keterpaksaan dalam menjalaninya. 

Misal, kalau ketika bangun Subuh kita masih sedikit mengeluh karna masih ngantuk, atau ketika kita berpuasa masih terucap keluhan akan lapar, atau bahkan ketika akan membaca Qur'an masih terasa malas. Kalau kita masih merasakan hal tersebut, mungkinkah benar karna kita masih terpaksa dalam beribadah? Karna belum ikhlas? Kalo iya terus gimana dong caranya biar bisa ikhlas dalam beribadah?

Padahal aslinya iman itu manis loh… Padahal bisa kita beribadah tanpa terpaksa dan sekaligus merasakan nikmatnya, tapi gimana caranya?

Dalam salah satu hadits yg diriwayatkna oleh Imam Bukhari, Rasulullah bersabda : Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:
  1. Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. 
  2. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah semata. 
  3. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.
Coba dibaca sekali lagi hadits tersebut. Adakah satu hal di atas yang kita luput untuk lakukan? Apakah prioritas kita akan Allah dan Nabi Muhammad masih sering kita duakan dengan hal-hal duniawi? Apakah kita sudah jijik dan takut terhadap kekufuran sama dengan takutnya kita akan api neraka? Ataukah karna kita memiliki perasaan akan seseorang namun bukan ridho Allah sebagai alasannya?

Hayuk mulai sedikit-sedikit berkorban lebih.

Penulis: Muhammad R. Baihaqi

Pengorbanan... Dalam ilmu kimia ada satu teori yang cukup terkenal, Teori Kekekalan Massa . Kira-kira bunyinya seperti ini, "...

0 Komentar: