Sepaket Janji #2

Mei 04, 2015 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Bagaimana nasib Erima?
Sebelumnya: bagian 1

“Kak Disha, sudah tau ke belum? Rima ditangkap polis Johor sekarang, saya pening la ni tak tau nak buat apa. Saya tak nak makan, tak nak mandi, tak nak buat ape-ape. Saya just nak jumpa Erima”. Adu Morten berputus asa. Aku tidak bisa berbuat banyak untuknya, yang harus kulakukan sekarang hanya mencari informasi. Dimanakah Erima? Bagaimana aku membantunya?

Morten, bagaikan obat bahkan melebihi takarannya, selalu meneleponku lebih dari tiga kali sehari. Dia mengabarkan bahwa Erima di Kota Tinggi Johor dalam keadaan sehat namun tanpa harta apapun karena semua sudah tenggelam. Dia sekarang berada di penjara.

Aku segera menghubungi perwakilan Indonesia di Johor. Mereka menjelaskan proses hukum dan kepulangan setiap Tenaga Kerja Indonesia yang berstatus ilegal. Usut punya usut, kisah kezaliman berulang, agen yang mengurusi Erima kabur membawa uang dan paspor puluhan TKI termasuk milik Erima. Ibunda disana tak henti memohon agar Erima segera pulang, namun lagi lagi aku hanya meminta maaf. “Kami sedang berusaha, mohon didoakan terus ya Ibu”. Kata-kata itu yang sekian kali terulang yang kuharap Ibunda Erima tidak bosan mendengarnya. Morten memintaku ikut ke Johor, namun aku menolak. Setelah dimarahi habis-habisan oleh Ibuku karena dipikirnya aku sudah ikut campur terlalu jauh, akhirnya aku hanya bisa meminta maaf lagi.

Morten selalu mengantarkan pakaian dan makanan untuk Erima. Tulus sekali memang, entah berapa ribu ringgit dikeluarkannya untuk membahagiakan Erima. Kabar angin berhembus, Erima akan dikeluarkan dari penjara akhir bulan ini. Kutunggu waktu itu, ternyata nihil. Erima belum keluar dan dijadwalkan bulan depan, katanya. Tanpa handphone ditangannya, aku hanya bisa menunggu kabar dari Morten sambil memohon doa dari keluarga Erima di Tegal.

Sebulan berlalu, Erima akhirnya dipulangkan. Segala puji bagiMu ya Allah yang telah menanamkan kesabaran di hati-hati para penunggu. Aku segera mengabarkan keluarga Erima dan suara Ibundanya di telepon berbalas bahagia.

Dua hari setelah kepulangan, Morten menangis. Dia mengadukan bahwa Erima sudah punya kekasih baru, seperti yang dilihatnya di Facebook kala itu. Sehari setelahnya, Erima mengirim pesan bahwa dia sangat berterima kasih dan bercerita tentang perjodohan orangtuanya. Aku hanya menghela napas ketika Erima menyebut Morten jahat setelah berjuta kebaikan diberikan untuknya. “Rima, perbaiki hubunganmu dengan Morten, dia tulus mencintaimu. Kemudian, tinggalkan masa lalumu setelah pergi dan indahkan masa depanmu di negrimu sendiri, bukan disini”.

Sketsa perjalanan ini kusimpan rapi di album memori. Suatu hari pasti akan kubuka kembali jika rasa lelah tak henti bergulat dengan hidup. Nikmat mana lagi yang aku dustakan, Duhai Tuhan yang tanpa-Nya aku bukan apa?

Ini kisahku di negri tetangga, ucapku syukur karena Allah memberiku jutaan senyum tanpa tangis. Tersempil pertanyaan mengharap hikmah “Kuatkah aku jika menjadi Erima?” Mungkin, diri ini tidak sekuatnya.

**********
Hidup hadir untuk diratapi ketika harapan manusia tidak berbalas nyata, tetapi hidup juga lahir untuk tidak disyukuri ketika Tuhan menitipkan nikmat-Nya. Mengapa harus ada derita dan bahagia? Untuk kita yang bertanya, sepaket janji milik Tuhan itu mutlak. Dia tiada pernah mengingkari, ingatlah bahwa manusia sendiri yang mendzholimi, bukan Tuhannya.

Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi , “Dan kami pasti akan menguji kalian dengan ketakutan, kelaparan dan merasa kehilangan harta, jiwa dan makanan. Dan beritakanlah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar” (Q.S. 2: 155)

Sudahkah kita beriman?

Derita dan masalah bagi orang beriman adalah lahan baginya untuk menunjukkan keimanan dan ketaatannya kepada sang Khaliq. Allah SWT berfirman, “Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah mereka berkata, ‘Sesunguhnya kami milik Allah dan hanya kepadaNya kami kembali’. Mereka itulah yang mendapatkan kesejahteraan dan kasih sayang dari Tuhannya dan mereka itulah yang telah mendapatkan petunjuk”. (Q.S. 2: 156).

Lalu bagaimana kita menyikapi dan melewati butir atau mungkin gunung masalah?

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Alangkah mengagumkannya sifat orang beriman itu, tidak ada satu pun takdir Allah yang ia jalani kecuali kebaikan bagi dirinya. Jika ia dianugerahi nikmat ia bersyukur, dan itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Dan jika ia ditimpa musibah ia bersabar, dan itu merupakan kebaikan bagi dirinya.”

Kapan ianya akan berakhir?

Allah tidak membiarkan begitu saja manusia dengan masalahnya karena masalah sesungguhnya bersahabat hangat dengan solusi. Inilah sepaket janji yang tidak akan teringkari,

“Maka sesunguhnya di setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan”. (Q.S. 94: 5).

Namun, ikutilah syaratnya tanpa seenak hati menanti solusi atau sibuk menghardik takdir diri, karena “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka mau berusaha merubahnya sendiri”. (Q.S. 13: 11).

Dan Allah telah menjadikan dua hal penting sebagai sarana untuk mencapai solusi dari setiap masalah yang dihadapi. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesunguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar”. (Q.S. 2: 153).

Jalanmu ditunjukanNya menghadap harap, bukan hanya harapmu malainkan juga harap Tuhanmu. Adalah tidak mudah rukun iman ke enam, namun bersabaralah, dan kabar gembiraNya menjadi hakmu. Ingatlah, bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

Penulis: Faradesha

Bagaimana nasib Erima? Sebelumnya: bagian 1 “Kak Disha, sudah tau ke belum? Rima ditangkap polis Johor sekarang, saya pening la...

0 Komentar: